
Datang bersama sang kekasih ke perusahaan Rio tampak begitu bahagia. Kali ini ia tidak akan memusingkan apa pun yang Melisa katakan mau pun kedua orangtuanya yang menolak hubungan mereka. Melisa satu-satunya wanita yang harus ia perjuangkan sampai titik darah penghabisan.
"Saya ke ruang kerja duluan." tutur Melisa meninggalkan Rio tanpa menunggu ucapan pria itu yang berteriak memanggilnya.
"Mel! Melisa!" teriak Rio kembali.
Sayang panggilan itu sama sekali tak di gubris, akhirnya mereka berdua pun masuk ke ruang kerja masing-masing. Tanpa di sadari dari arah luar kantor tampak sepasang mata tengah memperhatikan pergerakan keduanya. Lalu ia pun memberi informasi pada sang bos yang tak lain adalah Wely.
Jelas seperti dugaannya jika sang anak masih tetap ingin memperjuangkan hubungan mereka. Dan itu tidak akan di biarkan oleh Wely. Rio adalah anak satu-satunya yang begitu mereka sayangi, bagaimana mungkin ia membiarkan Melisa bersama anaknya.
"Kali ini aku yang harus bertindak langsung." ujar Wely.
Ia memulai kerjaan dengan beberapa pasien yang sudah siap untuk di periksa. Hingga hari itu berlalu kian cepat tibalah sore di mana semua para pekerja akan pulang ke rumah masing-masing. Melisa pulang dengan terburu-buru. Matanya menatap ke sana kemari berusaha meyakinkan diri jika Rio belum pulang.
"Aku harus segera pulan cepat." Melisa setengah berlari ingin keluar kantor. Sesuai keinginan kedatangannya di depan pintu loby sudah di sambut dengan ojek online. Semua di kantor itu bahkan baru saja bersiap untuk pulang termasuk Rio.
"Aku harus cepat agar bisa pulang bersama Melisa." tutur Rio kembali.
__ADS_1
Pria tampan itu dengan semangat mengemasi barangnya lalu berjalan ke arah ruang kerja sang kekasih seperti biasanya. Namun, senyumnya pudar seketika kala melihat sang kekasih sudah tak ada di ruang kerja.
"Mel! Melisa!" panggil Rio mencari sosok Melisa keluar dan berlari hingga turun di loby, Melisa tak juga nampak.
Buru-buru ia menghubungi Melisa namun tak juga mendapatkan jawaban. Rio benar-benar di buat frustasi saat ini. Ia pusing sekali hingga keputusan jatuh untuk mengejar Melisa ke arah rumahnya. Berharap hubungan mereka akan segera membaik.
Tanpa ia tahu jika di jalan yang berbeda arah di sini Melisa sangat panik. Pasalnya motor yang ia tumpangi terus melaju karena kendaraan di belakang yang mengejar mereka begitu menakutkan.
"Pak, hati-hati." tutur Melisa begitu panik
"Mba, mereka dua motor." ujar sang ojek.
Tanpa sadar mereka terus melaju ke arah jalanan yang semakin sunyi. Dimana Melisa akan semakin sulit mendapatkan bantuan dari orang-orang.
"Tabrak motornya!" teriakan dari salah satu pengendara motor seketika terjadi. Melisa terjatuh bersama sang ojek dan langsung di bawa oleh mobil yang entah dari mana datangnya.
Kejadian yang begitu cepat sungguh membuat Melisa merasa bingung. Sepanjang jalan ia terus memohon untuk di lepaskan namun semua pria yang duduk di sampingnya benar-benar tidak menggubris itu semua. Air matanya sudah berlinang begitu derasnya ketakutan.
__ADS_1
"Ibu, tolong Melisa, Bu." jeritnya dalam hati sembari menangis takut.
Di sini Melisa dalam ketakutan, hal yang sama terjadi juga di kontrakan miliknya. Weni menangis meraung kala tubuhnya di bawa paksa oleh beberapa pria yang tidak ia ketahui siapa mereka. Berusaha memberontak sekuat tenaga pun sama sekali tak berpengaruh baginya. Weni pasrah ketika semua tenaganya telah habis terkuras saat ini.
Beberapa saat usai kepergian Weni yang di bawa paksa akhirnya sebuah mobil yang tak lain adalah milik Rio pun tiba. Tampak keningnya mengerut dalam saat melihat pintu terbuka dan sandal di depan rumah yang berantakan.
"Bu! Ibu! Melisa!" ia berteriak beberapa kali sambil terus berjalan masuk ke dalam rumah. Tak ada satu pun orang yang bisa ia temui saat ini.
Melisa mau pun sang ibu tak ada di dalam rumah kecil itu.
"Pak, mau cari yang tinggal di sini yah?" salah satu tetangga tampak memasukkan kepala di pintu utama rumah itu.
Rio dengan wajah cemas segera menganggukkan kepalanya. Ia pun di beri tahu jika pemilik rumah ini baru saja di bawa pergi oleh beberapa orang dengan paksa. Bahkan ia sendiri ketakutan saat melihat para pria yang menarik paksa Weni dengan tubuh yang besar semua.
Rio sontak terkejut mendengarnya. Ia panik entah harus mencari kemana saat ini. Segera ia pun melajukan mobil tanpa tahu kemana arah kendaraan roda empat itu. Kini Rio merasa ada yang tidak beres dengan Melisa dan ibunya.
Sepanjang perjalanan Rio terus meneliti jika menemukan hal yang mencurigakan. Bahkan tubuhnya yang lelah bekerja pun harus ia paksa untuk kuat mencari Melisa dan ibunya. Marah rasanya begitu ia ingin marah saat ini. Rio benar-benar cemas takut terjadi sesuatu dengan sang kekasih.
__ADS_1
"Melisa, jangan sampai ini trikmu untuk meninggalkan aku. Aku tidak akan kuat jika kau pergi seperti ini. Tolong Tuhan, berikan aku petunjuk." ujar Rio memohon dalam hati.