Sang Pemimpi Menghalalkan Segala Cara

Sang Pemimpi Menghalalkan Segala Cara
Kedatangan Rio


__ADS_3

Hari itu juga Rio melajukan mobil menuju ke arah kota yang di sebutkan oleh Weni. Wajahnya yang beberapa hari ini nampak sedih kini sudah berubah ceria. Tak perduli bagaimana padatnya jalan hari itu, Rio terus berusaha untuk segera tiba di kota lebih cepat. Bayangan akan wajah Melisa begitu membuatnya sangat senang.


“Mel, aku harap semuanya akan berjalan dengan baik. Kita bersama selamanya.” gumam Rio membayangkan wajah cantik Melisa.


Hingga hari kian sore di sini Melisa tampak fokus bekerja. Begitu banyak dokumen yang di tumpuk di atas meja kernya.


“Huh sudah sore tapi belum selesai semuanya.” Ia mengeluh sejenak melihat dokumen yang masih banyak.


Awal bekerja di perusahaan membuatnya mendapatkan banyak kerjaan.


“Ayo semangat deh. Nggak boleh ngeluh sekarang ada ibu yang akan kamu bahagiakan.” ujarnya menyemangati diri sendiri.


Waktu yang terus berjalan, tak terasa sudah sampai pada pukul sembilan malam. Dimana Melisa belum memberikan kabar sang ibu. Weni yang cemas tentu saja menunggu kepulangan sang anak. Ia duduk dengan perasaan gelisah di ruang tamu rumah miliknya. Sesekali tubuhnya berdiri untuk melihat pintu yang terbuka memastikan jika belum ada tanda-tanda sang anak.


Sayang, Melisa belum juga menampakkan wajahnya saat ini.


“Kenapa Melisa belum juga pulang? Ini sudah malam.” Kening Weni mengerut dalam penuh kecemasan.


Ingin sekali menelpon namun ia takut jika mengganggu sang anak yang tengah fokus bekerja.


Tin Tin Tin


Bunyi suara klakson mobil di depan membuat Weni segera berdiri. Kedua matanya menatap mobil yang terparkir rapi di depan sana.


“Pak Rio?” ujar Weni akhirnya keluar dari rumah. Ia menyambut dengan langkah cemas mendekati Rio.

__ADS_1


“Bu,” sapa Rio.


“Pak, Melisa belum juga pulang.” Pertama kali bersuara Weni segera mengadukan kecemasannya pada pria yang ia percaya untuk jadi menantunya.


Mendengar itu Rio pun membawanya untuk segera pergi menyusul. Keduanya menaiki mobil melaju menuju ke kantor tempat Melisa kerja.


“Saya yakin Melisa sedang kerja, Pak Rio.” sahut Weni.


Kurang lebih lima belas menit keduanya pun tiba di kantor yang ukurannya tak sebesar kantor tempat Melisa bekerja sebelumnya.


Kini Rio pun paham apa yang terjadi, sebab perusahaan ini adalah perusahaan milik sahabat dekat dari sang papah. Menduga semua yang terjadi pada Melisa, Rio sangat yakin jika sang papah terlibat penuh dengan kepergian Melisa.


Semakin jauh memikirkan, Rio semakin mendapat jawaban tentang siapa yang membawa Weni paksa dari dalam rumah.


“Pak Rio, itu Melisa.” Weni menunjuk sang anak dengan wajah senangnya.


“Melisa!” Weni menurunkan kaca jendela mobil dan berteriak memanggil anak.


“Ibu? Loh kok…” Melisa begitu kaget melihat wajah sang ibu yang tersenyum lalu beralih menatap mobil yang di pakai sang ibu. Tentu saja ia tak lagi merasa asing dengan mobil yang sering kali ia gunakan untuk berkencan.


Susah payah ia meneguk salivahnya. Rio benar-benar masih mengejarnya hingga ke kota ini.


Menyadari jika pria itu di dekatnya, Melisa terdiam mematung. Ucapan yang di katakan Wely kembali terngiang di kepalanya. Dan saat ini Melisa tak bisa memberikan bukti jika ia sanggup menjauhi Rio.


“Kenapa harus seperti ini?” gumam Melisa bingung.

__ADS_1


Ingin lari, namun sang ibu sudah jelas bersama pria itu. Pasrah Melisa hanya bisa melangkah mendekati mobil dan masuk. Duduk di belakang sementara Weni duduk di depan bersama Rio.


Satu-satunya jalan adalah Melisa berbicara dengan Rio. Bukan menghindari pria yang sulit untuk menyerah ini.


Sepersekian menit akhirnya mereka tiba di rumah. Weni membuka pintu untuk masuk sedangkan Melisa duduk di dalam mobil tetap dengan posisi awal.


“Kenapa kemari?” tanyanya datar.


Rio tak menoleh melainkan menatap pantulan wajah Melisa di cermin spion tengah. Wajah yang begitu ia rindukan.


“Aku merindukan mu, Mel. Aku bicara yang sesungguhnya.” jawab Rio apa adanya.


“Aku sudah bahagia tanpa kamu. Aku ingin memulai semuanya bersama dengan ibu. Biarkan kami tenang, Rio. Lanjutkanlah hidupmu di sana. Aku yakin ada kebahagiaan yang sudah menunggumu di depan sana.” tutur Melisa.


“Kebahagiaan apa, Mel? Kebahagiaanku cuma kamu. Cuma kamu yang aku inginkan. Dan aku yakin kita berjodoh. Aku akan bahagia saat kita bersama tanpa bisa di pisahkan.” ucapan Rio hanya bisa membuat Melisa menghela napas kasar.


Entah dengan cara apa ia bisa memberi pemahaman pada Rio untuk perpisahan mereka.


Pada akhirnya Melisa kehilangan rasa sabar lantaran tubuh yang terasa lelah bekerja hingga malam hari.


“Aku ingin istirahat. Pergilah. Suatu saat kau akan mengerti apa yang aku katakan, Rio. Menjauhlah dari hidupku yang sudah tenang.” Melisa baru saja bergegas turut dari mobil dan hendak memasuki rumah.


Rio sudah secepat mungkin juga turun dari mobil dan memeluk erat tubuh kekasihnya dari belakang. Sangat erat, Melisa bisa merasakan hingga ia sulit bernafas.


“Lepaskan aku, Rio.” Seraya kedua mata Melisa menoleh kesana kemari.

__ADS_1


Takut jika sampai ada yang mengawasi mereka. Tentu saja anak buah dari Wely. Dan semua ketakutan Melisa benar adanya.


Dari arah yang cukup jauh sepasang mata sudah mencermati setiap pergerakan mereka. Bahkan berita malam itu sudah sampai pada telinga Wely sang bos.


__ADS_2