Sebungkus Aksara Luka

Sebungkus Aksara Luka
Kala Fajar


__ADS_3

Rindu baru di rasa oleh Fajar. Setelah beberapa tahun lamanya mendekam di penjara. Bertahun-tahun sudah jauh dari bapak, ibu serta adik kesayangnnya. Rasa yang dia pendam, terlalu membuncah, hingga dia tidak memberi tahu keluarganya bahwa dia keluar dari penjara lebih cepat.


Di hirupnya sepoi angin dari luar penjara. Bukan salahnya masuk ke penjara. Bahkan orang yang dia tolong pun membela mati-matin meski hasilnya tetap sama. Membela diri sama dengan tersangka.


Hukum tetaplah hukum. Itulah yang berlaku.


"Hoy! Sanjaya! Aku kira enga jadi jemput bro." Ujar Fajar, seraya mendekati mobil temannya dan ber-tos ria.


"Jadilah, buat pahlawan yang sudah menyelamatkan bokap, nyokap gue, apa sih yang enga."


"Hahaha... bisa aja kamu ya. Eh, bay the way giamana kabar kamu?" Tanya Fajar basa-basi. Meski dia tahu keadaan temannya tersebut baik-baik saja, karena hampir setiap hari mengunjunginya di dalam penjara.


"Haalaaahhh basi lo, hahaha..." gelak tawa bahagia terpancar dari wajahnya.


"Eh, kangen adek aku nih, langsung jemput ke sekolahnya yuk. Ini hari pertama dia masuk sekolah loh." Ajak Fajar.


"Loh? baru masuk sekolah?" Tanya Sanjaya heran.


"Iya, kemarin dia cerita, waktu pindah kesini enga bisa langsung masuk gitu aja, harus nunggu tahun ajaran baru. Baru deh dia bisa masuk sekolah lagi gitu."


Mereka berdua berjalan memasuki mobil, dan melanjutkan obrolan mereka di dalam mobil. Seraya melajukan mobilnya membelah aspal jalanan yang panas.


"Jadi mau cus langsung ke sekolah adek lo?" seraya matanya menatap Fajar yang sedang memasang sabuk pengaman.


"Hem... boleh lah... yuk cus kasih kejutan ke adek aku." Senyum merekah dari bibir Fajar.


Sanjaya tersenyum menatap Fajar. Rasa syukur yang berlipat-lipat tidak bisa di balaskan pada sosok bernama Fajar ini. Bagaimana tidak, karena dialah kedua orang tuanya masih baik-baik saja dan sehat walafiat.


"Bro thanks ya udah nyelametin ortu gue waktu itu." Kenang Sanjaya, membua obrolan lagi.


Fajar menghela nafas, dan menghembuskannya kuat-kuat.


"Yoi brooo... berkat kamu, aku juga jadi tahu tentang seluk beluk keluargaku. Bahkan rahasia besar mereka. And than so, jangan merasa bersalah karena kejadian masa lalu. Oke?" Pintanya.


Namun tetap saja kenangan mereka berdua kembali kemasa beberapa tahun yang lalu jauh sebelum Fajar masuk ke tahanan penjara.


***


Aspal panas menguap keatas karena teriknya matahari di siang ini, oasis yang tercipta menambah fatamorgana setiap netra yang bersitatap.


Tegang.


Sama seperti suasana di bis kota yang hendak melaju bersinggungan dengan aspal jalanan. Bus melaju perlahan hingga suatu tragedi merajahi bus tersebut.


"Jangan bergerak!" Tiba-tiba sesosok manusia bertopeng berdiri dari duduknya dan menodongkan senjata tajam.


"Aaa..." Penumpang mulai ribut satu sama lain.


"Tidak, tolong..."


Pria bertopeng menarik asal salah satu penumpang yang berada di dekatnya. Dia seorang wanita paruh baya dengan gemerlap aksesoris di badannya.


"Lepas perhiasan kamu!" pintanya.


"Ti-tidak... jangan..." wanita tersebut masih berusaha mempertahankan miliknya.


"LEPAS SEKARANG ATAU-"


"Ba-ba ik..." wanita tersebut akhirnya pasrah, seraya melepas satu persatu aksesoris emas yang dia kenangkan.


"Sopir tetap melaju seperti biasa!" pintanya. Sopir hanya mengangguk pasrah, karena takut terjadi apa-apa pada penumpangnya.


Fajar yang tertidur menggeliat karena mendengr keributan. Perlahan membuka matanya penasaran apa yang sedang terjadi.


"Loh?" Batinnya. "kok gini?"


