Sebungkus Aksara Luka

Sebungkus Aksara Luka
Mendustai


__ADS_3

Yosi mendengus dengan kesal. Sebal akan peraturan mamanya. Dia sudah bukan anak kecil lagi, namun mamanya masih saja memperlakukannya seperti bocah tiga tahun.


Bisa saja Yosi memaksa pak supir untuk jajan kentang semlidut yang dia inginkan. Tapi pasti mamanya tahu, karena jaraknya lumayan jauh dari butik tempat mamanya. Dia tidak ingin pak Ari, sopir kesayangannya ini di pecat seperti sopir-sopir yang lainnya gara-gara tidak patuh pada perintah mamanya.


"Tapi mas, saya punya sesuatu buat mas." Pak Ari tersenyum menoleh ke arah kursi belakang. Seraya menyerahkan bungkusan dengan tangan kanannya.


"Apa ini pak?" Bertanya heran memandang kresek hitam yang di serahkan pak Ari kepadanya.


"Kentang semlidut... hahaha..."


"Yang bener pak?" Senyum merekah dari bibir Yosi. Gegas di ambilnya plastik dari tangan pak Ari. "Waaahhh iya beneran... makasih pak Ari."


"Sama-sama mas. Segera di habisan, nanti mama keburu tahu." Pintanya.


"Iya pak." Yosi dengan gembira membuka kresek tersebut, kemudian menyantap kentang yang dia inginkan dengan perasaan bahagia.


Kentang semlidut, sebenarnya hanyalah kentang goreng tepung biasa. Terletak di seputaran kampung dekat kampus, dengan di beri bumbu tabur, ramenya minta ampun. Asli enak poool, kalian pembaca mesti coba jika main di sini. Nanti aku kasih tau tempatnya kalo belum tau. Hahaha...


Pak Ari menatap Yosi dengan perasaan lega. Dia sudah bekerja dengan keluarga Yosi selama sepuluh tahun lamanya. Yosi sudah di anggap seperti putranya sendiri.


"Makasih ya pak Ari." Ucap Yosi.


"Sama-sama mas. Jejaknya di hilangkan dulu, nanti bapak kena damprat mama lagi." Pak Ari mengingatkan dengan nada bercanda.


"Iya pak, aku ya enga mau bapak di pecat gara-gara sudah membelikan ini buat aku." Yosi bergegas membersihkan kembali sisa-sisa makanan yang baru saja dia makan.


"Mas Yosi bisa aja. Kalo saya di pecat, kan mama bisa cari supir yang baru."


"Engak pak! Saya enga mau. Maunya sama pak Ari." Tolak Yosi.


"Loh kenapa to mas. Bisa jadi sopir pengganti saya nanti jauh lebih baik dari saya kerjanya." Tanya pak Ari seraya tersenyum jenaka.


"Engak ya engak! supir mama aja sudah ganti puluhan kali, bosen saya lihatnya pak. Bikin mata sakit, sebentar ganti sebentar ganti. Huh!" Yosi mendengus kesal akan sikap mamanya.

__ADS_1


"Ndak gitu juga to mas... ndak wes ndak, nanti saya mengabdi sama mas Yosi sampai mas Yosi menikah wes." Janjinya.


"Saya enga mau nikah, biar pak Ari jadi supir saya selamanya."


"Wooo ya ndak gitu no mas... saya ya pengen buka usaha sendiri, pengen santai kalo saya sudah tua nanti, tinggal ngemong cucu..."


Yosi terdiam mendengar pak Ari. Ya benar, dia tidak bisa selamanaya mengandalkan pak Ari sebagi supirnya. Suatu saat nanti pasti dia tidak bisa mengandalkan pak Ari lagi. Entah itu kapan.


"Pak."


"Iya mas?"


"Kalo senggang kapan-kapan ajarin saya pakek mobil ya?" Pinta Yosi.


"Tapi mas, kalo mam-"


"Halah pak, diam-diam lah, jangan sampai mama tahu." Potong Yosi.


"Oke, baiklah..."


***


"Eleh-eleh... jam berapa ini... kamu telat lima menit. Kemana hayo!?" Tanya bu Dinda, bertanya penuh dengan rasa curiga, saat mendapati putra sematawannya baru masuk ke dalam butik.


