
Jika Melisa berpikir ini semua adalah akhir dari kisahnya, kenyataannya salah besar. Masa lalu yang ia miliki sama sekali tidak mampu menghapus rasa cinta yang Rio miliki. Ia benar-benar tidak perduli bagaimana Melisa di masa lalu yang terpenting saat ini adalah wanita itu begitu sangat baik dan memenuhi kriteria Rio. Memiliki rasa perduli yang tinggi pada orangtua, itu point utama bagi Rio untuk memilih wanita menjadi istrinya.
Di meja makan pagi ini Rio serta kedua orangtuanya tengah menikmati sarapan dengan keadaan hening. Tak ada pembicaraan apa pun di antara mereka. Jelas terlihat jika mood dari sang ayah masih begitu buruk untuk di ajak bercerita.
"Ayah, Ibu, aku pergi duluan. Pagi ini ada urusan kantor yang harus di tangani cepat." Begitu pamit Rio pada kedua orangtuanya.
Belum saja tubuh pria tampan itu menghilang, suara Wely sudah terdengar menggema di ruangan rumah megah mereka. Tak lupa ia dengan jas putih kebanggaannya menatap tajam sang anak.
"Rio, urusan kantor pastikan bukan urusan dengan wanita itu. Ingat kata ayah, kalian tidak akan boleh bersama."
Rio memilih menghindar untuk saat ini, bukannya menjawab ucapan sang ayah justru ia memilih melangkah pergi begitu saja. Rio harus segera tiba di rumah kontrakan Melisa sebelum wanita itu berada di kantor. Bagaimana pun mereka sangat butuh waktu untuk bicara berdua.
"Anak itu..." geram Wely menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan jalan yang di ambil sang anak. Melihat kemurkaan sang suami, Lia hanya bisa mengusap lengan suaminya berharap agar tidak terjadi keributan berikutnya lagi. Khawatir dengan kesehatan sang suami yang akhir-akhir ini juga mulai menurun.
__ADS_1
"Ayah harus tenang. Jangan sampai ini membuat ayah sakit. Ibu tidak mau sendirian, yah." ujar Lia bertutur sangat manja pada suaminya itu.
Wely yang semula sudah berkeras kembali hatinya mendadak ia pun menurunkan emosi dan tersenyum pada sang istri. "Ibu jangan khawatir, ayah baik-baik saja." jawabnya.
Sementara di kontrakan ini, benar saja seperti dugaan Rio jika pagi ini Melisa sudah bersiap di depan rumah hendak berangkat kerja. Tak perduli dengan mata sembab serta kedua pipi yang memerah. Ia bahkan harus memakai masker untuk menutupi wajahnya. Weni yang mengantar kepergian sang anak tentu saja merasa was-was jika anaknya kembali melakukan kesalahan.
"Sayang, ini." ujarnya menyerahkan beberapa lembar uang dan itu membuat Melisa sangat syok melihatnya.
"Ibu, apa ini? Uang dari mana dan untuk apa?" Melisa tak menyangka kala melihat lembaran uang yang tidak sedikit jumlahnya meski terlihat ada pecahan uang kecil di sana terselip juga.
Mendengar ucapan sang ibu kini Melisa sadar jika dirinya tengah di cemaskan sang ibu. Kepercayaan penuh yang ia dapatkan sejak dulu dari sang ibu kini sudah tidak ada lagi ia lihat di kedua mata wanita yang melahirkannya ini. Sedih, tentu saja Melisa begitu sedih melihat pandangan sang ibu saat ini.
"Baiklah aku terima. Tapi ibu sudah tidak boleh jualan lagi. Ibu istirahat saja yah? gaji Melisa nanti ibu yang atur. Jadi, Melisa berharap ibu tidak berpikir yang macam-macam lagi. Melisa sedang berusaha memperbaiki diri, Bu. Jika bukan ibu yang mendukung siapa lagi?"
__ADS_1
Weni tak kuasa mendengar ucapan sang anak, ia pun memeluk tubuh Melisa yang lemas pagi itu. Sungguh rasanya begitu sakit menjalani kehidupan yang begitu banyak rintangannya. Seharusnya saat ini mereka berdua tinggal menikmati hasil dari perjuangan Melisa selama ini. Sayang, masa lalu yang Melisa lewati dengan kesalahan justru memporak porandakan hidupnya yang tengah di ambang kenyamanan.
Setelah berpamitan, Melisa akhirnya melerai pelukannya dan memutar tubuh hendak melangkah pergi mencari taksi di depan gang kontrakannya. Namun, sebuah mobil yang tak asing tiba-tiba saja terparkir di halaman rumah mereka. Kening Weni mengerut heran melihat sosok pria yang baru malam tadi datang dengan niat yang baik namun harus bubar.
Rio datang tak lupa ia mencium punggung tanganĀ ibu Melisa. Rasa hormatnya pada Weni masih tetap ada sampai pagi ini. Matanya kini beralih pada Melisa yang memakai masker di wajah. Tentu saja ia tahu bagaimana sakitnya menjadi Melisa. Rio sangat yakin itu hanya masa lalu yang sudah Melisa kubur dalam-dalam.
Tak ada yang sadar jika saat ini Weni tampak menyembunyikan senyum di wajah. Melihat kehadiran Rio di depan rumah rasanya ia yakin jika pria ini adalah pria yang benar-benar baik dan tepat untuk sang anak. Ada doa yang tengah ia selipkan saat ini.
"Kita pergi bersama saja. Jangan menolak, ada kerjaan penting yang harus kita kerjakan, Melisa." alibi Rio yang tentu saja tidak bisa di bantah oleh Melisa.
Rio sangat tahu jika Melisa adalah pekerja yang sangat profesional. Dan ia tidak akan mau menolak jika itu menyangkut pekerjaan. Mendengar dari ucapan Rio barusan yang terdengar sangat formal, jelas Melisa sadar jika mereka bukan hanya ikatan sepasang kekasih yang terancam bubar, melainkan sang bos dan asisten.
"Baik, Pak." jawab Melisa.
__ADS_1
Rio pun pamit dengan mengedipkan sebelah matanya pada Weni. Wanita paruh baya itu tersenyum tanda mengerti dengan apa yang Rio isyaratkan saat ini.