"Heh kamu!" Menunjuk ke arah Fajar. "iya kamu! kesini kamu! dasar anak ingusan!" bentaknya lagi.


Fajar berjalan mendekati perampok tersebut, tanpa rasa takut.

__ADS_1


"Ampun bang." Pura-pura Fajar berjalan mendekat dengan ke dua tangn terangkat ke atas.


"Ambil semua barang berharga yang-"


"Bugh!" Dengan gesit Fajar menendang tangan perampok tersebut, hingga membuat benda tajam yang di acungkan oleh perampok itu terlepas dari genggamannya. Pisau terjatuh. Ini kesempatan Fajar untuk menyerang balik, namun-


"Dor." perampok satunya ternyata membawa senjata api. Luput dari perhitungan yang Fajar lakukan.


Membuat seisi bus terkejut dan menjerit riuh kembali, mana kala melihat bahu Fajar tertembak hingga darah menggenang di baju putih seragam sekolahnya.


"BANGSAT kamu ya!" Di area yang sempit tersebut Fajar berjalan ke arah preman satunya, kemudian memukul titik vital yang membuat preman tersebut jatuh terkapar tak berdaya. Serangannya yang tiba-tiba membuat preman tersebut tidak bisa melakukan perlawanan. Satu hal yang tidak di ketahui Fajar dan yang lainya, bahwa preman tersebut ternyata menderita serangan jantung, hingga serangan barusan membuatnya tidak bernafas. Bersamaan dengan ambruknya tubuh Fajar yang mulai berkunang-kunang akibat terkena serangan tembak.


Penumpang panik, sopir langsung siaga membelokan busnya ke rumah sakit yang memang melintasi tempat tersebut, masih perlu beberapa waktu lagi untuk sampai rumah sakit.


"Tetap jalan! jangan hentikan busnya!" pekik si perampok.


Fajar langsung tersadar sesat kemudian. Saat mengetahui perampok tersebut tidak bernafas sama sekali.


"APA ADA DOKTER DI SINI?" Teriaknya lantang, saat melihat perampok yang baru dia serang ternyata sudah tidak bernafas.


"TOLONG, APA ADA YANG BISA MELAKUKAN CPR?" Ulangnya lagi.


"TOLONG SEGERA KERUMAH SAKIT!" Teriak Fajar lagi.


Perampok yang satunya hanya diam, tanpa mampu berkata apa-apa. Mematung tanpa suara.


"Sopir, tolong berhenti di rumah sakit." Pinta Fajar.


Sayang, penumpang yang sudah terlanjur geram dengan tindakan mereka tidak ada satu pun yang mau menolongnya.


"Biarkan saja dia mati. Dasar perampok!" Maki salah seorang penumpang.


Namun tiba-tiba seorang wanita baya yang tadi di todong sajam oleh perampok satu, mendekat ke arah Fajar.


"Berhenti! jangan ada yang bergerak!" pinta perampok tersebut.


Wanita itu tetap berjalan, hingga di jambaknya rambut pendek kemilaunya oleh perampok tersebut. Membuat wanita itu terjengkang kebelakang jatuh terduduk.


"Ibu tolong, nyawa orang itu dalam bahaya." Pinta Fajar dengan sopan.


"Baik, ibu akan berusaha menolongnya."


"Jangan di tolong biarkan saja dia mati."


"Iya biar mampus sekalian!"


"DIAM KALIAN MANUSIA HINA!!!" bentak Fajar.


Perampok pertama mengambil pisau yang tidak jauh dari tempatnya, kemudian hendak menusukkan pisau tersebut pada si ibu, namun segera di cegah oleh Fajar dengan cara menendang kepalanya hingga terkantuk lingir besi pada dudukan kursi penumpang. Hingga membuatnya pinsan. Darah segar merembas lepas dari kepala perampok.


"Ibu tidak apa-apa?" Tanya Fajar.


"Iya nak, tidak apa."


"Ibu, ayo tolong." Fajar menarik tangan si ibu dengan lembut, kemudian berkata pada sopir, "setelah ini berhentilah di rumah sakit pak."


"Baik mas." Jawab si sopir.


Bergegas ibu tersebut mendekat ke arah perampok yang ke dua. Wanita itu menepuk pelan bahu, seraya memanggil perampok ke dua tersebut.


"Pak... Pak... bangun pak..." tidak ada repon. Hal yang tadi sempat di lakukan oleh Fajar, kini di lakukan kembali oleh si wanita tersebut. Kemudian mengecek nafas serta denyut nadi pada pergelangan tangan serta lehernya.


