Sang Pemimpi Menghalalkan Segala Cara

Sang Pemimpi Menghalalkan Segala Cara
Segala Ketakutan


__ADS_3

Waktu yang selalu di tunggu pasti akan berakhir dengan begitu cepat. Sama seperti Melisa dan Rio yang saat ini sedang bersama merasakan waktu berdua mereka terlalu cepat usai. Hingga kepulangan keduanya sore itu di sambut dengan senyuman wajah wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu. Weni dengan wajah senang melihat sang ana pulang tampak tak asing lagi melihat sosok pria yang mengantar sang anak pulang. Biasa Rio akan singgah sekedar minum teh hangat di kontrakan mereka.


"Bu, saya mau pamit dulu sekalian." ujar Rio saat melihat Weni berdiri menerima ciuman tangan dari sang anak.


Melisa tersenyum menyapa sang ibu sembari memperlihatkan makanan yang ia bawa.


"Pak Rio, ada yang mau saya bicarakan sebentar boleh?" pertanyaan Weni sontak membuat Melisa dan Rio sama-sama menatapnya heran.


Apa gerangan yang ingin di ucapkan wanita itu padanya.


"Bu, ada apa?" tanya Melisa penasaran sebab sang ibu tak ada mengatakan apapun padanya sebelumnya.

__ADS_1


Weni hanya tersenyum dan Rio pun segera menyanggupi untuk bicara bersama ibu kekasihnya. "Boleh, Bu. Tentu saja boleh." jawabnya.


Setelah itu ketiganya pun masuk ke dalam rumah dimana mereka akhirnya duduk di ruang tamu yang berukuran sangat kecil. Melisa tampak menunggu sang ibu bicara.


"Kalian sudah cukup mengenal satu sama lain bukan? Ibu rasa sudah cukup waktunya kalian dekat. Sekarang apa tidak sebaiknya di langsungkan hubungan yang lebih serius lagi?" Ucapan dari Weni begitu membuat Melisa sangat syok.


Selama ini dirinyalah yang begitu takut untuk menuju ke jenjang yang lebih serius. Melisa sangat takut dengan masa lalunya. Sedangkan Rio yang mendengar pertanyaan itu tentu saja sangat senang. Wajahnya begitu cerah menatap sang kekasih. Bahkan tubuh lelahnya sore ini rasanya begitu segar kembali.


Ia sampai memajukan tubuhnya duduk lebih tegak.


"Pak Rio sungguh ingin menikahi anak saya?" tanyanya lagi seolah tak bisa percaya dengan kesanggupan pria ini. Rio pun segera menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Saya sudah lama ingin menikahi Melisa, Bu. Tapi dia selalu bilang belum siap. Selalu melarang saya bertemu dengan ibu." jelasnya.


Kini Melisa hanya bisa pasrah sembari menundukkan kepalanya. Ia benar-benar pasrah dengan takdir saat ini apa pun yang terjadi. Jika memang pernikahan ini terjadi, inilah sudah jalan yang di berikan untuknya.


Usai membicarakan perihal lamaran esok, kini Rio pun berpamitan pulang. Ia pulang dengan mendapat restu dari sang calon mertua. Rasanya begitu sangat bahagia bisa membayangkan pernikahan yang sebentar lagi akan segera tiba. Berbeda halnya dengan Melisa yang kini terbaring lemas di atas kasurnya. Wajahnya mendadak murung saat kepulangan sang kekasih.


"Apa Rio  bisa menerima masa laluku? Bagaimana kalau di saat menikah denganku dia mengetahui semuanya? Aku tidak ingin itu terjadi." Berbagai pikiran buruk mulai memenuhi pikiran Melisa saat ini.


Bayangan akan perselingkuhan, bayangan akan kekerasan sang suami, bayangan akan perceraian dan lainnya membuatnya lama terdiam hingga akhirnya suara sang ibu datang memasuki kamar.


"Mel, ada apa? Apa ada hal yang membuat kamu melarang Pak Rio menemui ibu untuk melamar mu?" Lembut tangan Weni mengusap rambut sang anak.

__ADS_1


Di tatapnya dalam kedua mata sang anak. Jelas terlihat ada ketakutan dan kegelisahan yang Melisa pendam saat ini.


__ADS_2