
Teruntuk kamu yang dekat namun terasa jauh.
Aku merindu pada candu cumbu rayu mu. Pada secawan madu yang pernah kita tenggak bersama.
Belai penuh kasih mu...
Kerlingan sinar netra mu...
Hangat peluk tubuh mu...
Dekapan dan cumbuan mesra saat bersatu dengan mu...
Kasih...
Apalah artinya aku dalam hidup mu?
Tangis yang tak pernah kau seka,
luka yang kian mengangga tak lagi kau jaga...
Kasih...
siapa lagi yang ku punya selain diri mu?
Tak sanggup aku jika harus berpaling untuk yang lain.
Hati ini tak rela,
meski entah berapa tanaman luka yang kau pupuk mekarkan di antara kita.
Kasih...
Rindu ku ini...
ingin ku akhiri, namun aku tak sanggup jika harus jauh dari mu...
__ADS_1
Kasih, rindu ku ini terlalu menggebu...
datanglah, dekap aku dalam abu birunya rindu.
Jadikan aku candu rindu mu, di saat lelah letih mu. Menjadi tiang untuk mu bersandar.
Sadarkan aku di kala kilaf ku.
Aku merindu candu mu yang bak sesapan madu.
Dari aku yang haus akan candu mu.
***
Matanya terlihat liar, nanar menyapu sekitar. Seolah mencari mangsa yang ingin di terkam. Sesekali matanya terpejam, terlihat begitu keras untuk menolak kenyataan. Rona bibirnya terkadang melengkung kebawah, terkadang ke atas kadang pula membentuk kerucut, cemberut dengan kehidupannya.
"Ra, udahan yuk." Sebuah suara membuyarkan lamunnya. "ngelamun kamu?" sambungnya.
Aksara memasang muka sebal yang tidak bisa disembunyikan. Sedetik kemudian Aksara tersenyum.
"Sara?" Mata Aksara menoleh kearah suara. "Aksara, apakabar?" sapanya dengan ramah. Wajahnya terlihat jelas menggambarkan kerinduan yang membuncah.
"Baik." Dahi Aksara masih saja mengeryit, berusaha keras mengingat siapa gerangan sosok yang berdiri di hadapannya kini.
"Jangan bilang lupa sama aku." Tebak manusia tersebut.
Aksara hanya berdiri mematung, memandang dari atas hingga bawah, masih berusaha mengingat. Namun dia tahu betul dengan suara yang mampu membuat paduan suara di hatinya.
"Yosi?"
"Deg!" Jantung Aksara tiba-tiba berdentum tak karuan. Badannya kaku, tidak sanggup bergerak.
"Noni?" sosok yang di panggail Yosi tersebut membelalakan mata, seolah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. "apakabar kamu?" sambung Yosi.
Noni segera bergegas menghampiri Yosi dan Aksara.
__ADS_1
Perlahan Aksara undur diri diam-diam. Dia bergegas menuju kasir, membayar makanan yang tadi dia pesan bersama temannya.
"Kenapa harus bertemu dengannya. Bertahun-tahun aku mencoba melupakannya. Cih! aku bisa, aku harus bisa tanpa dirinya." Batin Aksara. Dia berusaha terlihat baik-baik saja. Berjalan mendekati mereka berdua lagi.
"Yosi mau ngajakin ngobrol." Ujar Noni.
Aksara hanya memandang dengan sebelah matanya. Kemudian, dia kembali menunduk berjalan ke meja yang tadi mereka tempati. Setelah mengambil barang-barangnya, Aksara segera pamit pada mereka berdua.
"Ra..." Noni menahan tangan Aksara yang hendak berlalu meninggalkan mereka. "Yosi mau ngobrol sesuatu sama kamu." Sambung Noni.
Aksara memandang tangannya yang di pegang Noni. Kemudian matanya beralih memandang tajam mata Noni, sahabat satu-satunya yang dia miliki sekarang.
Senyum sinis tersuguh di bibir Aksara. Matanya memicing seolah menantang, padahal, jika saja mereka tahu, rasa rindu Aksara terhadap Yosi tak dapat di ukur dengan meteran sekalipun.
Aksara diam. Hanya gelengan kepala yang memeberi jawaban pada mereka.
"Ra... " Noni memelas.
Aksara menghela nafas panjang. "Baiklah." Jawabnya kemudian, dia tidak tega melihat sahabatnya memelas seperti itu. "Sebentar saja ya."
"Oke, makasih Ra." Senyum Noni.
"Yosi... sini." Pinta Noni.
Senyum Yosi merekah, bak bunga mekar dengan memancarkan wanginya yang semerbak. Bergegas menghampiri Aksara yang sudah menunggu di parkiran.
.
.
.
.
tamat
__ADS_1
^^