Sang Pemimpi Menghalalkan Segala Cara

Sang Pemimpi Menghalalkan Segala Cara
Mengajak Berjuang


__ADS_3

Perjalanan yang bergerak membelah jalanan pagi itu tampak mengejutkan sosok Melisa. Matanya menoleh ke arah samping dimana sosok Rio duduk menyetir mobil. Ia tercengang sebab melihat ke arah jalanan dimana arah yang mereka tuju saat ini bukanlah ke arah perusahaan.


“Pak Rio, kita akan pergi kemana?” tanya Melisa menatap penuh tanya.


Rio tak menjawab sama sekali. Ia terus melajukan mobil menuju ke arah yang terasa asing baginya. Semakin melaju, kendaraan semakin naik ke arah gunung hingga akhirnya mobil pun tiba di puncak gunung yang menampakkan pemandangan begitu indah seluruh kota.


Berbinar pandangan mata Melisa melihat pemandangan yang ada di depannya.


Rio turun usai melihat Melisa yang berdiri menghadap ke arah pemandangan kota.


“Semua masa lalu bisa menjadi badai ketika kita tidak bisa mempertahankan kekuatan kita sendiri. Hubungan itu ibarat air laut yang siap kapan pun di bawa ombak. Tapi, kita punya pilihan untuk tetap mengikuti ombak dengan tenang dan tidak melawan arusnya. Maka semua pasti akan baik-baik saja. Saat kekuatan kita bisa melawan maka di saat itulah kita bisa mempertahankan semuanya.”


Rio menghela napas sejenak lalu ia memegang kedua tangan Melisa. Di tatapnya dalam kedua manik mata Melisa.

__ADS_1


“Mel, saya serius ingin membina rumah tangga denganmu.” ujarnya.


Melisa bahkan menatap dalam kedua mata Rio. Ia tidak bisa menjawab apa pun saat ini. Ada restu yang menghalangi hubungan mereka. Dan Melisa tidak akan bisa menikah dengan menentang keinginan orangtua dari Rio.


“Pak, saya mohon lupakan saya. Saya ingin tenang bersama ibu. Sudah cukup semua yang saya rasakan. Tolong pahami saya, Pak. Saya akan sangat berterima kasih jika bapak mau menjauhi saya.”


Ucapan Melisa sungguh membuat Rio patah hati. Jelas ia melihat tak ada harapan yang Melisa berikan padanya.


Sejenak Melisa memejamkan mata. Pelukan yang ia rasakan saat ini begitu sangat nyaman hingga ia sulit untuk melepaskan pelukan itu. Melisa meresapi setiap kehangatan yang Rio berikan.


“Andai tangan ini boleh untuk membalas pelukan anda, Pak. Saya ingin sekali membalas pelukan anda. Tapi saya sadar. Saya bukan siapa-siapa. Saya tidak pantas mendapatkan anda, Pak.” Air mata Melisa jatuh tanpa henti hingga meresap ke baju milik Rio.


Entah kemana masker yang ia gunakan sejak tadi. Rio tak lagi melihatnya. Ia tak perduli yang jelas saat ini ia hanya ingin melepaskan kerinduan yang begitu besar pada sang kekasih.

__ADS_1


“Saya akan buktikan jika kita layak bersama, Mel.” Ucapan dari Rio seolah begitu mengancam Melisa. Entah apa yang ia ingin lakukan.


Melisa menggeleng. “Pak, anda mau berbuat apa? Tolong mengerti keadaan saya, Pak.” tutur Melisa lagi.


Sulit sekali bicara dengan Melisa. Rio sendiri sampai merasa kehilangan akal untuk berpikir. Ia bahkan saat ini bingung bagaimana caranya agar hubungan mereka baik-baik saja? Bagaimana caranya agar Melisa mau berjuang bersama dengannya? Rio pun memilih melepaskan pelukan dan mencium kening Melisa dalam waktu yang cukup lama.


Keduanya tanpa sadar sama-sama memejamkan mata.


“Kita akan tetap bersama. Beri saya kesempatan. Saya mohon, Mel. Saya terlanjur memiliki harapan besar beramamu.” tutur Rio.


Melisa belum bisa menjawab. Hingga akhirnya mereka harus segera ke kantor mengingat waktu kerja akan segera tiba. Rio bukanlah pemilik perusahaan, maka ia tidak memiliki hak untuk sesuka hati keluar masuk kantor.


Keduanya pun mengendarai mobil kembali menuju perusahaan dengan tangan kiri Rio yang menggenggam tangan Melisa. Meski masih tak ada jawaban, Rio merasa Melisa mulai luluh dan siap untuk memperjuangkan hubungan mereka.

__ADS_1


__ADS_2