Seduce My Ex

Seduce My Ex
Episode 1


__ADS_3

Bekerja sebagai General ManagerQuality Control di perusahaan industri pangan terbesar lulusan Biologi dari salah satu Universitas Negeri Terbaik di Indonesia merupakan suatu pencapaian yang luar biasa.


Terlebih untuk ukuran fresh graduated dengan nilai IPK yang Cumlaude dan berpredikat Mahasiswa Terbaik di angkatannya membuat ia menjadi banyak incaran perusahaan. Bukan hanya perusahaan-perusahaan Dalam Negeri tetapi juga Luar Negeri.


Prestasi yang gemilang ditunjang oleh wajahnya yang rupawan, badan atletis, dan tinggi yang ideal membuat pemuda yang memiliki manik mata hazel dengan gradiasi coklat terang serta rambut berwarna hitam kelam ini digandrungi oleh sebagian besar perempuan yang ada di kampusnya. Meski begitu tetap tak ada yang mampu menaklukan hatinya.


“Pak, adulteration test dinyatakan positif.” Lapor seseorang bernama


Andri pada Altair, General Manager


Divisi Quality Control.


“Yang benar kamu?” Tanya Altair terkejut karena pengujian antibiotik itu dilakukan dengan Metode Delvo,


pengujian yang bertujuan mengetahui adanya kandungan antibiotik dalam susu


segar.


Adanya antibiotik dalam susu segar dapat diketahui dari reaksi nutrien


dengan susu. Namun kini terjadi warna nutrien tiba-tiba menjadi kuning yang


menunjukkan susu tidak mengandung antibiotik. Bahaya untuk kesehatan jika


dikonsumsi.


“Lakukan pemantauan terhadap adanya bakteri-bakteri yang


resisten.” lanjut Altair seraya mencari withdrawal time yang pendek dari macam antibiotika yang digunakan.


-oOo-


Waktu tepat menunjukkan pukul 09.00 a.m pada jam yang tergantung di dinding putih yang berada tepat diatas gadis


itu. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja. Setelah sempat


menganggur selama berbulan-bulan, akhirnya Mila mendapatkan pekerjaan. Cukup


sulit mencari pekerjaan padahal ia adalah lulusan dari universitas nomer satu di indonesia. Tapi IPK nya turun drastis sejak kejadian di masa lalu.


“Toni, nanti ke ruangan saya ya.” Mila mendengar suara seorang pria dibelakangnya


saat ia sedang memperhatikan seluruh ruangan.


“Baik pak.” Jawab Toni lalu terdengar langkah kaki di belakang Mila


berlalu pergi.


‘Suaranya kayak gak asing deh’ ujar Mila dalam hati.


“Mila… Nona Mila Kamu dengar apa yang tadi saya


jelaskan?” panggil Toni pada Mila


“E…eehh Maaf Pak, saya tidak mendengarnya. Apa


bisa Bapak beritahu lagi?” Tanya Mila pada Toniseraya menggaruk tengkuknya gugup.


“Iya nanti ada meeting jam sebelas dan saya


akan memperkenalkan kamu secara resmi dalam meeting tersebut. Oleh karena itu, saya minta kamu hadir


juga. Oke kalau begitu saya tinggal dulu, selamat bekerja ya.”


“Baik Pak, Terima Kasih.”


-oOo-


Baru hari pertama Mila bekerja tapi sudah dapat setumpuk berkas dan harus


selesai hari ini juga. Hingga tak terasa


waktu menunjukkan pukul 11.00 a.m sudah waktunya meeting, ini meeting pertama dan perkenalan resmi untuk Mila. Hufttt, Milamenghela nafas panjang karena gugup.


“C’mon guys,


saya tunggu kalian di meeting room ya.” Ujar Toni mengagetkan Mila dan rekan-rekannya.


Sesampainya di meeting room fokus Mila langsung


tertuju pada seorang pria jangkung yang duduk di meja depan bersama Toni. ‘Oh god, ini mata gue gak salah kan?’ ujar Mila dalam hati seraya terus mengucek-ngucek mata. Mila tidak menyangka bisa bertemu lagi dengannya.


Dengan pria yang sangat ia benci. The Maximus Black! Hell !!


“Milaaaaaa sini cepet.” Teriak Chika seraya melambaikan tangannya


“Nah ini dia yang ditunggu-tunggu. Oke semua, seperti yang saya bilang tadi, saya akan  memperkenalkan anggota baru di tim kita. Ini


Mila, dia yang akan menjadi Assisten Pak Altair.” Jelas Toni memperkenalkan Mila.


‘What?!!! Gue jadi asistennya si brengsek ini.’


“Selamat Siang semua, Perkenalkan saya Clarin Nadya Kamila. Kalian bisa panggil

__ADS_1


saya Mila. Mohon bantuannya ya semuanya” Ucap Mila berusaha tersenyum seraya membungkukkan badan. Ia berusaha menahan dirinya


menghampiri Altair dan menendang pria itu hingga babak belur.


“Hai Mila, mohon bantuannya.” Kata Altair seraya mengulurkan tangannya, Mila terpaksa berjabat tangan dengan pria itu.


“Iya Pak.” Jawab Mila canggung, ia masih


tidak bisa mempercayai apa yang ada dihadapannya sekarang. Ia bertemu kembali


dengan Altair, Seniornya semasa kuliah dan kini menjadi atasannya.


