
tak lama, Lula pun duduk diantara tuan dan nyonya Brahata.
"Lula, ayah dan bunda ingin meminta bantuan mu nak." ucap ayah lembut
"bantuan apa yah?" tanya Lula
"bisnis ayah mengalami masa sulit untuk saat ini nak. lalu, ayah berencana meminjam modal dari rekan bisnis ayah"
"lalu?"
"rekan bisnis ayah meminta syarat agar kamu mau menjadi istri anaknya, nak"
"apa yah?????" ucap Lula seakan tak percaya lalu menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"apa maksud ayah bunda?" tanya Lula pada nyonya Brahata tanpa terasa bulir air mata disudut matanya mulai mengalir..
"iya nak, bunda tau ini cukup berat untukmu. tapi, bunda mohon nak" ucap nyonya Brahata dengan suara bergetar dan menahan air matanya agar tetap tegar didepan anaknya
"tapi, apa ayah dan bunda tidak memikirkan perasaan Lula?" tanya Lula dengan menahan amarahnya
"ayah dan bunda mohon nak.." ucap lirih tuan Brahata
"ayah.. bunda.. sesulit apapun kondisi bisnis ayah, apakah Lula harus dikorbankan dalam hal ini yah.. Bun.." ucap Lula dengan suara bergetar dan airmata yang telah membanjiri pipi mulusnya
__ADS_1
"apakah, ayah dan bunda rela menukarkan anak sendiri demi kelangsungan bisnis ayah hingga mengabaikan perasaan Lula.."
"tidak seperti itu nak.. itu tidak benar.. kami tidak menukar anak kami dengan bisnis nak.." ucap nyonya Brahata lalu mengelus puncak kepala anaknya dengan lembut dan menahan tangisnya
"lalu, apakah ayah dan bunda pikir Lula tidak memiliki perasaan? dalam hal ini, bukan ayah maupun bunda yang terluka.. tapi Lula!!" ucap Lula dengan segala amarahnya
setelah melampiaskan amarahnya, Lula berlari menuju kamarnya lalu mengunci pintu kamar.
terdengar suara ketukan dipintu kamarnya, namun Lula mengabaikannya.
"nak.. maafkan ayah dan bunda yang egois.. dalam hal ini, kami tidak memikirkan perasaanmu.. semoga kamu mengerti situasi yang ayah alami.." ucap tuan brahata lirih..
"ayo Bun, kita kembali ke kamar.." ucap tuan brahata menarik istrinya yang masih menangis didepan pintu kamar putri kesayangannya tersebut
betapa miris hidupnya,,
itu lah yang dirasakan oleh Lula..
triiing...
bunyi alarm pukul 06.00 pagi membangunkan Lula dari posisinya. ternyata ia menangis cukup lama, ia tidak sadar jika ia tertidur dalam posisi duduk setelah percakapan kemarin dengan orang tuanya..
Lula beranjak meraih handphone nya yang berada dinakas untuk menghentikan notifikasi tersebut.
__ADS_1
Lula tidak bersemangat untuk memulai kegiatannya. ia hanya merebahkan diri di kasur empuknya lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Tuhan.. cobaan macam apa ini.. apakah tidak ada cobaan yang lebih ringan dari ini.." ucap batin Lula tanpa setara airmatanya pun kembali mengalir dari dua matanya
kembali Lula menangis tanpa mengeluarkan suara..
tok .. tok .. tok ..
"Lula ..." panggil nyonya Brahata sembari mengetuk pintu kamar anaknya yang terkunci
"Lula.. ayo bangun nak, kita sarapan.." ucap nyonya Brahata
hening ..
tidak ada suara dari dalam kamar Lula membuat nyonya Brahata mulai merasakan sedikit curiga.
"ayah, Lula masih belum membuka pintunya yah.." ucap nyonya Brahata pada tuan brahata yang berjalan menghampiri kamar putrinya
"Lula... bangun nak... ayah mohon, maafkan ayah dan bunda mu nak.. " ucap lembut tuan brahata
"Lula.. kamu boleh marah nak.. setidaknya bangunlah nak untuk sarapan.. bagaimanapun ayah tidak ingin kamu sakit.." ucap tuan brahata sambil menahan tangisnya..
lalu, apakah yang Lula lakukan di kamarnya???
__ADS_1