
Aksara memejamkan matanya sejenak. Mengingat kembali kejadian belasan tahun silam. Luka masih membekas tegas di hatinya. Meski sebenarnya dia sendiri masih belum percaya dengan keputusannya saat itu. Perpisahan yang menyakitkan. Namun pada akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali.
Malam semakin larut, Aksara berjalan menuju dapur. Mengambil kopi saset dan menyeduhnya dengan air panas. Hanya bisa memandang buih kopi yang mengapung dalam cangkir setelah dia mengaduknya. Dengan nafas berat, Aksara kembali berjalan di tempatnya tadi.
Yosi adalah teman semasa sekolahnya. Dimana mereka juga telah menjalin hubungan hingga masuk ke bangku SMA. Namun karena kasta yang tak kasat mata, hubungan yang terjalin antara mereka harus berakhir. Terlahir menjadi anak tunggal dan dari keluarga papan atas. Apapun yang dia inginkan, pasti terpenuhi, keculai cintanya pada Aksara.
Aksara kembali melangkahkan kakinya menuju peraduan. Berusaha memejamkan matanya sejenak. Sayang, pikirannya yang sedang tidak sejalan dengan hatinya membuatnya tidak sanggup terlelap.
Bangkit kembali menuju meja kerjanya. Di seruputnya kopi yang sudah dingin. Bayangannya masih tidak sanggup lepas dari sosok Yosi. Kekasih dari masa lalunya. Masih terbayang jelas dalam sanubarinya, awal dia berkenalan dengan Yosi.
***
Masa Sekolah
__ADS_1
Segera berlari menuju bis yang masih juga ngetem menunggu penumpang. Jam di tangan Aksara sudah menunjukan pukul tujuh lebih empat menit. Jelas saja telat masuk ke sekolah. Padahal jarak tempuh rumah hingga sekolahnya memakan waktu lima belas menit. Belum waktu berjalan dari dia turun bis hingga ke sekolahnya.
Dengan kasar Aksara menghembuskan nafasnya. Diburu waktu pun percuma, karena bis tersebut masih menunggu penumpang yang lainnya.
"Tidak apa, ini hari pertama masuk sekolah." gumamnya.
"Yok yang pasar, yang emol, yang mau kerja, yang sekolah, yang mau jalan-jalan... Tarrrrrriiikkk sisss!!!"
"Piro?" (berapa) tanya kenek.
"Patang puluh papat ngo tuku solar, sik satus ewu ngo setoran." Jawab si sopir. (empat puluh empat untuk beli solar, yang seratus ribu untuk setoran)
"Rampung iki mandek terminal sik, ngeleh aku meh mangan. Koe wes di pakani bojo mu rung? ( Selesai ini berhenti di terminal dulu, lapar aku mau makan dulu. Istri mu sudah kasih makan belum?) Teriak supir, matanya tetap fokus lurus kedepan memandang jalanan beraspal.
__ADS_1
"Aku di gawani sego bojo ku sak rantang pak, engko di mangan bareng." (Istriku membawakanku bekal satu rantang, nanti di makan bersama.)
"Weeess jan, manten anyar, hahahaha... yo budal iki engko mangan sik. Selak ngeleh aku." (waaahhh pengantin haru, hahaha... selesai ini nanti makan dulu, lapar aku.)
Aksara melongo mendengar percakapan sopir dengan kernetnya.
"Jam piro iki dek, yah ene lagi menyang sekolah." (jam berapa ini dek, jam segini baru berangkat sekolah.) Tanya kernet, seraya menarik ongkos.
"Hehehe..." Aksara hanya tersenyum tanpa tahu harus menjawab apa, karena dia belum terlalu fasih bahasa jawa.
"Ongkos ongkos ongkos..." Tanpa menunggu jawaban dari Aksara, kernet tersebut berlalu menarik ongkos penumpang selanjutnya.
Waktu yang semakin berlalu, mentari yang semakin meninggi tidak lagi di hiraukan oleh Aksara. Sekolah terlambat pun sudah merasa ah sudahlah.
__ADS_1