
"HEH ITU!"
Aksara tetap berjalan menyusuri lorong-lorong kelas.
"HEH KAMU BERHENTI!" Teriaknya lagi.
Masih saja tidak di hiraukan, berjalan santai menuju kelas.
"AKSARA! BERHENTI, KESINI KAMU!"
Barulah Aksara menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah sumber suara. Matanya menatap heran kepada teman-temannya yang duduk dengan atribut aneh. Juga dia melihat ada beberapa anak yang tengah berdiri kepanasan di samping siswa senior yang baru saja berteriak kepadanya itu.
"ADA APA YA!?" balasan berteriak keluar dari mulut Aksara dengan santai. Suaranya pun jauh lebih lantang dari orang yang meneriakinya barusan.
"HEH! MURID BARU NANTANGIN YA!" kembali teriakan terdengar dari laki-laki tersebut.
Tanpa ba bi bu, cowo yang baru saja meneriaki namanya tersebut berjalan dengan langkah lebar setengah berlari mendekat ke arah Aksara.
"Kamu terlambat, sini kamu!" perintah cowo tersebut, tangannya menunjuk langsung muka Aksara, sementara tangan satunya dia tentengkan di pinggang. Tanpa menunggu persetujuan Aksara, pria tersebut menggandeng tanganya menuju ke depan berbaris bersama beberapa teman yang terlihat sudah mulai layu karena sinar matahari. Aksara pasrah, ketika dia juga ikut dalam barisan yang sedang di hukum.
"Kamu tahu kita masih dalam masa orientasi siswa?" tanya pria tersebut.
"Oh ya? aku kira kemarin sudah selesai." jawab Aksara cuek, dengan watados. Wajah tanpa dosa.
"APA?! INI BARU ORIENTASI BARU, KAMU BILANG KEMARIN HARI TERAKHIR. GILA KAMU YA ENGA TAHU HARI!" Teriak Bagas memaki tanpa alasan yang jelas.
"Maaf ya kakak senior yang terhormat, kemarin tidak ada guru yang bilang bahwa MOS itu wajib dan harus mengenangkan atribut enga jelas kaya gini." bantah Aksara, menunjuk beberapa temannya yang sedang di hukum dengan atribut-atribut aneh.
"Kamu tau orientasi ini bertujuan untuk saling mengenal dan mengakhrabkan satu sama lain..."
"Itu kan pendapat kakak sendiri." Potong Aksara.
"Ngelawan kamu ya!"
"Tidak kak, hanya membela diri. Namun malah menjadi tersangka."
Terdengar senyum mengejek dari para murid yang lain. Bagas yang merasa harga dirinya di rendahkan pun murka.
"Apa yang membuat kalian tertawa!?" Sentak Bagas kepada murid-murid yang sedang dia hukum.
"Ada hal lucu hingga membuat kalian tertawa?!" sambung Bagas lagi. Heh kamu!" tunjuk Bagas pada siswi yang menundukkan kepalanya.
Tidak ada yang membalas, kemudian Bagas berjalan mendekat dan bicara langsung di depan muka siswi tersebut hingga membuatnya ketakutan.
"Denger enga aku tadi panggil kamu?!"
Masih dengan wajah menunduk siswi tersebut menjawab, "Ma- maaf kak, saya merasa nama saya tidak di panggil."
Bagas semakin geram mendengar jawaban siswi tersebut.
"NGELAWAN KAMU YA!?" Tanpa ampun Bagas mendongokkan wajah gadis itu dengan cara menjambak rambut ekor kudanya ke belakang.
"E-enggak kak, maaf... sa-kit kak." rintihnya.
"Bagas..." cegah teman lainnya.
"Diam kamu." tunjuk Bagas dengan membentak temannya untuk tidak ikut campur urusannya.
"Waaaahhh... hebat ya kakak kelas di sini, baru juga naik jadi senior udah belagu." Tepuk tangan terdengar dari arah luar barisan. "Jangan keterlaluan gitu Gas, kena karma nanti."
"Diam kamu Yos! anak seperti mereka memang harus di kasih pelajaran!" elak Bagas.
__ADS_1
"Tapi enga gitu juga kali kak." Ujar Aksara.
"Kamu ya! lari keliling lapangan sepuluh kali!" perintahnya lagi, yang merasa harga dirinya tidak di hargai.
