
Perasaan yang bertaburan di sebarkannya pada orang-orang yang mereka temui. Menyalurkan sebagian energi agar kebahahiaan mereka terbagi. Riang gembira mereka mengabisakan waktu bersama, tanpa terasa waktu sudah malam hari.
"Cepeee bang~ " Aksara berujar manja pada Fajar.
Seharian ini mereka bermain hingga puas. Seolah balas dendam selama Fajar mendekam di penjara.
"Hahaha... iya, abang juga capek. Tapi seneng." Fajar menjawab dengan senyum bahagia.
"Hauuus...." Sanjaya menimpali, seraya membaringkan tubuhnya di lantai.
"Ambil sendiri gih sono!"
"Idiiihhh... ambilin gih..."
"Ah ogah, cape..."
Fajar mentap Aksara, adiknya. Dia sangat-sangat bahagia hingga tak dapat di ukur, namun tergambar jelas di wajahnya.
"Aku mau mandi, terus istirahat. Besok pagi harus kembali ke sekolah." Aksara bangkit berdiri.
"Iya adekku sayang..." Fajar menatap tubuh Aksara yang berlalu menuju kamar mandi.
"Oh iya, ini kamar bang Fajar." Aksara kembali, kemudian menunjukkan kamar kakaknya yang bersebelahan dengan kamarnya.
"Oke siap!"
Sanjaya termenenung menatap Aksara. Jika tidak ada tragedi berdarah dulu, dia memiliki adik seusia dengan Aksara. Angannya menerawang jauh pada sosok adiknya. Namun...
"Bro! ngelamun aja, udah ikhlasin, bukan salah kamu juga." Fajar mwngingatkan.
Sanjaya hanya bisa membuang nafas dalam-dalam.
"Iya. Tau aja lo."
"Udah lama juga, dan bukan salah mu juga."
Mendengar ucapan Fajar, Sanjaya hanya bisa mengangguk.
***
Dalam kamar mandi Aksara termenung, masih tidak percaya bahwa kakaknya kembali secepat ini. Sementara kevdua orang tuanya masih berada di medan perang.
Ya, ke dua orang tua mereka adalah seorang pahlawan perang yang saat ini sedang berjuang. Ayahnya seorang tentara, dan ibu mereka seorang perawat. Medan pertempuran adalah kali pertama pertemuan mereka.
Fajar dan Aksara sudah terbiasa sendiri di rumah. Garis perjuangan ke dua orang tua mereka tampak jelas menurun ke Fajar.
Seperti penyelamatan yang Fajar lakukan beberapa tahun lalu. Seandainya tidak ada korban, Fajar tidak mungkin jadi tersangka.
Kala dia menendang tubuh pembajak yang akan menusuk seorang ibu, Fajar dengan geram menendang tubuh orang tersebut hingga kepalanya terbentur dan mengalami luka parah. Sayang nasipnya harus berakhir saat dia kehabisan darah tanpa ada yang tahu. Karena mereka sibuk dengan satu orang lagi perampok yang kritis.
"Tidak ada yang menonjol pada diriku." Gumam Aksara. "kecuali lemak-lemak yang berlebihan." membenamkan mukanya ke dalam air batup.
"Aksara buruan...."
"Iyaaa..."
Segera Akasara menuntaskan mandinya.
"Bang, aku mau langsung tidur aja ya. Ngantuk, capek."
__ADS_1
"Iya udah, besok masuk sekolah juga kan."
"Iya. Daaaa abang..."
Gegas Aksara memasuki kamarnya.
***
Pagi itu di awali dengan bahu Noni yang dengan sengaja di tabrak salah satu kakak kelasnya.
"Jalangkung sialan!" Umpatnya memaki Noni yang sudah meminta maaf, meski dia tahu itu bukan salahnya.
"Maaf kak, tidak sengaja."
"Enga sengaja? mata mu di taruh di mana bego! sialan! pagi-pagi udah cari ribut aja!"
"Saya sudah minta maaf kak."
"Kamu pikir minta maaf saja cukup hah?!"
Kakak kelas tersebut pada dasarnya memang sedang cari gara-gara. Entah sedang ada masalah apa, yang jelas emosinya pagi itu sedang meledak-ledak tidak setabil.
Dengan sabar, Noni bertanya lagi, kali ini dengan menahan emosi.
"Kemudian, apa mau kakak jika minta maaf saja belum cukup?" Tanya Noni sesopan mungkin.
Tanpa menjawab, kakak kelas tersebut merangkul bahu Noni dan membawanya di koridor yang sepi.
