Sang Pemimpi Menghalalkan Segala Cara

Sang Pemimpi Menghalalkan Segala Cara
Kehancuran Yuyun


__ADS_3

Keadaan di desa saat ini begitu tegang. Suara keributan jelas terdengar oleh salah satu rumah kecil sederhana yang kini menjadi tempat tinggal untuk Yuyun dan Furqon.


Kerja serabutan membuat Furqon tak mampu memiliki uang cukup untuk membangun rumah seperti impian Yuyun.


“Aku mau kita cerai!” Wanita itu berteriak murka melihat wajah sang suami yang di paksa pulang bekerja dari bengkel sang ayah. Bahkan ia tak perduli bagaimana wajahnya nampak berkeringat.


Rumah yang berantakan semakin ia buat berantakan dengan melempari bantal mau pun selimut ke luar kamar. Yuyun tak kuasa menahan diri lagi setiap hari harus mendengar ocehan sang mertua yang menuntut anak darinya.


“Kamu kenapa sih? Yuyun, aku capek.” ujar Furqon menunjukkan wajah lelahnya.


“Aku lebih capek. Aku capek hadapin ibu kamu itu. Pokoknya aku mau cerai! Kalau tidak usir ibu kamu katakan padanya jangan pernah ke sini lagi.” Kedua mata wanita itu membulat sempurna menatap wajah suaminya.

__ADS_1


Bagaimana pun Furqon tetaplah seorang anak yang tidak rela jika ibunya harus di usir seperti kata sang istri. Kemarahannya pun semakin meluap. Bukan tak jarang ia menahan diri untuk tetap bersabar sekalipun sang istri tidak mau membersihkan rumah, memasak dan segala pekerjaan tidak pernah mau ia lakukan.


“Kamu yang pergi dari sini! Aku tidak akan rugi menceraikan istri seperti kamu. Mulai hari ini kamu Yuyun Andini aku talak kamu. Kita sudah bercerai hari ini juga.”


Ucapan yang tak pernah mereka duga sebelumnya kini terdengar begitu saja. Yuyun tercengang tak percaya seiring air matanya yang berjatuhan. Wanita itu pun segera berlari meninggalkan Furqon seketika.


Setelah sadar akan ucapannya, Furqon terduduk meratapi hidupnya saat ini. Entah jalan yang tepat atau salah ia pilih saat ini. Yang jelas ia begitu tak menyangka jika pernikahannya akan berujung seperti ini.


Yuyun yang berkendara motor melaju menuju ke arah rumah. Ia menangis memasuki rumah sembari memanggil sang ayah.


Namun, di rumah keadaan nampak sepi. Tak ada satu pun orang yang ada di rumah. Seperti biasa sang ayah akan bekerja di bengkelnya mengontrol semua anak buahnya termasuk Furqon yang mencari uang di bawah pengawasan mertuanya.

__ADS_1


“Ayah!” Ia kembali menuju ke arah bengkel sang ayah.


Yuyun menangis terisak memasuki ruang kerja sang ayah. Terkejut Fery melihat kehadiran sang anak.


“Yuyun?” ujarnya kaget.


Yuyun menghambur ke dalam pelukan sang ayah. Ia menangis dan menceritakan semuanya yang terjadi. Tentu saja Fery sangat murka.


“Enak saja dia menceraikan anakku begitu saja. Lihat saja kamu, Furqon.” geramnya menatap marah pada dinding ruang kerjanya.


”Aku di ceraikan Furqon, Ayah. Ini semua karena ibunya. Aku harus bagaimana?” Yuyun begitu bingung dengan status yang ia miliki.

__ADS_1


“Kamu tidak perlu cemas. Kamu masih gadis. Anak kalian bahkan belum ada. Ayah akan atur semuanya, Yun. Pulanglah ke rumah. Lancarkan usahamu.” tutur Fery dengan seringai licik di wajahnya.


Entah rencana apa yang pria itu pikirkan saat ini tentang anak pertamanya. Yang jelas kini ia harus menjadi ayah dan ibu untuk Vanda, Yuyun serta Arini juga. Sebab Weni sudah tidak bisa tinggal di desa bersama mereka. Keberadaannya begitu di acuhkan oleh semua anak-anak dan suami.


__ADS_2