"Hey, Bagas jangan keterlaluan kamu."
"Tidak bisa begitu Fit." bantah Bagas.
"Gila kamu ya Gas." Ulang Yosi.
"Gas, dia anak orang ingat..." imbuh Afita lagi.
Sinis Aksara menitik laki-laki bernama Bagas tersebut. Tangannya merogoh saku rok, mengambil karet gelang yang sudah dia siapkan tadi di rumah. Di lemparnya tas yang ada di bahunya secara sembarangan. Perlahan Aksara mulai melakukan peregangan kaki, seraya tangannya sibuk mengucir rambutnya yang tidak seberapa.
Sementara seniornya masih ribut, Aksara sudah mulai berlari mengitari lapangan.
"Hey!" teriak Afita terkejut dengan larinya Aksara. Mencegah Aksara untuk berlari pun rasanya percuma. "Gas, keterlaluan kamu ya." sambung Afita lagi, memandang Bagas dengan wajah khawatir.
"Yang salah harus di hukum Fit." Tegas Bagas.
"Ngaca dong, kamu sendiri juga salah! mentang- mentang jadi ketua mos, belagu kamu ya! Kalo ada apa-apa sama mereka, kamu yang tanggung jawab. Aku sudah memperingatkan mu!" Marah Afita.
Dua pasang manik mata jenaka nan lugas memandang Aksara sedari tadi dia berjalan memasuki sekolah. Binar berpendar penuh gelora kekaguman. Netranya masih juga menelisik setiap garis tegas bingkai wajah Aksara. Bibirnya tersuguh senyum tipis. "Aksara." Gumamnya.
"Aksara, stop!" pinta Afita.
Sayangnya Aksara tidak menggubris permintaan tersebut. Dia tetap berlari bak ikut lomba maraton. Tanpa jeda, terus berlari hingga sepuluh putaran.
Afita yang tidak tega ikut berlari memohon untuk Aksara berhenti.
"Ak... hahh... haahh... Set tooop... hhh... " Afita yang baru ikut tiga putaran sudah ngos-ngosan di buatnya.
"Heyhhhh... haahhh... seth toph hahhh..."
Lagi, Aksara tidak menggunris Afita yang mencegahnya untuk berlari. Afita yang sudah tidak sanggup menggejar, dia memilih untuk berhenti.
"Gila hahhh... hahhhh... minta minum woy..." Afita mengatur nafasnya yang tidak beraturan. "Yos, minta minum... gila tu cewe, kenceng baget larinya."
"Ngeri, Gas itu anak orang kalo mati tanggung jawab kamu ya." Ancam Afita.
Bagas bergidik ngeri melihat Aksara yang berlari tanpa ngos-ngosan. Hatinya jadi was-was jika setelah ini terjadi sesuatu padanya. Wajahnya mulai panik. Sebentar menatap Aksara yang berlari, sebentar menatap gusar wajah teman-temannya yang sama cemasnya seperti dirinya.
Satu putaran lagi, Aksara selesai mengitari lapangan. Terik matahari yang semakin meninggi, menambah keranuman aura yang terpancar dari tubuh Aksara. Membuat kaum adam terpesona di buatnya.
Suara tepuk tangan tiba-tiba bergelora, bergemuruh membahana, setelah Aksara menyelesaikan larinya. Kemudian mereka meneriaki nama Aksara.
"plok plok plok plok plok...."
"Aksara, Aksara, Aksara...."
"HIDUP AKSAAAA...."
Aksara bergegas menghadap Bagas yang tadi memintanya berlari. Dengan sikap siaga, suara lantang Aksara menggema membelah sorak-sorai namanya yang di terikai oleh teman-temannya.
"Lapor! nama Akasia Aksara telah menjalankan tugas lari lapangan sepuluh kali. Laporan selesai!"
Mampus, Bagas malu dengan tingkah Aksara, dimana dari sorak sorai namanya tadi telah mengundang rasa penasaran dari guru serta murid-murid yang lainnya. Hingga semakin menambah riuh kerumunan memenuhi lapangan.
Aksara memberi hormat pada Bagas dengan sikap sempurna. Mundur beberapa langkah kemudian bubar jalan, meninggalkan Bagas yang penuh dengan tanda tanya.
