
Kepulangan dari keluarga Rio benar-benar membuat Fery marah. Dugaannya kini benar-benar tak sampai di pikirannya. Anak yang berjuang sekolah justru begitu membuatnya malu. Ia marah sekali bagaimana tidak marah jika sebelumnya Fery begitu senang mendengar sang anak akan di lamar oleh orang terpandang. Rio adalah atasan sang anak yang di kenal banyak orang berasal dari keluarga kaya. Namun, Melisa sendiri yang memiliki hubungan dengan sang kekasih justru tidak tahu siapa keluarga dari Rio.
"Tutup pintunya, Bu." teriak Fery memerintah sang istri.
Sudah lama rasanya Weni tak mendengar teriakan lantang dari sang suami. Kini ia pun berlari menutup pintu dengan tubuh gemetar. Bayangan akan banyak kejadian kasar yang sang suami lakukan padanya tentu saja membut Weni takut. Ia lama tak merasakan sentuhan kasar tangan dari sang suami.
"Dasar anak itu selalu saja membuat ulah!" Fery melangkah menuju kamar dimana Melisa menangis memeluk bantal guling.
Kini hatinya begitu sakit kala mendengar secara nyata jika dirinya di tolak secara terang-terangan oleh sang calon mertua lantaran masa lalu yang begitu buruk. Harapan hidup bahagia bersama Rio kini pupus sudah. Melisa yakin jika hubungan mereka berakhir malam ini juga.
Suara pintu kamar yang terbuka kasar bersamaan dengan tangan yang mendarat sempurna di wajah Melisa. Fery menampar sang anak tanpa belas kasih..
"Anak bikin malu!" teriaknya kembali menampar wajah sang anak.
__ADS_1
Melihat sikap kasar sang anak, Weni berlari menghalangi tangan sang suami. Kali ini ia tidak akan tinggal diam. Sekuat tenaga Weni mendorong sang suami.
"Jauhkan tangan Ayah dari Melisa!" teriaknya marah.
"Ibu berani membela anak memalukan ini?" teriak Fery tak kalah geramnya.
Kedua matanya bahkan melotot saat itu juga. Melisa menggeleng ia tidak ingin kedua orangtuanya kembali bertengkar hanya karena dirinya. Segera ia pun berdiri dan memeluk tangan sang ibu. Memintanya bertahan agar tidak menambah kemarahan sang ayah.
"Ibu, sudah. Aku yang salah di sini, Bu." tuturnya terisak menangis.
Melisa tak bisa menjawab pertanyaan sang ayah, ia hanya bisa menunduk seolah mengiyakan tuduhan sang ayah. Weni kini tahu jika semua itu benar. Melihat dari wajah sang anak yang nampak pasrah tanpa menjelaskan apa pun.
"Mel, apa itu benar? Kenapa, Nak?" Weni mendekati sang anak. Di raihnya kedua lengan Melisa yang bergetar menahan suara tangis.
__ADS_1
"Semua untuk biaya kuliah, Bu. Maakan aku..." Melisa akhirnya jujur dan kedua orangtuanya sama-sama syok mendengarnya.
Malam itu juga Fery segera meninggalkan kontrakan tanpa berkata apa pun. Ia memilih untuk pulang ke desa dari pada harus menerima rasa malu yang di torehkan sang anak pada wajahnya. Sebab ia yakin jika sang anak tidak mungkin berhubungan dengan satu orang pria saja.
Melisa yang menangis di dalam kamarnya tidak bisa melakukan apa pun. Ia pun membiarkan sang ibu yang keluar kamar menuju kamar sebelah dengan suara tangis yang ia tahan. Weni tak menyangka jika sang anak benar-benar melakukan hal seperti itu. Sebab ia begitu yakin anaknya adalah anak yang penuh dengan semangat juang.
Melisa bocah lugu yang begitu semangat dalam hal apa pun nyatanya tak bisa menahan ujian di kala tawaran hidup nyaman ada di depan matanya. Meski di akhir cerita justru ia mendapatkan musibah bertubi-tubi hingga saat ini ketika ingin memulai hidup baru bersama orang baru. Justru masa lalu itu datang menghancurkan segalanya.
Lain halnya dengan sosok Rio yang berada di jalan pulang. Sepanjang jalan ia terus di ceramahi oleh sang ayah. Wely terus memarahinya sebab tak hati-hati dalam mencari jodoh. Meski sang anak hanya diam tanpa menjawab satu kata pun. Saat ini Rio hanya diam bukan karena mendengarkan kata-kata ayahnya. Melainkan ia tengah bertanya pada dirinya sendiri, seolah sulit sekali percaya jika Melisa adalah wanita seperti yang di sebutkan sang ayah. Selama bersama ia begitu mengenal sikap Melisa yang sangat baik.
"Melisa itu menjajahkan tubuhnya pada banyak pria. Kamu tidak tahu saja aslinya wanita itu, Rio. Ayah tidak akan pernah setuju kalian bersama sampai kapan pun itu. Nama baik kamu bisa di hina banyak orang jika kamu bersama wanita seperti itu. Ingat baik-baik itu, Rio." tutur Wely memberi peringatan pada sang anak.
"Ayah, sudah yah. Kita bicarakan di rumah saja nanti." ujar Lia lebih memilih menenangkan sang suami yang mendidih amarahnya saat ini.
__ADS_1
Tak pernah ia sangka jika sang anak justru memilih satu wanita seperti Melisa dari banyaknya wanita di dunia ini. Bagaimana mungkin dunia begitu sempit hingga mempertemukan dirinya dengan Melisa secara kebetulan seperti itiu? memikirkannya saja Wely sampai menggelengkan kepala tidak percaya.