Sang Pemimpi Menghalalkan Segala Cara

Sang Pemimpi Menghalalkan Segala Cara
Terungkap


__ADS_3

Kini hari yang paling Melisa takutkan akhirnya tiba juga. Malam telah tiba, di mana sebuah mobil terparkir di halaman rumah kontrakan milik Melisa dan sang ibu.  Jelas terlihat dari raut wajah kedua orang tua yang mendampingi sosok Rio tak ada keberatan. Mereka menebar senyum selebar mungkin saat wanita paruh baya tengah menyambut kedatangan mereka.


Weni berdiri bersama seorang pria yang tak lain adalah sang suami. Walau bagaimana pun sang suami pada Melisa dan Weni, Fery tetaplah pria yang menjadi ayah untuk menikahkan anak mereka. Kedua keluarga itu begitu tampak hangat untuk pertama kalinya bertemu.


Rio yang menjadi penengah untuk kedua keluarga itu. Hingga mereka akhirnya masuk ke dalam rumah. Sosok Melisa masih belum juga nampak sebab ia baru saja pulang dari kantor.


Gelisah tentu saja wanita itu rasakan saat berada di dalam kamarnya. Berbagai doa terus ia panjatkan demi kelancaran malam ini. Sumpah demi apa pun Melisa sangat ingin semua baik-baik saja.


Lima menit berlalu, kini akihrnya Weni memanggil sang anak.


"Melisa." panggilnya lembut.


Semua mata tertuju ke arah kamar dimana Melisa akan keluar sesuai dengan arah pandang Weni. Langkah kaki pertama Melisa gerakkan begitu terasa berat sekali, hingga akhirnya ia pun menampakkan wajahnya dengan kepala sedikit menunduk. Kedua tangan miliknya saling bertautan gemetar.

__ADS_1


"Ayo duduk sini." panggil Weni.


Rio yang tidak mengerti apa pun tampak tersenyum bersama sang ibu. Ia begitu senang melihat pandangan kedua orangtuanya yang tersenyum hangat menatap Melisa. Tanpa sadar Rio tak meihat perubahan raut wajah dari sang ayah.


"Cantik yah, Ayah?" tanya Lia pada Wely sang suami.


Bukannya mengangguk mendapat pertanyaan dari sang istri, Wely justru menggenggam tangannya erat. Tatapannya begitu dalam pada wajah Melisa yang perlahan kini ia angkat menatap wajah sang calon mertua. Bersamaan dengan pandangannya yang bertemu dengan sosok Wely, saat itu juga Melisa tampak menahan cairan bening di wajahnya.


Hal yang ia takutkan selama ini ternyata menjadi kenyataan. Melisa lantas tak bisa lagi menahan air matanya. Ia meneteskan air mata kala mengingat siapa pria di hadapannya saat ini. Dan hal itu tentu saja membuat yang lain merasa bingung. Apalagi Weni yang sangat paham wajah sang anak yang ketakutan.


Belum saja sempat Melisa menjawab, suara lantang dari Wely terdengar seketika.


"Rio, ayo pulang!" suara berat itu menggema begitu nyaring.

__ADS_1


Rio dan Lia sama-sama menoleh menatap sang ayah. Begitu pun dengan Fery yang semula tersenyum seketika merubah raut wajahnya bingung.


"Tunggu, ada apa ini? Kenapa pulang? apa lamarannya di tunda?" tanyanya saat sepasang mata Fery menangkap seserahan yang mereka bawa bernilai tinggi.


Wajah Wely benar-benar begitu tak mendukung. Ia menoleh menatap sang anak di sampingnya.


"Rio, cari wanita yang benar-benar masih berstatus gadis. Bukan gadis yang sudah pernah mengandung tanpa ada status yang jelas. Kita pulang sekarang."


Semua terperangah mendengar ucapan dari Wely. Bahkan Melisa sampai terisak di tempat duduknya mendengar ucapan dari ayah sang kekasih. Tak ada kata pembelaan yang bisa ia ucapkan saat ini. Rio pun menatap penuh tanya pada Melisa dan sang ayah.


"Ayah, tunggu. Apa maksud ayah tadi? Gadis tapi sudah pernah mengandung? Apa itu, Ayah?" tanya Rio.


"Apa ini maksud anda, Tuan? anak saya masih gadis belum pernah menikah. Anda menghina keluarga saya." Fery pun tampak naik pitam mendengar tuduhan dari Wely.

__ADS_1


"Saya minta maaf terlalu emosi. Tetapi yang jelas saya tidak bisa menerima putri anda. Saya seorang dokter yang pernah berada di jalan yang salah dulu dan anak anda lah salah satu pasien saya dalam kasus aborsi." Setelah mengatakan hal demikian, semua tampak menatap Melisa tak percaya. Sementara wanita yang di tatap hanya bisa berlari masuk ke dalam kamar menangis.


__ADS_2