"Kamu harus membelikan aku es teh dan makan nasi ayam setiap hari selama sebulan!"
Noni tercengang mendengar permintaan kakak kelasnya tersebut yang tidak lazim tersebut. Hanya demi sebuah traktiran, runtuh harga diri Noni.
"Siapa bilang!" menjawab dengan kesal.
"Lha terus kenapa kakak minta di belikan es teh dan makan setiap hari selama satu bulan?"
"Aku tak akan pernah memaafkan mu jika kamu menolak!"
"Oh, kakak miskin ya?" Dengan takut-takut Noni bertanya dengan nada yang sangat keras. Hingga menarik perhatian beberapa siswa dan siswi yang melintasi koridor.
"Diam kamu! kurang ajar!" Kakak kelas tersebut berusaha membekap mulut Noni dengan gusar.
"Heh! apa-apan ini?" Tiba-tiba Aksara sudah berada di samping Noni.
"Ah, eh enga Aksara..."
"Ada apa Non?"
"Kakak ini minta di traktir makan satu bulan penuh, hanya gar-"
"Diam kamu!" kaka kelas berteriak marah.
Noni diam membatu mendengar bentakan kakak kelas barusan. Mulutnya dibekap dengan sangat rapat oleh tangan kekarnya.
"Benar begitu?" bertanya dengan tatapan menerkam di lukis jelas di wajah Aksara.
"Enga! sembarangan kalo ngomong!"
"Lha terus yang tadi apa kak?" Noni bertanya sok polos.
__ADS_1
"Diam kamu! awas ya!"
"Loh? kak? kak!"
Lelaki itu tidak peduli dengan teriakan Noni. Dia berjalan begitu saja tanpa menoleh. Malu asli, jadi bahan tontonan geratis gara-gara teriakan Noni.
"Apaan sih Non?" Aksara bertanya heran.
"Hahaha... enga ada apa-apa kok Ak, yuk ke kelas." Noni mengapit lengan Aksara, menariknya ikut berjalan mengiringi langkahnya menuju kelas.
"Iya iya... nanti jadikan?"
"Jadi apa?" bertanya heran menatap Aksara.
"Alaaahhh... ayuklah Non~" merengek.
"Hahah... iya iya ayok... nanti sepulang sekolah ya."
"Yeeeey...."
Aksara hari itu melalui sekolahnya dengan semangat empat lima. Bukan karena ini sekolah barunya, namun lebih karena akhirnya dia memiliki seorang teman. Teman yang bisa menerimanya apa adanya, bukan ada apanya.
Ini sekolah Aksara yang entah keberapa. Mengikuti perkataan orang tuanya, yang memintanya untuk pindah. Sebelum menetap di Jogja, Aksara sebelumnya di Surabaya. Memang di sana Aksara terlihat baik-baik saja. Hanya saja mentalnya terlalu sering di uji, hingga memutuskan pindah lagi dari kota ke kota.
Sepulang sekolah, Aksara dan Noni akhirnya memutuskan untuk jalan berdua.
"Mau kemana Aksa?" tanya Noni, memandang Aksara yang berjalan di sampingnya.
"Kamu asli Jogjakan, Non?"
"Iyalah, kenapa?"
"Ke emol yuk." Ajak Aksara, dengan senyum terpampang lebar.
"Ha?" Noni bingung, karena dia seumur-umur belum pernah sekali pun menginjakan kakinya di tempat yang bernama mall.
"Kenapa? jangan bilang kamu belum pernah jalan-jalan di mall." Tebak Aksara.
Noni hanya diam mematung, berfikir. Ya karena memang dia belum pernah ke mall.
"Hey, Non..." Aksara menggunjangkan lengan Noni yang terdiam mematung.
"Aksa, aku..." Noni terlihat berfikir, mempertimbangkan jawaban untuk Akara.
"Kenapa?"
"Belum pernah ke mall sekalipun." Jawab Noni akhirnya, meski malu mengakuinya.
Meski dengan wajah terkejut, Aksara paham dengan apa yang baru saja diucapkan temannya itu. Keadaan hening sejenak.
"Tidak apa, ini juga pertama kalinya aku ada teman untuk diajak bermain." Aksara memecah keheningan yang sesaat.
Wajah Noni terlihat bingung dengan jawaban Aksara.
"Maksud kamu?" Noni bertanya heran.
Dengan tersenyum Aksara menjawab, "Nanti seiring berjalannya waktu kamu pasti akan tahu."
Noni mengerti, sangat mengerti dengan ucapan Aksara barusan. Karena dia pun merasaan hal yang sama. Tidak semudah itu menyembuhkan luka.
__ADS_1