
Mau sekuat apapun Roro, kematian tak dapat dihindar. Otot sang pemuda semakin lemah. Warna hitam di bola matanya terus menghilang hingga embusan terakhir meninggalkan hawa panas di tubuhnya yang perlahan membiru. Aliran darah juga berhenti.
Roro terkesiap. Air di sekitar perut mayat menghilang menjadi uap hangat. Ia tak bisa menyelamatkan orang yang kematiannya sudah dekat. Dia meninggalkan isi tas yang cahaya merahnya kian pekat dan menyilaukan. Kitab itu pasti di sana, pikirnya kala tengok cahaya merah. Ia berniat ambil kitab neraka di dalam tas lecek tersiram air laut, tapi keanehan menyelimutinya. Ada hawa panas bila bersentuhan dengan cahaya merah. Lantas kerutan terpatri jelas di dahi. Apakah kitab neraka seberbahaya itu? Padahal tas tersebut sama basah kuyupnya dengan ksang empunya, tapi panas yang Roro rasakan melampaui terik matahari kemarau di gurun.
Terlintas ide di benaknya. Cobalah selimuti tangan dengan air hasil kekuatannya, kemudian kembali ambil kitab neraka. Masih terasa panas, tapi tak separah tadi. Ia berhasil mengambil sebuah buku bersampul kertas payung cokelat. Buku ini kering. Panas karena sebutan 'kitab neraka' mungkin salah satu alasannya. Memegang benda keramat kadang kuras kekuatan dengan boros. Ia merasakan tubuhnya lemah.
Baik ia kembali ke ruang singgsana. Roro letakkan buku di meja kerjanya-----tentu melapisi meja itu dengan kekuatannya lagi. Sembari buat gelembung pemanggil, Roro menerka-nerka. Kitab neraka masih hidup, tapi pemiliknya telah wafat. Para peramal bilang belum temukan cara lain bila orangnya mati.
Apa ini akhirnya? Bila benar, kenyataan ini sungguh merenggut seluruh energi dalam raga Roro.
"Anda memanggil kami tepat waktu, Nyi Gusti Roro." Puluhan sosok berjubah putih berdiri di hadapannya. salah satunya bawa pria tua renta.
__ADS_1
"Kenapa kau bawa dia?" tanya Roro memandang tak minat.
"Orang ini merupakan salah satu penjaga ruang siksaan di neraka, Nyi Gusti," jawabnya melerai genggaman di legna kurus pria tua. "Juga pencipta kitab neraka. Kehadirannya sangat sukar ditemukan, bahkan kami hampir bilang mustahil melihatnya."
"Mengejutkan...." Roro semakin tak minat. Ia bertopang dagu guna memandang pria tua alias penjaga siksaan dengan terkesan minat. "Apa kau punya cara lain untuk membuka kitab neraka?"
Dia malah tertawa sinis. Iya, menurut Roro begitu. Dia berkata sembari dekati buku bercahaya merah. "Aku tak menyangka kau punya kekuatan sebesar itu. Menyelimuti meja dengan airmu. Membalut tangan dengan kekuatanmu selama menggenggam kitabnya. Kua punya pikiran cemerlang."
"Baiklah-baiklah." Dia masih tertawa. Apanya yang lucu? "Apa kau menyerah karena kitab itu tak berguna setelah pemiliknya mati?"
Roro tak menjawab selain tatapan yang semakin tajam mengintimidasi.
__ADS_1
"Sebenarnya cara ini sangat umum, tapi kalian seperti terpaku dengan pemilik asli," katanya tetap amati pustaka setebal buku catatan biasa. "Bila pemiliknya mati, tinggal cari penggantinya."
Andai Roro tahu siapa penggantinya, ia sudah-----
"Tapi, pengganti pemilik kitab neraka harus turun-temurun dan memiliki ketakutan yang sama dengannya," sambungnya balik badan. "Kau bisa cari adiknya, ibunya, ayahnya, atau siapapun. Asal masih memiliki ikatan darah yang sama dan ketakutan serupa."
Ikatan darah yang sama? Punya ketakutan serupa? "Beri aku petunjuk yang lebih jelas. Aku hanya menemukan pemilik kitab neraka tanpa tanya kerabat terdekatnya."
"Tidak, dia yang memberitahumu sendiri, Roro." Sejenak dia berhenti melangkah. "Ingalah betul-betul."
Sesaat, pria tua itu melihat dalam sekali kedip. Pikiran Roro berkecamuk. Apa pemuda tadi pernah sebut-sebut seseorang? Butuh waktu lama hingga akhirnya Roro temukan sesuatu dalam kilas balik.
__ADS_1
Dia menyebut nama Rara. Roro harus temukan orang bernama Rara. []