Dengan santainya Aksra melepas kucirannya, berjalan mengambil tas yang dia tinggalkan begitu saja.
__ADS_1
"AKSARAAAA KEREEENNN!!!!"
"I LOVE YOU AKSARAAAA..."
Aksara masih mampu mendengar namanya yang di elu-elukan para teman-temannya. Dia tersenyum bangga. Akhirnya dia bisa mencari perhatian dan membuat kenangan indah di masa sekolah ini. Namanaya akan banyak yang mengingatnya, tidak mudah untuk melupakan kenangan ini.
Dengan langkah mantap penuh dengan harapan, Aksara berjalan menuju kantin sekolah barunya. Ya kali aja lari sepuluh putaran membuat cacing di perutnya konser hardcore.
"Bu nasinya sudah matang?" Tanya Aksara seraya menghempaskan pantatnya di bangku kursi dekat air mancur taman.
"Sudah, mau makan?" Mba Ijah balik bertanya.
"Iya mba, saya lapar." Balas Aksara menyuguhkan senyum manisnya.
"Loh? Murid baru? ndak ikut di **** po mba?" (loh? Murid baru? Tidak ikut di jemur mba?)
"Apa mba? Di ****?" Ulang Aksara.
"Itu loh mba di jemur, enga ikut?" Ulang mba Ijah.
"Enga ah mba, buang-buang waktu, lagian saya sudah lari keliling lapangan sepuluh kali. Lapar saya mba." Ujar Aksara sopan. "Mba nasinya di banyakin ya. Minumnya air putih saja." sambungny.
"Iya mba, tunggu ya."
Seraya menyantap makannya, Aksara membayangkan jauh masa-masa sekolahnya nanti satu tahun kedepan. Kok satu tahun? Iya, karena Aksara murid pindahan yang masuk kelas tiga. Dia ikut kakaknya yang di pidahkan di daerah kota sini.
Lima tahun lamanya dia harus berjuang seorang diri. menunggu kakaknya menyelesaikan 'sekolah' dalam tanda kulip. Ke dua orang tuanya memilih untuk berjuang bekerja di tempat asing dan berbahaya, dua tahun lagi keduanya baru selesai kontrak dan pulang ke Indonesia. Itu pun jika di izinkan.
Aksara memandang layar handponenya yang menyala di atas meja samping gelas minum. Dengan segera Aksara menekan tombol ke samping. Hingga terhubung vido call bersama orang yang dia cintai.
"Mama..." ujar Aksara seraya melambaikan tangannya kearah layar handpone dengan riang.
"Baru apa kamu nak?"
"Aksa baru makan ma." senyum merekah dari bibirnya.
"Jadi menyusul di kota tempat kakak mu sekolah?"
"Iya ma, siapa lagi yang Aksa punya selain kakak sekarang ini. Mama papa jauh, yang dekat hanya kakak, enga mau dong Aksa di tinggal sendirian di sana, sementara kakak aja di pindah di sini." Jelas Aksara seraya menyendokan makan ke mulutnya dengan penuh.
"Ya sudah, jaga kesehatan, janga lupa tetap olahraga." Pesan mama.
"Iya ma-" Aksara melihat layar handponenya, disana ada beberapa orang bersliweran silih berganti.
'help me madam-'
"Sudah ya ma, mama selesaikan pekerjaan mama aja dulu. Da mama cuim jauh dari Aksa dan kakak..." Tanpa menunggu jawaban, Aksara mengakhiri video callnya.
Dengan menghela nafas berat, Aksara segera menghabiskan makannanya yang tinggal sedikit.
"Aksara-" sapa beberapa anak yang tadi sedang di hukum.
"Ah, hay..." senyum ramah tersuguh kembali dari bibir Aksara yang hendak berdiri meninggalkan bangkunya, namun tidak jadi hingga membuatnya urung meninggalkan mejanya.
"Ah, gimana?" Aksara menunjuk rambut anak itu yang tadi di jambak oleh Bagas. "masih sakit?" sambungnya.
"Oh, ini enga, sudah tidak apa. Oh ya, perkenakan aku Noni." ujarnya memperkenaan diri.
"Aku-" Aksara menggantung kalimatnya, "ah pasti sudah tau namaku semua, haha..." tawanya.
"Iya, salam kenal Aksa." Senyum Noni juga.
__ADS_1