"Kamu enga jajan sembarangan lagikan?" Tanya bu Dinda lagi penuh selidik.


Sinis Yosi menatap mamanya. Begitu masuk butik Yosi langsung bergegas duduk di sofa dan mengeluarkan handponenya. Tidak menggubris pertanyaannya mamanya.


"Yosi, mama lagi bicara sama kamu." Berjalan mendekati Yosi. "Makan siang Yosi di siapkan ya, sekarang!" Berteriak pada karyawan.


"Kamu kenapa sayang?" Bu Dinda duduk mendekati Yosi, seraya tangannya membelai rambut anaknya.


"Enga apa ma, Yosi capek. Tadi di suruh berdiri sama senior. Mana panas lagi." Cerita Yosi, asal. Dia lupa pernah terjadi sebuah tragedi di sekolah sebelumnya gara-gara dia bercerita tentang mos-nya dulu.

__ADS_1


"Kamu di jemur nak? anak mana yang berani berbuat seperti itu kepada mu?" Bertanya dengan kaget.


"Biasalha ma, senior." Yosi menjawab acuh.


"Awas saja, nanti akan mama beri pelajaran" Ancam bu Dinda.


"Alah, sudahlah ma, kaya anak kecil aja." Yosi mendengus kesal dengan sikap mamanya.


"Kaya anak kecil gimana maksud kamu Yos? Ini enga bisa di biarkan! Pokoknya mama akan telpone kepala sekolah kamu untuk memberi pelajaran pada kakak kelas mu itu! Enak saja main-main dengan anak kesayangan mami!"


Yosi pasrah dengan sikap mamanya. Bukan untuk yang pertama kalinya bu Dinda bersikap seperti itu terhadap anaknya. Hingga membuat Yosi tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.


Yosi diam sejenak, berfikir. Kemudian dia meralat omongannya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak dia ingnkan. Dia tidak ingin di pindahkan ke seklolah lain lagi untuk kesekian kalinya. Sudah cukup, karena dia tertarik dengan anak baru yang dia inginkan.


"Ma, yang di jemur itu anak-anak baru. Aku kan sudah masuk sebelum peneriamaan siswa-siswi baru." Jelas Yosi, mengintrupsi kalimatnya.


"Benar begitu?" Menghentikan tangannya yang sedang hendak mencari kontak kepala sekolah Yosi.


"Iya ma." Ujar Yosi dengan mantap. Menatap mata mamanya meyakinkan.


"Iya juga ya, kamu kan sudah masuk ke sana sejak beberapa bulan yang lalu ya." Bu Dinda bergumam dengan penjelasan anaknya.


Yosi bernafas lega, mendengar gumaman mamanya. Kemudian beralih pada maknan yang sudah di siapkan oleh karyawan mamanya.


Semua tidak boleh Yosi lakukan. Padahal hal tersebut bisa menghambat pertumbuhan pada kemampuan sosisalisasi Yosi. Namun bu Dinda tidak peduli. Semua dia serahkan pada pembantu dan karyawannya.


Memang ya, keluarga kaya. Bisa semena-mena selama ada uang. Sebagai keluarga terhormat, bu Dinda selalu mementingkan kehormatan keluarganya. Tidak peduli jika harus mencekik saudara sendiri. Masalahnya bu Dinda terlahir sebagai anak tunggal, begitu juga dengan suaminya. Karena itu semua harta kekayaan ke duanya tidak pernah habis meski hanya untuk foya-foya semata.


Meski kesal dengan mamanya, Yosi tetap saja memakan hidangan yang sudah mamanya siapkan. Walau pun, yaaahhh bukan mamanya sendiri yang menyiapkan untuknya.


Ini adalah butik milik mamanya. Selain butik ada juga beberapa perusahaan yang mamanya kelola. Namun karena ada orang kepercayaan, mamanya hanya fokus mengurus butik ini saja.


Beda halnya dengan papa, dia selalu sibuk kesana kemari hanya untuk mengecek hal-hal yang remeh. Meski pun sudah ada karyawan yang mengawasinya, papa tidak bisa dengan mudah begitu saja percaya dengan apa yang mereka kerjakan. Hingga papa lupa, bahwa papa memiliki seorang anak dan istri yang harus dia beri perhatian juga.

__ADS_1


...~Caci makinya saya tunggu ya sobat~...


__ADS_2