
Rindu menggebu, hanyalah candu. Hambar tiada rasa. Hancur terhempas karam. Aksara meluka, memendam inginnya. Menghambat pertumbuhan dengan kimia agar jamur terhambat pertumbuhannya. Cukup hanya dirinya.
Perlahan Aksara berjalan menuju kamarnya. Duduk meringkuk memeluk lutut. Diam. Ya, hanya berdiam diri tanpa banyak kata. Sesekali membenamkan wajah di lengannya, sesekali menopang dagu dengan punggung tangan.
Aksara merasakan panas di sekitar matanya. Buru-buru dia menengadahkan kepala. Sesekali mengusap hidung.
Cukup!
Batinnya meronta ingin mengakhiri rasa yang terlanjur bergelora.
Cukup Aksara, kamu boleh menangis. Jangan di pendam seorang diri. Ayolah Aksara, kamu bisa. Yakinlah.
Beulang kali Aksara berusaha menguatkan dirinya sendiri.
Lagi, Aksara menunduk, kemudian mendongokan kepalanya. Matanya terasa panas, dia menangis. Hati Aksara terasa di tusuk sembilu, pilu.
"Sudah cukup, aku harus segera mematikan kembali rasa ini. Tidak boleh kupupuk. Apalagi hingga bersemi." Tekat Aksara bulat.
Dia merasa sudah tak berdaya. Merasa dirinya hina menjadi orang miskin. Menjadi bahan olok-olok oleh kasta tertinggi.
"Aku tak boleh kalah oleh mereka! sedikit-sedikit, pelan-pelan, aku yakin Tuhan akan memudahkan jalan." Aksara memotivasi dirinnya sendiri.
Hanya mampu berharap pada Sang Penguasa jagat tata surya dan seisinya. Percaya Dia akan menjawab senandung doa dari bibir mungilnya. Mungkin tidak sekarang, bisa jadi beberapa tahun lagi. Atau bisa juga Dia memberi jauh lebih cepat dari yang di inginkan Aksara. Jikalau Dia tidak mengabulkan rintih doanya, Aksara yakin, percaya, Dia akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik melampaui doa yang Aksara panjatkan di sela harinya. Mungkin tidak seperti pengahrapannya, bisa jadi semisal dengan apa yang sudah menjadi inginnya selama ini.
***
"Sayang loh jeng, anaknya sudah hampir kepala empat belum nikah-nikah."
"Iya loh. Udah ganteng, punya perusahaan sendiri, baik pula. Kurang apa coba?"
"Ya kurang istri itu jeng... hihihi..."
"hahahha..." potongnya.
Mamak-mamak cetar membahana sedang asik membicarakan anak atasan mereka.
__ADS_1
Hampir kepala empat, tapi belum juga beristri. Mana anak tunggal pula. Apa coba yang di carinya?
"Eh, jeng, tau enga..."
"Apa jeng?"
"Iya jeng, apa?"
"Penasaran nih..."
"Denger-denger nih ya-"
"Sttt.... bu nya datang. Nanti lagi gosipnya." Potongnya, menempelkan jari telunjuk di hidung hingga bibirnya. Syarat untuk diam.
"Sttt..."
Mereka langsung berpura-pura jika sedang tidak membicarakannya.
"Saya belum loh jeng," ujarnya, mengalihkan pembicaraan.
"Iihhh.... ahahah... kuat dong jeeeengg... berapa ronde? hahaah..."
"Mau pesen juga dong jeng, biar tambah greng..."
"Ahahha..." Tertawa bersama, mendengar lawakan mamak-mamak tukang gosip.
Bu Dinda, wanita setengah abat yang baru saja mamak-mamak gosipin barusan merasa tersinggung. Dia tahu bahwa dia yang sedang menjadi bahan gunjingan para wanita barusan.
Tidak ada raut menyesal di wajahnya. Boro-boro kecewa, rupanya malah terlihat bangga dengan kesombongan yang setiap hari dia sanjungkan.
"Sudah bu?"
"Eh, bu Dinda... tumben kelihatan?"
"Iya ini bu, mba pembantu baru pulang." Jawabnya.
__ADS_1
"Pst... bohong kalo baru pulang, tunggu saja, sebentar lagi bakalan ada mba baru yang jadi pembantu di rumahnya."
"St... orangnya denger loh nanti!"
"Kenapa? Saya denger loh. Kuping saya belum budek meski usia saya sudah tua." Kesal bu Dinda. "Mau mba pulang, mau mba ganti, bukan urusan kalian juga kan? Toh yang kasih gaji mba-mba saya bukan kalian. Kerjanya juga di rumah saya bukan di rumah kalian. Kok kalian yang sewot." Kesal bu Dinda membela dirinya sendiri.
"Iyuuuhhh jeng, kok malah sewot. Mba-mba sering ngeluh ke kami-kami loh selama tinggal di bekerja di rumah jeng Dinda." Jelasnya.
"Eh iya loh..."
"Iya si Wulan juga cerita-"
"Sama sebelum keluar kemarin Riri juga curhat sama saya...."
"iya katanya............."
.
.
.
.
TAmat
.
thakyou guys...
suport kalian adalah gairah jempol saya intuk mengetik dengan daya otak kekuatan penuh.
jangan lupa mampir di IG saya ya...
yang mau join grub wa/telegram yuk cus... ^^
__ADS_1