Roro: Dan Pemegang Buku Neraka Terakhir

Roro: Dan Pemegang Buku Neraka Terakhir
Episode 2.2


__ADS_3

****


Malam hari....


Tak terasa wanita berkacamata itu tinggal di dunia manusia modern. Ia berjalan santai di trotoar dengan pemadaman lampu di setiap bangunan. Inilah yang ia mau sekarang, mengingat di hari pertama menapak bumi serba canggih Roro mengalami syok. Malam serasa siang. Bumi seolah menyembah matahari tiada henti.


Kemudian, jalanan gelap yang Roro lalui berubah merah. Semua merah pekat. Beberapa bangunan menampilkan berita teror di puing-puing istana. Roro berhenti sebentar untuk simak layar hologram tersebut.


"Ratusan jiwa tewas dengan gejala kejang-kejang?" Roro membaca linimasa berita dengan kerutan di dahi. "Hasil otopsi korban diduga bunuh diri? Sehingga kawasan tersebut di bawah pengawasan militer veteran untuk menangkap pelaku, eh?"


Wanita berpakaian blouse dan rok sepan kelabu kembali lakukan perjalanan. Persetan ribuan orang bersorak pada berita tadi. Tepat saat jemari rampingnya mencopot ikat rambut dan kacamata, ada pemandangan sekumpulan remaja tengah tertawa.


"Ayo, kita ke sana."

__ADS_1


"Kuy! Siapa tau kita dapat duit kalau bisa tangkap pelakunya." Mereka ada lima orang, tergelak keras kemudian berlari riang. Dalam benak Roro, remaja tadi pasti para perundung Rara.


"Menarik sekali." Hujan mendadak deras sekali sepeninggalan Roro. Semua warga mengeluh. Kenapa harus ada hujan yang mengotori kota? Bahkan seseorang menyalahkan alat penangkal hujan. Hah, sungguh angkuh mereka. Bisa saja Tuhan maunya bumi dilanda hujan, pikir Roro yang terus ikuti mereka.


Memakan waktu cukup lama untuk sekadar menguntit, kumpulan remaja itu berhenti di sebuah tempat rongkosan. Aw, melihatnya pun Roro merasa jijik. Namun demi tak ketahuan, ia rela berdiri di puncak tumpukan mobil dari tahun ke tahun. Roro menyayangkan kendaraan roda empat ini. Masih bagus. Montir dan pecinta otomotif pasti menganggap mobil jadul ini sebagai harta karun paling indah.


Tidak! Roro menggeleng cepat disertai desis kesal. Tak seharusnya ia berpikir demikian. "Kenapa mereka kumpul di sini? Katanya mau cari pelaku di puing-puing istana."


"Sialan, Rara masih sanggup hidup lagi," kata perempuan berjaket merah marun. "Harusnya dia mati."


"Pisau laser kayaknya menarik tuh." Satu lagi remaja tertawa girang. "Bisa bikin lego dari dia."


"Menyebalkan...." Tatapan Roro pada mereka semakin tajam, semakin dingin. Ia berjongkok perlahan dengan ujung jari menyentuh permukaan mobil. Dalam hitungan detik, terlihat debu mengambang bak bulir air. Tak hanya itu, para remaja di depan sana mulai jatuh dan mengap-mengap.

__ADS_1


"Nikmati rencanamu."


...****************...


Ingatannya berputar pada momen ketika ketenangan Roro musti lenyap karena dobrakan pintu bertubi-tubi. Ia baru saja selesaikan satu perkara. Masih ada puluhan lembar dokumen yang wajib diselesaikan dalam waktu dekat.


"Nyi gusti! Buka pintunya!"


"Kami ingin melapor!"


"Buka pintunya! Kami mau bicara!"


Dan seruan lainnya yang tak kalah lantang. Kebanyakan pria, sebab yang ia dengar para perempuan dan anak-anak lebih memilih menangis histeris. Itu cukup----SANGAT mengganggunya, sampai kuas yang biasa dipakai menulis pun patah oleh tangan kosong.

__ADS_1


"CUKUP!" Roro yang saat itu mengenakan kebaya hijau dan perhiasan emas di sekitar rambutnya langsung berdiri menggebrak meja. Gebrakan tersebut mampu terbangkan kertas-kertas, helai kain batik yang menjuntai ke lantai, dan membanting pintu hingga keluar. Tak ada lagi sorakan seperti ingin melawan. Tangisan menyebalkan pun lenyap. Tatapan murka tercetak jelas di iris zamrud Roro yang menggelap perhatikan sekitar ruangan pribadinya.


__ADS_2