Sang Pemimpi Menghalalkan Segala Cara

Sang Pemimpi Menghalalkan Segala Cara
Pertimbangan Weni


__ADS_3

Hari baru mulai Melisa jalani dengan sang ibu. Kehidupan mereka pun dengan cepat sudah kembali normal. Melisa yang begitu mencintai Rio berusaha sekuat mungkin untuk memendam perasaannya. Fokus bekerja demi masa depannya dan juga sang ibu tentu saja menjadi impiannya. Weni bahkan di larang bekerja sama sekali.


Di sini di perusahaan baru, gadis itu sangat giat bekerja. Meski mendapat jaminan kerja dadi Wely, ia tak ingin menggantungkan hidupnya dengan pria itu.


Tentang Rio yang terus berusaha mencarinya begitu tampak menyedihkan. Masih beberapa kali kembali, rumah kontrakan yang semula di tinggali Melisa kini ia kunjungi lagi pagi ini. Berharap bisa menemukan sang kekasih atau informasi lainnya.


“Dimana kamu, Mel? Kenapa harus seperti ini. Siapa yang berniat jahat padamu?” Rio menunduk lemas.


Tubuhnya terasa tak ada semangat sama semali rasanya.


Ketika tiba-tiba dering ponsel berbunyi, akhirnya pria tampan itu sadar jika waktu sudah masuk jam kerja.


“Iya, Pah?” tuturnya.

__ADS_1


Wely yang menelpon tentu saja tidak ingin sang anak menyia-nyiakan waktu untuk Melisa yang saat ini sudah damai hidupnya, pikir Wely.


“Selesaikan kerjaanmu. Papah dan Mamah ingin besok kita berlibur ke luar negeri.” ujar Wely.


Tak ada jawaban dari sang anak, namun Wely sudah menganggap itu adalah penerimaan. Ia pun mematikan sambungan telepon dan kini Rio bergegas menuju ke kantornya.


“Bagaimana mungkin aku bisa tenang jika tidak memastikan kamu baik-baik saja, Mel?” gumamnya di sepanjang perjalanan.


Hal yang sama saat ini Weni pikirkan. Sosok pria yang begitu mencintai anaknya. Tentu saja ia tidak tega rasanya untuk membiarkan hubungan mereka hancur begitu saja.


Lama berpikir kembali. “Apa kali ini aku tidak salah? Aku tidak mau hubungan mereka lepas begitu saja. Rio sangat baik untuk Melisa. Mereka harus tetap melanjutkan hubungan mereka. Tuan Wely saya yakin pasti tidak akan berani melakukan apa pun pada kami. Beliau adalah orang baik.” gumam Weni menimbang-nimbang kembali.


Cukup lama ia menghentikan tangannya sejenak hingga akhirnya mantap menekan tombol panggil.

__ADS_1


Di saat yang bersamaan, Wely sangat kaget mendengar ponselnya bergetar.


Keningnya mengernyit kala melihat nomor yang tidak ia simpan sedang menelpon saat ini.


”Pak Rio, ini saya ibunya Melisa…” ucapan pertama dari Weni begitu membuat Rio membulatkan matanya kaget.


“Bu Weni? Bu, dimana Melisa, Bu? Dimana kalian saat ini? Saya begitu cemas sekali. Kalian baik-baik saja kan?” Jelas Weni bisa merasakan kecemasan dari Rio.


Inilah yang membuatnya sulit untuk melepaskan calon menantu sebaik Rio. Rasanya Weni rela memperjuangkan nyawanya sekali pun demi bisa melihat anaknya bahagia bersama pria seperti Rio.


“Bu?” kembali Rio memanggil hingga membuyarkan lamunan dari Weni. Ia tersentak kaget sampai menjatuhkan air mata yang sejak tadi menggenang.


“Kami- kami baik-baik saja, Pak Rio. Kami ada di salah satu kota. Kemarilah pak, temui Melisa dengan cara menikahinya. Bahagiakan anak saya. Saya percaya dengan cinta anda yang tulus. Tapi saya tidak yakin dengan orangtua anda. Saya mengharapkan keseriusan anda untuk Melisa. Saya tida meminta apa pun. Hanya satu, nikahi anak saya maka saya akan tenang. Tentang kedua orang tua anda…”

__ADS_1


Belum selesai Weni mengatakan semuanya, Rio lebih dulu memotongnya.


“Saya akan datang menikahi Melisa, Bu. Jangan khawatir. Saya akan datang sendiri dan membawa kalian hidup bersama. Saya tahu orangtua saya tidak akan merestui ini semua, saya akan melakukannya sendiri. Saya kesana sekarang juga, Bu.” Wely pun meninggalkan kantor usai mengajukan ijin beberapa hari untuk menikah.


__ADS_2