Sebungkus Aksara Luka

Sebungkus Aksara Luka
Hasrat Bergejolak


__ADS_3

Malam, bisakah aku tenggelam dalam bayang masa lalu?


Sejenak saja.


Tak perlu lama-lama.


Aku hanya ingin bertemu dengan diriku di masa lalu.


Bisakah kau pertemukan akh dengannya?


Ada yang ingin ku sampaikan...


Baiklah, ku sampaikan saja di sini. Titip pesan untuk masa lalu ku, dari aku masa depan yang mengulik masa lalu.


Terimakasih, karena kesabaran mu, aku mampu membeli dendam yang menggerogoti tubuh ku.


Aku tahu keputusan mu yang terbaik. Karena mu, suatu saat nanti, di masa depan yang akan datang kembali, dan aku menjadi masa lalunya. Ini adalah keputusan yang tepat.


Aku tidak menyesal menjadi miskin. Setidaknya kemiskinan ku membuatku semakin banyak menikmati syukur akan rahamt dan rizky Tuhan yang tiada habisnya.


Tidak lupa ku sisihkan, sampai sekarang. Entah sudah berapa banyak yang mampy aku beli. Termasuk mulut sombongnya.


Meskipun, yah...


kau tahu, aku belum bisa benar-benar melupakannya hingga sekarang.


Waktu yang enga sebentar...


Ah, semoga saja aku semakin kuat menghadapi mulutnya yang semakin angkuh.


Bertahun-tahun aku mencoba bersabar dengan apa yang sudah dia lakukan pada keluarga ku hingga sekarang.


Rasanya ingin ku injak-injak kembali, ku kembalikan kata-kata sombong untuk meruntuhkan dirinya dari kedudukan saat ini.


Anak ku, jangan turun sifat mama yang pendendam ya... mama berusaha sebaik mungkin menjadi orang tua untuk mu. Agar kamu hidup kala besar nanti tidak seperti mama.


***

__ADS_1


Jio termenung menatap Yosi. Ada debaran aneh saat mata sayunya menatap wajah mengantuk Yosi. Tatapannya solah tak bisa berpaling dari wajah tampan temannya tersebut. Segera di tepisnya perasaan itu buru-buru. Agar tidak terlanjur dalam apa yang dirasanya.


 


"Inget, inget... bego... tolol...!" Jio gusar mumukul-mukul kepalanya. Mengingkari gelora hasrat yang bergejolak di relung jiwanya.


 


"Yos, bangun lo!" Jio menepuk pundak Yosi., berusaha membangunkan temannya tersebut kembali.


 


Percuma, tubuh Yosi hanya diam meringkuk di atas meja. Bangkit dari duduk pun terasa sulit bagi Yosi. Tubuhnya benar-benar lemah, lemas tak berdaya.


 


"Drrttt..."


 


 


"Drttt..."


 


Lagi.


 


Kali ini Jio mengangkat telfonnya, setelah bergetar dua kali. Dia takut istrinya salah paham, kemudian mengamuk padanya.


 


"Halo sayang..." Jawab Jio, setenang dan semanis mungkin. "Iyaaa... sebentar lagi ya... hehe... daaa.." Dengan asal Jio menjawab, kemudian tanpa menunggu jawaban dari seberang, ia langsung menutup dan mematikan ponselnya. Takut jika di tanya macam-macam.


 

__ADS_1


Termenung kembali menatap Yosi, setelah mematikan ponselnya. Di garuknya kepala yang mulai berminyak.


 


"Yos... ayo pulang." Ajak Jio kembali, seraya berjalan mendekati meja Yosi.


 


Dasar emang sudah teler, Yosi yang di panggil dan di ajak pulang bahkan sudah di bangunkan berkali-kali, masih saja diam tak berdaya di mejanya. Jio terlihat frustrasi.


 


Sementara Yosi dengan badan panas yang lemah. Evek dari minuman keras yang baru saja dia tenggak, matanya berusaha untuk tetap terbuka. Namun hasratnya tak tersampaikan, seolah sistem di jiwanya padam. Seperti hatinya.


Resah, gelisah bercampur menjadi satu.


"Yos, gue anter pulang yuk." Jio mendekati tubuh Yosi, mengangkatnya.


"Ayolah Yos..."


Jio kembali fustasi memapah tubuh Yosi.


-------


 


saya mau istirahat dulu.


 


 


janga lupa mampir di ig dan akun sosmet saya yang lain.


 


yang mau join grub wa atau telegram bisa. :)

__ADS_1


__ADS_2