
Teruntuk kamu yang masih dalam buaianku.
Terimakasih Tuhan, atas kepercayaan yang Kau beri padaku, setelah lama dalam penantian.
Dalam keputusasaan, Kau beri kabar bahagia untukku.
Dalam kepasrahan, aku berserah diri pada-Mu.
Kemudian, Kau tiupkan nafas di nadiku.
Nafas yang menjadi ruh, dan memberiku semangat baru.
Dalam lelahku menanti...
Tuhan, denyut ini seperti sebuah amanat bagiku.
Meski terkadang rasa takut silih berganti datang dan pergi di benakku,
Tuhan, kuatkan aku untuk menapaki kehidupan di setiap langkahku.
Gantikan rasa takutku dengan keberanian. Walau aku harus berjalan dan berjuang sendiri demi si jabang bayi, mantapkan setiap langkah yangku ambil.
Saat ini aku harus menguatkan diriku sendiri, tanpa seorang kasih pun aku akan berusaha demi calon buah hatiku.
Dari aku, yang kelak akan menjadi wanita tangguh untuk mu.
***
Aksara memandang Yosi yang berjalan menghampirinya. Degub jantungnya meronta, menolak untuk bersinggungan lagi dengan lelaki tersebut. Berulang kali Aksara menguatkan dirinya. Berharap hari ini dia menghilang dari muka bumi. Tangan Aksara bersedakap, mencoba menenangkan diri. Otak kanan dan kirinya bekerja dengan cepat sehingga menciptakan fungsi kognitif yang lebih tinggi. Keringat dingin mulai menghantui dahi dan punggungnya.
"Aksa..." sapa Yosi dengan senyum manisnya. Matanya berbinar penuh kerinduan, geraknya seolah hendak mendekap Aksara dengan mantap. Namun di urungkannya niat tersebut. Manik coklat itu berpendar, memandang lawan jenisnya yang hanya diam mematung. Dalam hatinya merasa heran, bertahun-tahun mengenal, baru kali ini Yosi tau bahwa teman perempuannya itu bisa anteng.
Lagi-lagi, Aksara hanya bisa diam, menunduk. Sesekali menggerak-gerakkan kakinya. Berharap waktu segera berlalu.
__ADS_1
"Aksa..." Yosi hanya mampu memanggil namnanya. Dia tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
Perlahan-lahan binar mata Yosi meredup, senyumnya melengkung kebawah, mata Yosi memicing. Kecewa, tanpa dia tau alasannya.
"Mau bilang apa?" tanya Aksara pada akhirnya, setelah lama saling berdiam diri.
"Apa kabar?" Tanya Yosi asal kata apa yang melintas di benaknya. Minat berbincang panjangnya sirna. Kata ketus yang terlontar dari bibir mungil Aksara meruntuhkan niatnya untuk membangun asmara seperti dulu lagi.
"Baik." Jawab Aksara singkat, berusaha menghindari obrolan bertele-tele enga penting baginya.
"Masih kerja di tempat dulu?"
Aksara menjawab dengan aggukan. Dia mulai tidak ingin berlama-lama dengan Yosi.
Mata Aksara mulai menjelajahi area sekitar parkiran, berharap malaikat menolongnya dari rasa jenuh. Terlihat dia mulai sangat bosan dengan temannya tersebut. Menjawab satu-persatu pertanyaan Yosi pun sudah malas.
"Yos," potong Aksara. Yosi memandang wajah Aksara, menunggu kelanjutan ucapannya. Berharap Aksara akan mengucapkan kata yang membuat hatinya bergelora kembali. "udah ya, aku mau pulang." sambung Aksara.
Pupus sudah harapan. Hilang rasa tanpa rencana.
Yosi lagi-lagi hanya terpana melihat punggung Aksara yang semakin pergi menjauhinya.
Bukan kali pertama Yosi di perlakukan seperti itu oleh Aksara. Beberapa tahun lalu dia juga pernah merasa di tinggalkan sepihak seperti itu oleh Aksara. Tanpa kata, tanpa kejelasan yang seksama. Hanya diam membisu dan berlalu meninggalkan Yosi dalam kebingungan.
"Yuk Non."
Noni yang sedari tadi memandang mereka dari jauh, hanya memandang Aksara dengan kecewa. Dia tahu, tak seharusnya Aksara bersikap begitu pada Yosi.
"Ra, kamu enga jelasin apa-apa lagi ke Yosi?"
Aksara hanya menggeleng tanpa menjawab.
***
__ADS_1
Beberapa tahun lalu kisah biru abu-abu Aksara dan Yosi.
Mereka di pertemukan di bangku SMP, kemudian mereka berlanjut hingga SMA.
Kasta yang tak kasat mata, membentak Aksara kala itu. Mental yang selama ini dia pertahankan luruh sekali sentak. Sanubarinya terus saja melayang terbayang-bayang.
Tidak ada yang tahu, nyawanya berulang kali hampir meregang. Derai air mata terbingkai senyumnya.
"Ra, kamu enga jelasin ke Yosi?"
Aksara hanya tersenyum sinis. Bersikap sok baik-baik saja. Siapa yang tahu bahwa dinding yang selama ini dia bangun mulai rapuh. Aksara harus segera merenovasi dinding tersebut, dia takut jika ada orang lain yang tahu bertapa mati isi hatinya.
"Aku pulang dulu ya, ngantuk." Ingkar Aksara, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ah, baiklah. Kasih kabar kalo sudah sampai rumah ya." Pinta Noni.
Aksara menjawab dengan anggukan.
Di perjalanan pulang, Aksara berkali-kali menghempaskan nafasnya. Berusaha membangun kembali tembok di hatinya.
Pikirannya berperang, berusaha melawan masa lalunya.
.
.
.
.
.
Tamat
__ADS_1
:)