Roro: Dan Pemegang Buku Neraka Terakhir

Roro: Dan Pemegang Buku Neraka Terakhir
Episode 5.1


__ADS_3

Kitab neraka itu menindih kotak pensil yang ia selimuti dengan kekuatannya. Rara pasti takkan curigai buku biasa bersampul kertas cokelat di meja Roro sebagai pustaka keramat. Dia bakal ambil layaknya ingin pindahkan barang yang menghalangi. Jangan sampai Rara menyentuhnya, pikir Roro. Wajahnya penuh keringat terlihat macam es krim meleleh.


"Rara!" Roro langsung banting pintu, tak peduli nanti semua mata tertuju padanya. Wanita berkacamata itu seketika tegang. Rara sungguh menggenggam kotak pensil dan kitab neraka.


Secepat kilat, Roro dekati dan menepis tangan Rara yang menggenggam kitab neraka. Meski anak itu mengaduh kesakitan atau semua penghuni ruang guru mulai taruh rasa tak suka, Roro hanya pikirkan keselamatan Rara. Ia sampai tersengal-sengal untuk sekadar jauhkan kitab neraka dari Rara.


"Bu guru ... nggak apa-apa?" Tidak, justru Roro yang mesti bilang demikian. Apa Rara baik-baik saja?


"Sejak kapan kamu pegang buku tadi?" Secara diam-diam, ada air dari tangan Roro yang bertumpu di atas kitab neraka. Kekuatan kembali menyelimuti benda keramat tadi, menyembunyikan marabahaya. Ia pandang Rara dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


"D-dari tadi," jawabnya menunduk takut. Muka Rara pucat pasi seakan sadarkan Roro. Mata berhiaskan iris hijau zamrud pun menciut sedikit, membulat sempurna. Ia tak boleh menyudutkan sosok tersayang. Ada bisikan yang mengharuskan Roro tidak bersikap dingin terhadap Rara.


"T-tolong masuk kelas," kata Roro lekas kemasi barang-barang berserakan di meja. "Simpan kotak pensilnya di meja saya."


Rara menurut. Gadis itu keluar dari sini bersamaan dengan Roro yang duduk asyik memandang buku sakral. Ia tak habis pikir. Rara, seorang manusia biasa, tak terdampak luka dari kitab neraka. Apa jangan-jangan Rara adalah sosok yang Roro cari? Tak mungkin.


Roro coba bolak-balik bukunya, entah apa yang ia amati tadi. Pikirannya selalu tertuju pada Rara. Jika Rara lah orangnya, bagaimana Roro harus membujuk murid kesayangannya untuk turui keinginannya?


"Kembalikan." Roro beranjak dari kursi guna merebut kitab tersebut. "Itu buku harian saya," katanya berbohong.

__ADS_1


"Wah, lo benar-benar kayak nenek, ya." Guru wanita berbadan langsing itu cekikikan kemudian memandang buku biasa di tangannya. "Gue buka ah."


"Bukunya tak bisa dibuka!" Secara tak sadar, cara Roro rentangkan tangan ke depan adalah kunci meleburkan kekuatan yang menyelimuti kitab neraka. Perlahan benda tersebut bercahaya merah sebelum merambat ke tangan guru jail. Nasib baik Roro mencengkeram tangan dia, sekadar salurkan kekuatannya dan berharap panas dari kitab neraka mereda. Yep, sinar merah itu lenyap kala dia menjerit kesakitan. Roro bisa bernapas lega. Tak ada luka bakar.


"Lain kali...." Dengan kasar Roro menyabet kitab neraka darinya. "Jangan asal ambil barang orang lain."


Sedangkan dia diam saja, merunduk ketakutan. Dia tak bercakap sepatah kata pun pada hadapan Roro. Hanya melangkah mundur dan biarkan Roro kembali sibuk dengan pikirannya. Wanita berkacamata itu masih fokus pada buku anehnya.


Apa benar Rara orangnya? Pertanyaan demi pertanyaan seakan mengganggu kewarasan Roro. Ia tak bisa mengajar sekarang. Perhatian Roro terus soal Rara yang tak terluka ketika pegang kitab neraka. Jika memang Rara pengganti pemuda yang wafat itu, maka Roro harus cepat yakinkan dia.

__ADS_1


Dengan mantap, Roro ambil langkah lebar menuju kelas. Sorot matanya mulai tajam, penuh hawa dingin khas laut dalam. Warna irisnya tak lagi zamrud, tapi sepekat dasar palung.


Rara harus ada dalam genggamannya.


__ADS_2