Mila kembali keruangannya


setelah melewati rapat yang membuat dia sesak. Dia tak percaya pria idiot itu


tak mengenalnya sama sekali, padahal menurutnya ia tak berubah banyak. Walau


berat badannya turun 10kg, dan dia melakukan perawatan maksimal hingga kulit


cokelat langsatnya menjadi putih merona, serta mewarnai rambutnya menjadi Dark


Brown. Apanya yang pria jenius, ia hanya pria buta!


“Mil, rapihkan semua


barang-barang kamu. Sekarang meja kamu didalam ya bareng Pak Altair.” Ujar


Toni menjelaskan.


“Harus banget di dalam


juga pak?” Enggan Mila dengan niat setengah-setengah merapihkan


barang-barangnya.


“Ya haruslah, kamu kan


assistennya.” Ujar Toni terkekeh-kekeh.


Dengan langkah gontai, Mila


membuka pintu ruangan General Manager itu


“Pak, saya boleh diluar


saja kan?” Tanya Mila pada Altair


“Kenapa? Saya tidak makan


gak makan orang, tapi gue makan hati!’ gumam Mila


“Kamu ngomong sesuatu?”


“Ah..nggak pak.” Elak Mila


“Kalau gitu cepat masuk


dan tutup pintunya lalu duduk. Itu meja mu.” Tunjuk Altair pada Mila ke meja


yang ada di sudut kiri ruangan.


-oOo-


Cukup lama keheningan itu


menyinggapi mereka karena fokus pada pekejaannya masing-masing hingga telepon


genggam milik Altair berdering.


“Hallo.” Suara Altair memecah keheningan karena menjawab panggilan tersebut.


“Tidak, aku tidak kesana


malam ini. Aku sedang tidak ingin mencari


masalah dengan Ian.”


“Sudahlah jangan


menggangguku, aku sedang bekerja.” Tutup Altair. Tak lama telepon genggam


Altair kembali berdering.


“Kenapa masih menghubungi


ku? Bukankah sudah ku bilang, urusan kita hanya kesepakatan semalam. Jangan


bertindak murahan! Aku sedang sibuk!”


Tiga panggilan terus


berlanjut hingga ia membanting telepon genggamnya kesal membuat Mila mengelus

__ADS_1


dada karena terkejut. ‘Dia yang mencari masalah dengan wanita-wanita itu tapi


kenapa juga dia yang membanting handphone nya. Dasar bodoh! Lebih baik buat ku saja!’ batin Mila kesal.


“Mila, jika kau sudah


selesai mengetik laporan itu letakkan saja diatas meja. Saya pulang cepat


hari ini.” Tak lama Altair beranjak dari kursinya lalu pergi dari ruangan.


‘Dia bilang pada semua


wanita itu kalau dia sibuk tapi dia malah pulang cepat dan meninggalkan semua


pekerjaan ini padaku. Dasar Bajingan! Brengsek!’ Mila menggerutu dalam hati.


-oOo-


Sepulang dari kantor,


Chika dan Mila berencana makan malam bersama di sebuah cafe tak jauh dari


perkantoran mereka.


“Bagaimana Mil? Pasti


sangat menyenangkan ya satu ruangan dengan Pak Altair?” tanya Chika membuka


percakapan setelah selesai memesan makanan di kasir dan menemukan tempat duduk


yang pas


“Biasa saja.”


“Kau beruntung sekali


selama delapan jam sehari menatap wajah tampan Pak Altair.” Ujar Chika


menggenggam kedua tangannya dengan mata yang berinar-binar seperti anjing


kecil.


“Aku hanya menatap


laporanku sepanjang jam kerja, Really!” Jawab Mila menghancurkan fantasi Chika.


“Kau jangan merusak fantasiku,


setidaknya kau bisa menghirup aroma tubuhnya yang tersebar diseluruh ruangan


itu.”


“Ayolah Chika, jangan


bertindak mesum!”


“Ini kenyataan, tidakkah


kau menyiumnya?”


“Chika lebih baik kau


konsultasi dengan psikiatris sebelum semakin parah.” Kata Mila seraya menepuk


Bahu Chika.


“Aku butuh dokter cinta.” Jawab


Chika yang dijawab Mila dengan ekspresi absurd, entah dia harus bertindak


seperti apa dengan teman barunya ini. Untunglah tak lama makanan yang mereka


pesan telah datang, jika tidak. Tidak ada yang dapat menghentikan ucapan Chika


dan fantasinya itu.


‘Kalau aku lebih lama satu


ruangan dengan Maximus Black dan para


fans-fansnya ini bisa-bisa aku yang lebih butuh psikiater’ Mila menghela nafas


prihatin dengan nasibnya ke depan.


“Tapi aku sedikit sedih


tidak bisa bersaing dengan para perempuan yang berada di sekeliling Pak Altair.


Jadi Mila, kau harus mulai terbiasa jika saat jam makan siang maupun jam pulang


kerja ada perempuan dengan pakaian kekurangan bahan memasuki ruangan mu dan


berbeda-beda tiap harinya.” Mendengar ucapan Chika ekspresi Mila mulai berubah,

__ADS_1


dingin dan tak terbaca. ‘Pria bajingan itu. Selain


memiliki gelar brengsek sekarang dia menambah gelar playboy!’ Umpat Mila.


__ADS_2