Sang Pemimpi Menghalalkan Segala Cara

Sang Pemimpi Menghalalkan Segala Cara
Kekasih Melisa


__ADS_3

Setibanya di kantor, Melisa di sambut hangat oleh seorang pria dengan penampilan yang begitu rapi dan tampan. Yah, dia kekasih Melisa yang bernama Rio. Sang manager sekaligus kekasih yang begitu ia cintai. Meski berhubungan dengan sang atasan, Melisa sama sekali tidak pernah mau menerima pemberian dari Rio. Baginya masa lalu yang kelam sudah cukup untuk ia jadikan pelajaran hidup. Melisa ingin tetap hidup tenang saat ini bersama sang ibu dengan jalan baik yang ia pilih.


"Sayang, baru sampai?" sapa Rio ingin mendekati Melisa kala mereka bertemu di loby perusahaan.


Baru saja tangan pria itu hendak merangkul bahu Melisa, tiba-tiba saja Melisa mundur menjauh. Seperti biasa ia begitu menjaga jarak dengan sang bos. Bagaimana pun mereka sama-sama pekerja di perusahaan tersebut. Melisa tidak ingin kerjanya atau pun sang kekasih mendapatkan ancaman dari atasan jika mereka menyalah gunakan jam kerja.


"Maaf Pak Rio, saya harus masuk segera. Mari Pak saya duluan." Melisa berlalu meninggalkan Rio.


Meski keduanya sudah memiliki hubungan serius, tetap saja Melisa masih merasa tak percaya diri. Mengingat bagaimana masa lalunya dan melihat siapa sosok Rio. Seorang pria yang berasal dari keluarga baik-baik. Rasanya Melisa sampai saat ini sulit untuk menerima hubungan mereka. Jauh dalam lubuk hati ia memiliki keyakinan jika hubungan mereka akan sulit untuk di terima keluarga dari Rio.

__ADS_1


"Heh Melisa menganggap apa sebenarnya aku ini?" gumam Rio menggelengkan kepala heran melihat kepergian sang kekasih ke dalam ruang kerjanya.


Inilah yang selalu terjadi jika mereka bertemu di area perusahaan. Dan Rio merasa tak sabar untuk pulang kerja agar bisa bertemu dengan sang kekasih. Jam mereka berkencan adalah sore hari sebelum Melisa pulang ke kosnya.


Hubungan yang sudah berjalan beberapa bulan itu tak membuat Rio heran. Ia begitu paham akan sikap sang kekasih yang sangat bijak. Tanpa ia tahu bagaimana kisah Melisa di masa lalu.


Satu hari itu Melisa habiskan waktu dengan kerja. Ia begitu nyaman dengan pekerjaannya saat ini. Melisa tak ingin satu titik celah pun di masa lalu bisa merusak hidupnya lagi saat ini.


"Ada apa? Tidak senang di jemput di depan pintu ruang kerja seperti ini? Oleh bos sendiri lagi." Rio terkekeh setelah berucap demikian.

__ADS_1


Ia pun melangkah masuk menemui Melisa. "Ayo segera keluar. Jangan lama-lama di ruangan kerjaku. Jangan sampai teman lainnya berpikir yang tidak baik."


Segera Melisa menarik kasar tangan Rio keluar dari ruangannya. Ia tak perduli bagaimana mata memandang mereka sepanjang jalan. Rio yang di tarik seperti itu hanya bisa tersenyum-senyum saja. Genggaman tangan Melisa inilah yang selalu ia inginkan.


"Apa kau tidak sabar berkencan denganku? Hem?" ujar Rio menggoda.


Mendengar itu bukannya menjawab, Melisa justru membulatkan matanya kesal tak suka dengan godaan sang kekasih. Hingga mobil milik Rio melesat menuju ke arah sebuah cafe. Sore yang indah begitu nikmat jika berteman dengan matahari terbenam dan Rio tahu Melisa sangat menyukai pemandangan indah itu.


"Mba, menunya yang ini satu di bungkus yah." tutur Melisa kala mengingat sang ibu yang menunggu dirinya di rumah.

__ADS_1


Melihat setiap perhatian Melisa pada sang ibu membuat Rio benar-benar yakin. Sudah sering kali ia memperhatikan hal yang kecil yang Melisa lakukan untuk ibunya. Keyakinan jika ibunya sendiri akan di perlakukan dengan baik oleh Melisa jika kelak mereka menikah.


__ADS_2