Wanita itu menggeleng. Fajar terlihat panik, hingga tidak memikirkan luka tembak pada bahunya.


"Lakukan sesuatu bu, tolong." Pinta Fajar.


Segera, wanita tersebut melakukan kompresi dada. Meletakan salah satu tanggannya pada tengah dada, tepatnya pada setengah tulang sternum. Sedangkan tangan satunya di letakkan pada atas tangan tersebut.


Wanita tersebut segera melakukan push fast, penekanan pada dada.

__ADS_1


"Satu dua tiga, push!" Tidak ada respon.


"Satu dua tiga, push!" Kembali tidak ada respon, perampok tersebut diam bergeming. Wajahnya mulai memucat keatas.


"Pak apa masih jauh rumah sakitnya?" Teriak Fajar.


"Lima menit lagi." jawabnya.


"Gimana bu? masih bisa?" Tanya Fajar beralih pada si wanita yang membantu menolongnya. Wanita tersebut menggeleng.


"Sekali lagi bu, tolong." pintanya lagi.


"MAAF, TOLONG SELAMATKAN BAPAKKU." Kesadaran prampok yang pertama sudah terkumpul, hingga dia memohon untuk menyelamatkan perampok ke dua, yang mana ternyata dia adalah ayahnya.


Berlari ke arah bapaknya dengan sempoyongan, malah semakin menambah ricuh suasana. Bus berbelok, hingga sudah di kawal beberapa polisi, sopir sendiri sudah tidak peduli, selama perjalanan klakson dia bunyikan, sementara lampu merah beberapa kali dia trabas. Hanya demi sebuah nyawa.


Sampai di rumah sakit korban, segera di evakuasi ke UGD. Para penumpang bus beserta sopir di mintai keterangan lebih lanjut di kantor polisi.


***


"Eh, bay the way, gimana kabar bapak rampok itu?" Tanya Fajar penasaran. Karena setelah kejadian tersebut dia sma sekali belum pernah bertemu dengan beliau.


"Tuhan lebih tau takdir hidup manusia ya Jar." Sanjaya tersenyum menatap Fajar yang keheranan.


"Belok sana sekolahnya."


"Iya iya... sabar."


Merekah bak bunga mekar, senyum Fajar penuh bahagia. Penantian bertahun-tahun lamanya, akhirnya terjawab sudah.


Meski kejadian beberapa tahun bukan salahnya, setidaknya dia mampu bertanggung jawab atas apa yang sudah dia perbuat. Nyawa seseorang bukanlah permainan. Memang bukan salahnya, namun keadaan yang membuatnya begitu.


Sanjaya menepikan mobilnya, tepat bersamaan dengan bubarnya siswa-siswi sekolah. Mereka berdua mengawasi wajah-wajah muda yang sedang berhamburan keluar dari sekolahnya.


"Aduh, gadis-gadisnya menggoda..." Seru Sanjaya.


"Pedopil kamu?" Ejek Fajar.


"Pala lo peang!!! enga lah! tapi yang ini bening-bening." Puji Sanjaya lagi.


"Inget San, nyebut."


"Hahahha... iya iya..."


Fajar melepas sabuk pengaman, kemudian dia turun dari mobil. Menunggu di dalam mobil hanya membuatnya gerah.


"Batagor enak kayanya Jar."


"Udah gih sono kalo mau jajan, mumpung."


"Hahaha... tau aja lo, lo mau sekalian enga?"


"Gak, natar aja sama adek aku."


"Ya udah gue jajan sendiri ya."


"Udah gih sono."


Mata Fajar awas memantau beberapa siswi yang keluar. Di dadanya tiba-tiba ada rindu yang dulu pernah dia rasa. Rindu pada masa sekolah yang belum tuntas dia selesaikan. Ah meski begitu, dia sudah menamatkan sekolahnya di dalam penjara.


Dari sebrang terliat dua sosok gadis yang tengah bercakap dengan akhrap. Fajar tahu betul bahwa yang satunya adalah adik kesayangannya. Tanpa ragu Fajar meneriaki nama adiknya tersebut.


"AKSAAAA..." Padahal jarak antara keduanya tidak terlalu jauh, hingga suara Fajar menggema membuat yang lain penasaran.


Sanjaya yang mendengar teriakan tersebut pun hanya berdecak dan menggelengkan kepalanya.


Aksara menoleh ke arah sumber suara. Mematung dengan mata membulat terkejut.


"BANG FAJAAARRRR..."

__ADS_1


.


.


__ADS_2