Sang Pemimpi Menghalalkan Segala Cara

Sang Pemimpi Menghalalkan Segala Cara
Kecemasan Rio


__ADS_3

Dua mobil yang sudah terparkir rapi di depan sebuah rumah yang tidak begitu luas namun cukup bagus dan asri. Sebuah kota yang tidak begitu padat penduduk menjadi tempat pilihan Wely untuk di tuju saat ini. Semua para anak buah yang ia perintahkan turun satu persatu dari dalam mobil yang membawa tubuh Melisa dan juga Weni. Keduanya baru saja di tuntun untuk masuk ke dalam rumah dan di dudukkan di kursi sofa yang ada di ruang tamu.


"Ibu?"


"Melisa?" keduanya sama-sama saling bertanya seolah kaget di pertemukan dalam keadaan yang baik-baik saja. Sontak keduanya berpelukan begitu erat menumpahkan rasa takut mereka. Di luar dugaan jika mereka akan di pertemukan seperti ini.


"Siapa kalian?" kini Melisa bertanya pada beberapa pria yang ia lihat di depannya.


Tak ada satu pun yang mau menjawab dan mereka justru menekan remot yang mengarah pada sebuah layar. Dan di sana Melisa mau pun sang ibu bisa melihat jelas wajah pria yang tak asing baginy. Yah, dia adalah Wely ayah dari Rio. Sungguh tak di sangka jika dalang penculikan mereka ternyata pria inilah orangnya.

__ADS_1


"Maaf Melisa, Bu Weni jika saya berlaku tidak sopan dengan membuat kalian ketakutan. Tapi saya melakukan ini dengan semua pikiran yang sudah saya pertimbangkan. Saya ingin kalian tetap hidup tenang dan juga begitu dengan anak saya yang akan meneruskan hidupnya tanpa Melisa. Saya harap kalian mengerti yang saya sedang hadapi saat ini. Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya." Panjang lebar Wely berkata bahkan terlihat jelas kedua matanya yang nampak berkaca-kaca.


Melisa menunduk mendengarkan setiap kata yang di ucapkan Wely.


"Saya akan menjamin semua kebutuhan kalian termasuk tempat tinggal. Dan pekerjaan, kamu tidak perlu khawatir Melisa. Saya sudah menyediakan perusahaan yang baik juga untukmu. Yang terpenting Rio bisa hidup tanpa bayanganmu." tutur Wely melanjutkan.


Melisa tak sadar sampai menjatuhkan air mata sedih mendengar penuturan yang halus namun semua mengarah pada hubungannya yang tidak pantas untuk sang kekasih.


Melihat bagaimana kerasnya Melisa saat ini, Wely memilih kembali bersuara. "Bagaimana mungkin saya bisa percaya dengan wanita yang tuhan beri kepercayaan justru di sia-siakan? Buktikan ucapanmu dengan menerima semua yang saya berikan." Wely menantang Melisa hingga akhirnya wanita itu pasrah dengan semuanya.

__ADS_1


Air mata Melisa tak terasa menetes kala Wely kembali mengingatkan hal yang pernah menjadi masa lalu terpahitnya. Kali ini ia benar-benar sangat ingin melupakan semua dan memulai semuanya dari awal. Weni yang duduk di samping sang anak pelan menggenggam tangan sang anak. Ia tahu bagaimana yang terjadi tanpa Melisa menjelaskan padanya.


"Baik, saya terima." Melisa akhirnya memilih pasrah. Ia tidak ingin melihat sang ibu harus berjuang bersamanya dari nol kembali meski hanya satu hari saja.


Baginya di usia sang ibu saat ini sudah sepatutnya ia membahagiakan sang ibu tanpa menyusahkan.


"Tapi dengan syarat, saya harus dengan biaya hidup hasil kerja saya murni. Saya tidak ingin menerima uang di luar gaji kerja saya."


Wely pun mengangguk mendengar permintaan Melisa. Baginya itu adalah hal yang sangat mudah.

__ADS_1


Tanpa mereka tahu jika di sini Rio begitu mencemaskan keadaan sang kekasih, beberapa kali ia bertanya pada orang yang di temui tak ada satu pun yang melihat keberaan wanita yang ia cemaskan sekali. Rio merasa putus asa di dalam mobil memikirkan kemana lagi harus mencari Melisa. Ponselnya bahkan takĀ  bisa di hubungi saat ini.


__ADS_2