
Hidup dengan segala aturan yang tak masuk akal akhirnya Fery hanya bisa menghadapi segala kekacauan dari kedua anak gadisnya yang sudah memiliki rumah tangga. Tak hanya itu, sang menantu pun juga tak kala dengan anaknya yang suka membuatnya hampir pecah kepalanya. Hal itu terus berjalan dari waktu ke waktu hingga tak terasa usia Fery yang semakin tua membuat tubuhnya mulai tak kuat melawan sakit.
Pria paruh baya yang hidup tanpa seorang istri kini terbaring lemah. Matanya menatap nanar langit kamar. Ingatan bagaimana sikapnya selama ini dengan Melisa dan sang istri membuatnya sedih. Di saat sakit begini justru kedua anaknya sibuk dengan hidupnya masing-masing. Sedang Vanda satu-satunya anak laki-laki ikut menyusul Melisa, sang kakak ke kota.
Beberapa kali air mata pria itu jatuh merasakan tubuh yang semakin lemas. Selera makan pun tak lagi ia bisa rasakan saat ini.
“Melisa, maafkan Ayah…” lirihnya mengingat sang anak yang hidup paling menderita.
Ia sungguh menyesal dengan semua yang terjadi. Fery menangis hingga tak sengaja telinganya mendengar suara panggilan di luar sana.
“Assalamualaikum, Ayah!” Fery hanya bisa mendengar tak sanggup untuk bangun. Tubuhnya sangat lemas saat ini.
Terakhir pagi tadi Yuyun membawakan makan untuknya setelah itu sang anak tak lagi menampakkan wajah sebab sibuk dengan kerjaannya.
Sementara Arini tengah sibuk liburan dengan suami malasnya itu. Bahkan Andi tak mengurus bengkel sang ayah mertua satu minggu lamanya ia tutup begitu saja. Terlalu nyaman hidup dengan sang istri yang mencukupi kebutuhannya.
“Ayah!” Melisa berteriak kaget saat memasuki kamar dan mendapati sang ayah sudah tak berdaya. Hanya manik matanya yang terlihat terbuka dan mengeluarkan air mata menangis.
__ADS_1
“Ayah, apa yang terjadi?” Weni mendekati sang suami. Ia memeluk sang suami dan mencium punggung tangan suaminya.
Fery semakin menangis.
“Ayah segera sembuh yah? Melisa akan rawat ayah sampai sembuh. Kita semua pulang mau lebaran bareng ayah.” Melisa menangis memeluk sang ayah yang terbaring lemas di atas tempat tidurnya.
Rio juga turut mencium punggung tangan sang mertua.
Mereka berpelukan begitu erat. Fery sungguh tak menyangka di keadaannya seperti ini justru anak yang pernah ia sakiti datang bak seorang malaikat.
Sejak saat itu Melisa benar-benar menepati janjinya merawat sang ayah. Bahkan ia sendiri yang memasak khusus untuk sang ayah. Setiap tiga kali sehari ia mengganti menu masakan untuk sang ayah agar bisa napsu makan.
“Aku benar-benar tidak salah memilih istri.” ujar Rio berucap dalam hati penuh syukur.
Sepanjang haru Melisa mengurus sang ayah.
“Mel, udahlah nanti ayah sembuh dia bakal jahat lagi sama lu.” Arini dengan acuhnya memperingati sang adik.
__ADS_1
Melisa tak menyangka sang kakak setega itu pada ayahnya sendiri.
“Kak, itu ayah kita loh. Ayah yang hidupin kita bahkan semua mau kakak di penuhi ayah. Kenapa kakak tega bicara begitu?”
“Heleh kamu kok munafik banget sih, Mel? Kamu ada maunya pasti kan baik-baikin ayah begitu pake bawa suami dan ibu segala lagi. Pasti ada yang kamu rencanakan. Apa? Suami kamu bangkrut kah?” Arini dengan ketusnya bertanya pada sang adik.
Tanpa keduanya sadari di sini Fery menangis menguping perdebatan kedua anaknya. Sunguh pengesalan yang teramat ia rasakan saat ini.
Membeda-bedakan kasih sayang pada anak-anaknya menjadikan cambuk tersakit bagi Fery di usia tuanya.
Ia berjalan mencari sang istri yang tengah mencuci pakaian di dapur. Pria itu menggeleng tak kuasa melihat punggung sang istri. Rasa bersalah kian menggunung di dalam hatinya.
“Bu,” Weni sangat kaget saat mengetahui sang suami memeluk tubuhnya dari belakang. Ia membalikkan tubuh dan melihat sang suami yang menangis terisak penuh penyesalan.
“Ayah minta maaf, Bu. Maafkan Ayah. Ayah salah dengan ibu dan Melisa. Ayah salah mendidik anak-anak kita.” Weni sampai menitihkan air mata juga mendengar penyesalan yang sangat ia tunggu-tunggu dari bibir sang suami.
Kini semua terbukti. Apa yang di terapkan dengan ilmu yang salah tentu akan berakhir dengan kekacauan. Fery telah mendapatkan penyesalan dari semua terapan hidupnya yang salah pada anak-anaknya.
__ADS_1
TAMAT