Sang Pemimpi Menghalalkan Segala Cara

Sang Pemimpi Menghalalkan Segala Cara
Kekacauan Di Desa


__ADS_3

Segalanya telah Rio atur hingga pernikahan pun sudah siap di laksanakan hari ini. Rio benar-benar tak perduli bagaimana sang ayah akan murka dengannya. Yang jelas Melisa tetaplah akan ia nikahi dengan atau tanpa restu dari orangtuanya. Dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata Fery sudah ada di mesjid itu. Yah, Rio telah memakai mesjid untuk ia tempati menikah dengan Melisa.


"Ri-io, ayah?" Melisa dan Weni sama-sama kaget melihat kehadiran Fery di depan mereka.


Yah semuanya sudah Rio atur tentu dengan uang yang tak sedikit hingga ia bisa melakukan ini semua dan membawa Fery kemari. Sementara di luar sana Wely begitu murka melihat sang anak yang sudah mengambil langkah sejauh ini tanpa persetujuan darinya.


"Lihat saja Rio, jika terjadi sesuatu denganmu jangan pernah datang padaku." ujar Wely murka dan melajukan mobil menuju ke arah luar. Ia tak perduli lagi dengan keadaan sang anak yang sudah berani melangkahi aturannya.


Hari itu Melisa pun menikah dengan Rio tanpa ada satu pun gangguan. Fery tampak tenang menyaksikan pernikahan sang anak. Setidaknya Melisa tak lagi membuat ulah yang memalukan.

__ADS_1


Usai pernikahan berlangsung, Yuyun dan Arini yang turut hadir pun memeluk sang adik memberikan ucapan selamat. Bahkan Yuyun begitu was-was jika sang adik akan mengalami kegagalan dalam pernikahan sampai ia harus memberikan nasihat berulang kali.


"Mel, pertahankan pernikahanmu yah? Jaga kesucian pernikahan kalian. Jangan mudah mengatakan cerai. Setidaknya jangan ikuti jejak Kakak." tutur Yuyun dengan penuh penyesalan.


Bagaimana pun tidak ada satu wanita yang rela pernikahan mereka gagal dan memiliki status janda. Melisa pun mengangguk sembari mengusap air matanya.


"Aku akan ingat kata-kata kakak. Terimakasih yah, kak." ujarnya.


Mereka bertiga tinggal di kota dengan nyaman dan tenang. Weni bahkan di bukakan usaha toko kue oleh sang menantu. Dan semua jualan wanita itu mulai banyak di kenal orang. Melisa yang perlahan terus menabung saat bekerja bercita-cita ingin memiliki bisnis perumahan ekonomis dan itu di dukung oleh san suami.

__ADS_1


Sementara di desa Arini sudah di nikahkan juga dengan Andi, pria yang bahkan tak memiliki pekerjaan. Bukan tanpa alasan, ia di nikahkan segera oleh sang ayah demi janin yang sudah di kandungnya. Fery benar-benar marah ketika mengetahui sang anak justru hamil di luar nikah. Keadaan mereka tinggal di desa benar-benar kacau saat ini.


Tak di sangka justru Weni yang berada di kota justru saat ini merasakan hidup yang lebih tenang darinya. Mengurus tiga anak dengan aturannya membuat Fery benar-benar ingin pecah kepala. Semua tak ada yang bisa ia kendalikan.


"Andi! Bangun! Arini, bangunkan suamimu itu. Apa kerjanya tiap hari cuman tidur tidur saja." ia berteriak menggedor kamar Arini yang berada di rumahnya.


Segera pintu kamar pun di buka. Andi yang masih terlelap sontak membuat Fery naik pitam. Bahkan saat ini sudah sangat siang. Dengan rasa lelah bekerja di bengke, Fery masuk ke kamar Arini dan menyiram air teh miliknya yang masih panas pada sang menantu.


"Apa-apaan ini, Ayah?" Andi berteriak marah.

__ADS_1


Matanya yang memerah menandakan jika dirinya sangat tak suka dengan perilaku sang mertua.


__ADS_2