
Dalam waktu menjelang pernikahannya Lula disibukkan dengan fitting baju untuk akad nikah dan resepsi..
untuk desain undangan, tema serta susunan acara selama kegiatan nanti berlangsung Lula sepakat untuk mempercayakan kepada salah satu WO terkenal di kota itu..
Lula tetap melaksanakan kegiatannya seperti biasa..
hanya, untuk kuliahnya Lula sudah mengajukan cuti tidak menyertakan alasan menikah melainkan untuk keperluan pribadi ..
undangan pun sudah tersebar 1 Minggu sebelum hari H..
rekan kerja Lula banyak yang memuji kartu undangan tersebut..
selain memiliki desain yang unik dan elegan, pemilihan tempat dan konsep acara nya terbilang mewah dikarenakan Lula dan calon suami yang berasal dari kalangan pebisnis..
meskipun ayah Lula seorang pebisnis ulung, Lula tidak mengikuti jejak ayahnya untuk meneruskan bisnis tersebut..
Lula memilih untuk bekerja sesuai dengan passionnya..
Lula melihat perbedaan Aris pada dirinya, sikap sedikit dingin terkesan menghindar ketika mereka saling bertemu selama di area kerja..
namun ia tidak mempunyai keberanian untuk sekedar bertanya Mengenai perubahan sikap sahabatnya tersebut..
ia cukup sadar diri dengan kenyataan bahwa dirinya sebentar lagi akan menjadi istri orang lain..
"ris, yakin enggak mau bicara sama Lula ? selidik Riko
"jangan Ngadi - Ngadi, bentar lagi jadi bini orang.." Aris mencoba tertawa
__ADS_1
"hah.. kan janurnya belum melengkung ris.."
"iya janurnya memang belum, tapi tu lihat.. undangan udah nyebar.. tinggal satu Minggu lagi nikah dia.."
sudah satu Minggu ini Aris menghindari Lula..
setiap mereka berpapasan Aris pasti akan mengalihkan pandangannya..
Aris tidak ingin membuat hati Lula menjadi goyah, dan tidak ingin menambah harapan yang akan menjadi sia - sia
*******
malam hari di kediaman tuan brahata..
Lula terkejut mendengar pertikaian yang terjadi di dalam kamar orang tuanya ..
Lula mencuri pendengaran di luar pintu kamar kedua orang tuanya...
"ayah minta maaf bunda..."
"untuk apa yah? untuk masalah yang ayah ciptakan? atau untuk masalah yang akan ayah datangkan?"
"jangan bersikap seperti ini bunda, ayah lelah.."
"yah.. bunda juga manusia biasa.. bunda punya rasa takut yah.. Lula anak kita satu - satunya.."
"ayah tahu ayah salah bunda.. toling jangan semakin menekan ayah.."
__ADS_1
"menekan? dari segi mana yang bunda menekan ayah harus mengikuti kemauan bunda?"
"bunda juga letih yah.. bunda tidak sanggup menjalani ini semua yah.."
nyonya Brahata hanya bisa menangis lalu meninggalkan suaminya menuju kamar tamu..
ceklek..
ketika nyonya Brahata membuka pintu kamarnya terlihat Lula sudah berdiri mematung dengan air mata yang terus mengalir dikedua pipinya..
Lula menghamburkan dirinya memluk bundanya, dan bundanya pun mengelus kepala anak kesayangannya tersebut..
sambil terisak Lula berkata..
"bunda.. Lula mohon, jangan bertengkar lagi dengan ayah.. ini semua sudah takdir Lula Bun.."
"takdir bagaimana nak? ini murni kesalahan ayahmu.." sergah nyonya Brahata menangkupkan tangannya dikedua pipi anaknya tersebut..
"sekarang lihat bunda.. bunda tau, selama ini kamu berpura - pura dalam keadaan baik - baik saja.. hati dan pikiranmu selalu kosong.. bukan bunda tidak memperhatikan dirimu nak.. kamu yang biasanya ceria, sekarang sering melamun.. apa ini kamu bilang takdir?"
"bunda.. apa bunda lupa.. kalau bunda sering berkata Tuhan lebih tau apa yang kita butuhkan.. mungkin ini sudah garis tangan Lula Bun.."
seakan tidak menerima takdir, nyonya Brahata selalu mempunyai alasan untuk menyangkal apa yang telah terjadi pada putrinya..
"nak.. feeling seorang ibu itu kuat.. bunda seperti merasakan bahwa pernikahan ini bukan hal yang baik sayang.."
"Bun, tersenyumlah dan berdoalah untuk Lula.. semoga Lula selalu diberikan kebahagiaan"
__ADS_1
Lula tersenyum dan kembali memeluk bundanya..