Sebungkus Aksara Luka

Sebungkus Aksara Luka
Lelap terlena


__ADS_3

Aksara mematung menyaksikan pemandangan di depannya. Sosok yang dia rindukan selama ini. Meski pun hampir setiap hari mengunjunginya. Namun tetap saja rasanya berbeda.


"Ada apa Sa? kok bengong?" Tanya Noni. Aksara tidak menanggapi. Malah matanya berkaca.


"Aksa?" Ulang Noni heran dengan diamnya Aksara.


"Bang Fajaaaaarrr..." Aksara berteriak, kemudian berlari menghambur ke pelukan kakaknya.


Noni bengong menatap Aksara yang memeluk erat manusia berbadan kekar, browokan, namun terlihat bersih dan terawat.


"Bukannya dua tahun lagi abang keluar?" Tanya Aksara seraya melepas pelukannya.


"Ooohh... jadi kamu enga suka kalo abang mu yang ganteng ini keluar lebih cepat?" Jawab Fajar cemberut dengan pertanyaan Aksara.


"Ya enga gitu juga kali bang... Halo bang Jaya, apa kabar?" Aksara beralaih pada Sanjaya, yang berada di samping kakaknya, asik mengunyah batagor yang dia pesan tadi.


"Halo juga Aksa, kabar baik, sehat seperti yang kamu lihat." Ujar Sanjaya dengan sombong.


"Halah.... kamu ini ya bang..." Kemudian Aksara teringat akan teman barunya tadi. "NONIIIII!!!" Serunya, tangannya melambai meminta temannya tersebut mendekat.


Noni yang di panggil hanya melambaikan tangan, malu melihat ulah Aksara yang teriak kenceng banget.


"Sebentar ya bang." Aksara berjalan kembali, mendekati Noni. Menggandengnya, mengajak mendekat ke arah kakaknya.

__ADS_1


"Apa sih Sa, malu tahu, teriak-teriak kaya di hutan aja."


"Ayok aku kenalin abangku sama temannya." Aksara mengapit tangan Noni, mencegahnya agar dia tidak bisa kabur.


"Sa... aduuuhhh..."


Mereka berdua berjalan mendekat kembali ke arah Fajar dan Sanjaya. Setelah lebih dekat lagi, Noni melongo terpesona akan ketampanan Sanjaya. Matanya tidak bisa di bohongi, membulat sempurna berbinar-binar penuh kekaguman.


"Noni, kenalin ini Fajar, abangku, dan ini Sanjaya, cowo yang sebentar lagi mau menikah." Ujar Aksara memperkenalkan mereka.


"Aksa, apaan sih lo... bikin enga laku aja." Marah Sanjaya.


"Halo, aku Noni. Teman sekelas Aksara." Jawab Noni malu-malu.


Fajar mengulurkan tangannya, menjabat tangan Noni. Begitu juga dengan Sanjaya, dia juga berkenalan dengan Noni.


"Hahahaha.... sudah kenalannya, ke rumahku yuk Non." Ajak Aksara.


"Nanti ganggu, katanya kamu sudah lama tidak bersama kakak mu. Besok saja." Tolak Noni dengan senyum manisnya.


"Ya udah kalo gitu, besok beneran ya." Ancam Aksara.


"Iya. Aku pamit dulu ya, sampai ketemu besok."

__ADS_1


"Dabay Noni..." Fajar melambaikan tangannya dengan genit.


"Iya mas, monggo." pamit Noni dengan malu-malu namun tetap sopan.


Mereka saling melambaikan tangan, tanda perpisahan.


Setelahnya mereka bergegas ke dalam mobil dan menuju ke tempat makan, untuk makan siang.


Mereka tidak tahu dua bola pasang mata dari balik layar kaca mobil, memandang dengan rasa penasaran. Sosok Aksara yang unik membuatnya tertarik. Di matanya Aksara terlihat mandiri, nyentrik dan penuh enerjik. Terlihat bebas, lepas bahagia menikmati hidupnya. Beda jauh dengan dirinya yang apa-apa harus di atur ini-itu. Terdengar hembusan nafas panjang.


'Aku juga ingin bebas.' Batinnya, meski dengan keraguan.


"Tadi mama minta untuk langsung ke butik mas."


"Ya sudah langsung kesana aja. Tapi nanti mampir beli kentang slemidut dulu ya pak." Pintanya.


"Mama pesen jangan mampir-mampir mas."


"Yaelah pak, beli kentang doang masa enga boleh." Rengeknya.


"Maaf mas, kemarin aja waktu kita beli kentang di pinggir jalan mama mas marah-marah, saya takut mas."


"Akh, ya sudahlah!" Lelaki itu pasrah, karena dia tahu mamanya bisa saja memecat pria paruh baya tersebut.

__ADS_1


***


__ADS_2