
Cibiran itu masih saja terngiang dalam benakku. Meski kusadari sudah bertahun lamanya. Entah prahara apa hingga membuatku memutuskan untuk diam tak bertindak.
Padahal jika saja keberanian terkumpul menjadi satu, mungkin bisa melawannya.
Kalo tak salah ingat, itu adalah hal tersulit dalam hidupku, dimana aku benar-benar ringsek oleh hantaman tajamnya. Untuk bangkit lagi pun rasah terseok. Susah. Enga sanggup.
Hingga membuatku memutuskan membuat benteng yang menjulang tinggi. Tidak mengizinkan siapa pun untuk berkunjung menemui hatiku. Tidak teman, sahabat, pacar apalagi keluargaku. Mereka tak perlu tahu. Jangan sampai ini ada campur tanggan dari mereka.
Ah, entah hingga kapan aku sanggup bertahan.
Setiap ada kesempatan, ingin ku tikam dalam-dalam denyut nadi hingga tak ada detaknya lagi.
Saat ada kesempatan, malaikat selalu baik pada ku, dia selalu datang menghampiriku. Mengingatkan aku bagaimana hidup itu ya memang begitu. Enga selamanga lempeng-lempeng aja. Ada jalan yang curam dulu, baru menanjak, berbelok, lurus belum lagi kalo gronjal-gronjal jalannya. Sama halnya seperti kehidupan.
Aku yang bisa bertahan atau menyerah.
Nyatanya aku bisa bertahan. Dan itu membuatku semakin tidak percaya akan hidupku.
Halo masa lalu, apa kabar mu? Aku sehatkan? Hahaha, lihat aku masih bernafas dengan hidung yang sama.
Dari aku masa depan mu, yang ingin tahu kabar mu hari ini. Semoga aku bisa menaklukan mu.
***
Bu Dinda terdiam, termenung dengan ucapan mamak-mamak barusan. Namun kesombongannya jauh lebih besar.
"Dasar enga tau diri. Kalo miskin ya miskin aja. Bikin sebel aja!" mata bu Dinda berputar kesana kemari, hatinya jengkel oleh omongan para wanita tadi. Tangannya di remas-remas dengan tangan satunya. Berharap suasana hatinya segera tenang kembali.
__ADS_1
"Heh pembantu!" Seru bu Dinda saat matanya bersitatap dengan Gea, gadis polos yang belum matang. Dia ranum lebih cepat dari usianya.
Gea yang merasa terpanggil hatinya segera bergegas menghampiri bu Dinda. Ya karena dia memang pembantu di sana, jadi enga salahkan kalo majikan panggil pembantu gitu. Ya memang enga sopan. Namanya aja orang sombong, angkuh pula. Jadi harap maklum ya.
"Iya bu? ada apa?" jawab Gea, setelah berada di depan bu Dinda. Kepalanya menunduk, membuat anak rambutnya terjuntai.
"Taman sana bersihkan jangan lupa!" bu Dinda mengingatkan. "Dan itu!" tunjuk bu Dinda, kali ini dia menunjuk dengan matanya.
"Apa bu?" Tanda Gea dengan polosnya.
"Tolong deh kalo bisa itu rambut kamu yang acak-acakan kaya gembel di gundul saja! sakit mata ku lihatnya! bikin enga ***** makan." pintanya tanpa perasaan.
"Iya bu."
"Udah sana! Kerja!"
Kemudian Gea mengambil beberapa peralatan yang akan di gunakan untuk merapikan taman depan rumah yang lebarnya bisa di buat lapangan sepak bola.
Sebelum melakukan pekerjaannya, Gea melakukan peregangan agar rileks kembali. Seraya menghitung, mengatur nafas dan menuliskan amarhnya di memori kepala.
"Sabar, sabar... harus sabar... ikhlas biar Tuhan yang bales lebih menyakitkan." Doa Gea.
Tanggannya mulai aktif mencabut rumput dengan cepat. Mengumpulkan sampah-sampah, menyapu dan menjadikan satu semua kotoran yang baru saja dia bersihkan.
Setelah memilah-milah sampah, Gea menyendirikan antara sampah organik dan yang bukan organik. Padahal sama saja, nanti juga bakalan di jadikan satu lagi. Ah negara kita ni ya, memang.
Gea mengela nafas panjang. Bertahan bertahun-tahun di keluarga bu Dinda membuatnya menjadi wanita kuat dan mandiri. Lima tahun lamanya dia mampu bertahan dari panas dan hujan, dari dinginnya malam. Dari kerasnya guntur yang menggelegar.
__ADS_1
Sementara yang lainnya, paling hanya bertahan satu bulan, paling lama enam bulan selesai kontrak.
Soal gaji, jangan di tanya. Gea berusaha berhemat dengan gaji seadanya. Belum lagi jika di rendahkan di depan teman atau keluarga bu Dinda. Malunya sampai anak cucu kalo enga ekstra hati-hati.
Mental Gea seolah sudah di tempa hingga benar-benar bak periasi. Tak mempan di lawan. Terkadang Bu Dinda sendiri yang kewelahan dengan polah laku Gea.
"Kasihan nia yang jadi anaknya. Kalo pacarnya enga selevel pasti bakal di caci maki, ckck..."
***
Jio memandang Yosi dengan mata hatinya. Jantungnya berdegub kencang, seolah siap keluar dari badannya. (Ck, apa sih maksud penulis ni).
"Yos, pulang lo." Ajak Jio.
Yosi terkapar di kursinya. Matanya sipit memandang sekitar. Buram. Dia terlalu banyak minum.
"Yos..."
"...."
"Ahk, ni anak..." Jio gusar dengan keadaan Yosi.
TAmaT
yok jangan lupa kasih imbalannya. enak aja, situ anteng baca, sini meres otak sampai tak bertetes setitik pun. Cuma bisa kasih tanda titik (.)
ah sudahlah yuk ngobrol-ngobrol syantik sama aku... 🤣 i love you ***** muach 😘
__ADS_1