Roro: Dan Pemegang Buku Neraka Terakhir

Roro: Dan Pemegang Buku Neraka Terakhir
Episode 3.1


__ADS_3

Manusia telah menguasai wilayahnya. Roro termakan ucapannya sendiri. Mereka pengkhianat. Kiamat bagi dirinya segera datang. Sudah cukup pemandangan mengerikan ini mengungkap kebenaran rakyat gaib. Perang di laut hanya merenggut banyak nyawa, sekaligus mengotori kesucian wilayah Roro..


Ia takkan pernah memaafkannya.


Tembakan saling serang-menyerang. Mereka tak kenal yang namanya kedamaian. Mereka hanya kenal menang. Dan orang-orang sepert itu tak dapat membedakan mana para pendosa mana para penduduk tak berdosa. Kapal yang jauh lebih besar dilalap monster biru akibat tembakan kapal perang. Roro harus selamatkan manusia itu, andai sumber kekuatannya tak tercemar cairan haram berbau besi karat.


Lantas, bagaimana caranya Roro melakukan kebajikan jika kekuatannya saja terkunci karena ulah manusia?


"Tolong...." Suara. Telinga Roro berhiaskan tindik emas bentuk percikan air itu menangkap rintihan seseorang. Matanya terpejam pun batin bertanya-tanya. Di mana kau? Tunjukkan wujudmu. Berikanlah Roro petunjuk, wahai manusia. Pikiran Roro berkelana lebih jauh. Sekumpulan manusia yang berusaha selamatkan diri. Bukan. Para tentara yang meringkuk kena serangan panik. Bukan. Katakanlah, di mana dia berada?


"Tolong." Ketemu! Alam bawah sadar Roro menjumpai seorang pemuda yang terbaring menangkup perutnya. Darah terus merembes dari sela-sela jari. Sepintas mata hitam itu memandang aneh.

__ADS_1


"Aku bisa melihatmu sekarang, eh...."


Spontan Roro membelalak. Sungguh ucapan tak etis. Mengapa dia bicara demikian? Kini setetes warna merah memperkeruh iris matanya. Saat itu pula, Roro merasakan hawa panas luar biasa, pun cahaya menyilaukan dari kejauhan. Apa itu?


"Aku tak punya waktu lagi...." Di waktu bersamaan, Roro teringat sesuatu. Segera ia pindah menuju sumber cahaya merah itu menyembul. Ini tempat pemuda terbaring lemah menunggu rohnya bebas.


"Kitab neraka hanya bisa dibuka oleh pemegangnya yang punya ketakutan murni terhadap legenda, sejarah, maupun makhluk gaib sepertimu." Salah satu peramal berkata begitu. "Kitab neraka, sederhananya adalah buku biasa punya manusia yang mengabdi sebagai benda terpenting sang pemilik. Buku itu akan menjadi pedoman hidupnya. Dia akan bercahaya merah bila pemiliknya tengah sekarat."


Namun, yang Roro temukan adalah entitas kitab neraka di samping orang sekarat. Dia terbaring begitu nyaman, lalu tertawa sumbang. Tawa untuk menghibur jasadnya yang mengenaskan.


"Rara...." Oh, tidak. Roro dilanda paik. Bola matanya memutih. "Aku akan melihatmu dengan bebas, Rara."

__ADS_1


"Tolong, jangan mati." Roro bersimpuh pasrah di samping lelaki yang perlahan melemahkan tangkupan di perut. "Aku membutuhkanmu untuk----"


"Maaf harus meninggalkanmu, Rara...." Dia kembali tertawa.


"Jangan meracau." Racau adalah pengganggu terburuk bagi Roro, apa lagi bila pikirannya kacau balau. Akalnya semakin pendek. Ia tak menemukan cara selain telinganya yang semakin peka mendengar jeritan manusia. Pemuda di hadapannya terus sebut-sebut nama Rara. Rara dan Rara.


"BERISIK!" Hanya dengan lirikan dan uluran tangan ke sumber suara menyebalkan, sebuah ombak besar melahap habis kapal. Manusia yang terombang-ambing dilindungi gelombang air berbau anyir. Lautan mengamuk, tanda meresapi perasaan Roro. Ledakan terjadi di mana-mana.


Sayang sekali, pikiran Roro berpecah ke mana-mana.


"Kumohon, jangan meninggal dulu." Tak ada cara seain paksakan diri ambil kendali kekuatannya. Ia taruh tangan di atas perut si pemuda saja, air membalutnya dengan arus lembut. "Aku sangat membutuhkanmu." Karena ia tak menemukan jalan lain bila dia tewas.

__ADS_1


__ADS_2