
Sttt... selamat pagi sayang... tidur nyenyak semalam? Bangun yuk, pekerjaan sudah menumpuk di depan mata. Jangan lupa bikin sarapan. Kecupan manis untuk mu.
Semoga Tuhan memberkahi setiap langkah mu. Dalam suka mau pun duka, dalam tangis maupun tawa, dalam berkat maupun cobaan, dalam susah maupun senang. Berbahagialah di mana pun kamu berada. Doaku akan senantiasa menuntun setiap langkah mu.
Jangan menyesal dengan semua keputusan yang sudah pernah kamu ambil. Yakinlah kamu bisa melewatinya. Kamu harus percaya. Karena kamu memiliki pemikiran yang indah, niat baik serta tulus dalam menjalani kehidupan yang Tuhan anugrahkan kepada mu. Jangan lupa untuk selalu bersyukur dan ikhlas, agar aku sebagai masa lalu mu bisa ada hal yang di banggakan, akan pencapaian terbesar mu suatu saat nanti di masa depan yang akan datang.
Pelan-pelan saja bebenah dirinya. Jangan terburu-buru. Takutnya hasil jadi enga akan maksimal jika terburu-buru. Sabar ya.
Memang terkadang apa yang sudah kita rencanakan hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Jangan kecewa. Semangat lagi. Yuk, kamu pasti bisa! tanamkan itu di benak mu.
Dari aku si masa lalu yang membuat mu kuat hingga detik ini.
***
Yosi belum beranjak dari tempatnya mematung tak berdaya. Masih tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Tatapannya kosong. Manik matanya terlihat berkaca-kaca. Bibirnya rapat terkatup tak mampu berkata-kata lagi. Di simpannya kata demi kata yang selama ini telah dia rangkai untuk kekasihnya. Pengharapan tiada jawaban.
“Yos!” seru salah suara temannya, seraya menepuk pundak Yosi dengan tangannya.
Ndomblong. Kelamaan di anggurin sama wanita.
Bak patung, Yosi tidak menanggapi tepukan pelan dari temannya.
“Plak!”
“Heran deh, di panggil ga nengok, di tepuk pundak pun enga ada reaksi. Napa lo? Putus cinta?” Tebak Jio, tepat sasaran.
__ADS_1
Yosi terperengah, dia baru sadar dari lamunannya. Kemudian menjawab dengan gelengan lesu pertanyaan temanya tersebut.
“Yuk ah, di tunguin bini gue nih, bisa ngamuk dia nanti kalo gue pulang telat.” Jio berjalan mendahului Yosi. Sedetik kemudian dia berhenti dan berbalik memandang Yosi. Seperti tetiba terbersit suatu pikiran.
Jio melas dengan keadaan Yosi. Dia yang biasanya klimis, wangi, sebentar-sebentar cuci, sebentar-sebentar bersih-bersih, sebentar-sebentar merapikan apa-apa di sekitarnya yang enga simetris.
Bahkan Jio menyebut Yosi memderita OCD, Obsessivee compulsive disorder, gangguan mental yang menyebabkan si penderita harus melakukan sesuatu secara berulang-ulang.
“Tunggu.” Sambung Jio teman Yosi. “jangan bilang cewe barusan tadi itu Aksa? Aksara? Gadis yang membuat lo terkintil-******." Tebak Jio, seraya tangan kanan memijat dahinya, tangan kiri melepas kaca mata hitam. Asli ni tokoh di gambarkan sok kece sama penulisnya.
Lagi, Yosi menganggukkan kepalanya. Rasa bahagia bercampur kecewa di aduk menjadi satu, kaya ngaduk pasir dan semen biar bersatu untuk mengokohkan suatu bangunan.
Bahagia, karena setelah bertahun-tahun lamanya tidak pernah melihat sosok Aksara, kini hadir di hadapannya tanpa rencana. Kecewa karena penantian tanpa jawaban yang selama ini dia tunggu hasilnya masih sama. Di tinggalkan tanpa jawaban. Lagi.
“Lo ga tanya apa gitu bro? Kok mendadak tanpa kabar, hilang lenyap gitu aja, kaya ketelen bumi bulat-bulat, sama sekali enga mau kontekan lagi sama lo. Jujura aja 'aneh' buat gue.” Jio nyerocos, penasaran dengan kisah asmara Yosi yang menurutnya menarik untuk di kulik.
“Ckck...” decak Jio. “yuk buruan pulang dulu.” Ajak Jio, berbalik ke arah Yosi dan merangkul pundaknya, menyanding mengajak pulang bersamanya. Dia berusaha menguatkan perasaan Yosi.
“Boleh nangis kok bro. Lo yang sabar ya, mungkin dia belum siap buat cerita ke lo.” Jio berusaha menenangkan Yosi.
Senyum kecewa Yosi yang menjawab pernyataan Jio.
"Sampai kapan aku harus menunggu bangsad!" umpat Yosi dalam hati, mangkel tangkapannya lepas lagi.
***
"Gimana? tertakik enga?"
__ADS_1
"Duh, gimana ya, saya mah terserah anak saya saja."
"Eh lagian kok enga nikah-nikah kenapa jeng?"
"Loh iya, apa terlalu sibuk dengan bisnisnya? apa kerjaannya?"
"Aku juga enga tau."
"Ah, mesti ada apa-apa nih, melihat mamanya aja kaya gitu."
"Sttt....!"
"Niat baik kadang di anggap buruk. Sabar aja jeng."
"iya setuju." sahut yang lainnya.
.
.
.
.
.
TAmat
__ADS_1
:)