salahkah menjadi janda?

salahkah menjadi janda?
pertemuan


__ADS_3

keesokan harinya setelah melakukan meeting dengan tuan prima dan rekan yang lain, tuan brahata mengajak tuan prima untuk berbicara empat mata diruangannya..


"tuan.. ada yang ingin saya bicarakan.. mari.. ikut keruangan saya..." pinta tuan brahata sembari menunjukkan arah secara halus kepada tuan prima


"oh.. iya, baiklah..." ujar tuan prima


mereka pun berjalan beriringan hingga menuju ketempat yang tuan brahata maksudkan..


"mari.. silahkan duduk tuan..." ujar tuan brahata dengan sopan..


"ada apa tuan brahata, apakah kau akan membatalkan perjanjian kita?" tanya tuan prima dengan cepat sambil mendudukkan tubuhnya di sofa ruangan kerja tuan brahata


"akh... tidak tuan.. bukan tuan... bukan begitu.."


"Lalu..?? perbincangan apa yang kau maksud setelah kau berencana membatalkan perjanjian yang telah kita sepakati melalui telepon tempo hari?"


"tuan.. putriku sudah setuju untuk menikahi putra anda tuan..."


"ha...ha... bukankah itu ide bagus tuan brahata? sebentar lagi hubungan kita akan semakin kuat, tidak hanya menjadi rekanan kerja kita akan menjadi besan.."


"iya tuan.. tapi, ada satu hal yang mengganjal hatiku..." ujar tuan brahata dengan sendu


"apakah hal itu tuan?"


"apakah putramu akan benar-benar menyayangi putriku, dan memperlakukannya dengan tulus?"


"tuan brahata... aku akui, memang putraku sangatlah tidak menyukai perjodohan ini, namun sebagai ayahnya aku akan memastikan setelah pernikahan, kehidupan yang dijalani putrimu jauh lebih baik dari sebelumnya.." janji tuan prima


"baiklah tuan.. saya mempercayakan itu padamu.. kapankah mereka akan bertemu tuan?"


"aku akan mengatur waktu agar sepecatnya pertemuan mereka segera dilakukan.."

__ADS_1


setelah mereka berbincang - bincang, tuan prima pun meminta izin untuk meninggalkan perusahaan tuan brahata dimana ia sendiri memiliki pekerjaan lain di perusahaannya..


sepulangnya tuan prima, tuan brahata terduduk di kursi kerjanya lalu pikirannya menerawang jauh..


"apakah ini sudah benar tuhan? apakah pilihanku untuk putri kesayanganku sudah tepat? bagaimana jika berlaku buruk pada putriku? apakah putriku akan diutamakan? dapatkah ia membimbing putriku?"


setuju pertanyaan dan penyesalan berkecamuk dalam hati dan pikirannya ..


triiing.....


..." nanti malam, aku akan mengunjungi kediaman mu bersama dengan keluargaku"...


tuan brahata meraih handphone dan membaca pesan singkat yang masuk..


itu dari tuan prima, seketika terlihat kegelisahan yang bertambah diraut wajahnya..


penyesalan dan juga kebodohan yang telah ia lakukan, terus menghantui pikiran dan juga membanji beban tersendiri dalam hatinya..


dilain tempat...


"iya nak.. istirahat dulu ya sayang.. habis itu mandi, dan kita akan segera makan bersama.." ujar nyonya Brahata..


"iya Bun .." jawab Lula sambil berusaha tersenyum..


dengan berat hati, ia berusaha mengatakan semuanya akan baik - baik saja namun ia hanyalah seorang wanita yang baru akan menginjak usia dewasa..


dimana ia masih merasakan kelabilan emosional, acapkali ia masih bertingkah kekanakan untuk hal - hal sepele..


namun, seketika ia sadar..


tidak harus ia seperti itu..

__ADS_1


ia harus mengukur senyum diwajah kedua orang tuanya yang telah merawatnya..


bahkan untuk mengobarkan segala impian dan harapannya jika dengan begitu orang tuanya akan bahagia ia akan sangat sangat rela ..


setibanya ia dikamar..


..."udah sampai rumah neng?"...


Lula membaca pesan singkat yang dikirim oleh Aris..


..."udah ris, kamu"...


..."iya, aku udah juga.. jangan lupa istirahat dan juga makan ya neng.."...


..."iya.. kamu juga ya.."...


Lula hanya mampu tersenyum getir membaca pesan tersebut..


lalu ia memutuskan untuk segera membersihkan diri, Dimana ia akan segera menemui calon suami yang tidak diinginkannya itu..


setibanya tuan prima dan keluarga dikediaman tuan brahata, kedatangan mereka disambut hangat oleh empunya rumah..


"selamat malam, om... Tante.. saya Rian.." ucap Rian putra tuan prima sembari mencium punggung tangan kedua calon mertuanya itu


"iya nak.. mari masuk.."ujar nyonya Brahata halus dan tersenyum padanya


tak lama pun, mereka sudah duduk dimeja makan dimana nyonya Brahata sudah menata rapi dan menyajikan berbagai hidangan yang menggugah selera ..


"dimana putriku brahata, sedari tadi aku tidak melihatnya.." ucap tuan prima dengan bingung sambil melihat sekeliling ruangan didekatnya..


"sebentar prim, ia akan segera turun.."

__ADS_1


Lalu ..


"selamat malam om .. Tante.. maaf saya terlambat.." ujar Lula yang sudah berdandan secantik dan sesopan mungkin sambil memamerkan senyumannya yang manis dan tak lupa untuk mencium punggung tangan calon kedua mertua secara bergantian..


__ADS_2