
Bekerja sebagai General ManagerQuality Control di perusahaan industri pangan terbesar lulusan Biologi dari salah satu Universitas Negeri Terbaik di Indonesia merupakan suatu pencapaian yang luar biasa.
Terlebih untuk ukuran fresh graduated dengan nilai IPK yang Cumlaude dan berpredikat Mahasiswa Terbaik di angkatannya membuat ia menjadi banyak incaran perusahaan. Bukan hanya perusahaan-perusahaan Dalam Negeri tetapi juga Luar Negeri.
Prestasi yang gemilang ditunjang oleh wajahnya yang rupawan, badan atletis, dan tinggi yang ideal membuat pemuda yang memiliki manik mata hazel dengan gradiasi coklat terang serta rambut berwarna hitam kelam ini digandrungi oleh sebagian besar perempuan yang ada di kampusnya. Meski begitu tetap tak ada yang mampu menaklukan hatinya.
“Pak, adulteration test dinyatakan positif.” Lapor seseorang bernama
Andri pada Altair, General Manager
Divisi Quality Control.
“Yang benar kamu?” Tanya Altair terkejut karena pengujian antibiotik itu dilakukan dengan Metode Delvo,
pengujian yang bertujuan mengetahui adanya kandungan antibiotik dalam susu
segar.
Adanya antibiotik dalam susu segar dapat diketahui dari reaksi nutrien
dengan susu. Namun kini terjadi warna nutrien tiba-tiba menjadi kuning yang
menunjukkan susu tidak mengandung antibiotik. Bahaya untuk kesehatan jika
dikonsumsi.
“Lakukan pemantauan terhadap adanya bakteri-bakteri yang
resisten.” lanjut Altair seraya mencari withdrawal time yang pendek dari macam antibiotika yang digunakan.
-oOo-
Waktu tepat menunjukkan pukul 09.00 a.m pada jam yang tergantung di dinding putih yang berada tepat diatas gadis
itu. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja. Setelah sempat
menganggur selama berbulan-bulan, akhirnya Mila mendapatkan pekerjaan. Cukup
sulit mencari pekerjaan padahal ia adalah lulusan dari universitas nomer satu di indonesia. Tapi IPK nya turun drastis sejak kejadian di masa lalu.
“Toni, nanti ke ruangan saya ya.” Mila mendengar suara seorang pria dibelakangnya
saat ia sedang memperhatikan seluruh ruangan.
“Baik pak.” Jawab Toni lalu terdengar langkah kaki di belakang Mila
berlalu pergi.
‘Suaranya kayak gak asing deh’ ujar Mila dalam hati.
“Mila… Nona Mila Kamu dengar apa yang tadi saya
jelaskan?” panggil Toni pada Mila
“E…eehh Maaf Pak, saya tidak mendengarnya. Apa
bisa Bapak beritahu lagi?” Tanya Mila pada Toniseraya menggaruk tengkuknya gugup.
“Iya nanti ada meeting jam sebelas dan saya
akan memperkenalkan kamu secara resmi dalam meeting tersebut. Oleh karena itu, saya minta kamu hadir
juga. Oke kalau begitu saya tinggal dulu, selamat bekerja ya.”
“Baik Pak, Terima Kasih.”
-oOo-
Baru hari pertama Mila bekerja tapi sudah dapat setumpuk berkas dan harus
selesai hari ini juga. Hingga tak terasa
waktu menunjukkan pukul 11.00 a.m sudah waktunya meeting, ini meeting pertama dan perkenalan resmi untuk Mila. Hufttt, Milamenghela nafas panjang karena gugup.
“C’mon guys,
saya tunggu kalian di meeting room ya.” Ujar Toni mengagetkan Mila dan rekan-rekannya.
Sesampainya di meeting room fokus Mila langsung
tertuju pada seorang pria jangkung yang duduk di meja depan bersama Toni. ‘Oh god, ini mata gue gak salah kan?’ ujar Mila dalam hati seraya terus mengucek-ngucek mata. Mila tidak menyangka bisa bertemu lagi dengannya.
Dengan pria yang sangat ia benci. The Maximus Black! Hell !!
“Milaaaaaa sini cepet.” Teriak Chika seraya melambaikan tangannya
“Nah ini dia yang ditunggu-tunggu. Oke semua, seperti yang saya bilang tadi, saya akan memperkenalkan anggota baru di tim kita. Ini
Mila, dia yang akan menjadi Assisten Pak Altair.” Jelas Toni memperkenalkan Mila.
‘What?!!! Gue jadi asistennya si brengsek ini.’
“Selamat Siang semua, Perkenalkan saya Clarin Nadya Kamila. Kalian bisa panggil
__ADS_1
saya Mila. Mohon bantuannya ya semuanya” Ucap Mila berusaha tersenyum seraya membungkukkan badan. Ia berusaha menahan dirinya
menghampiri Altair dan menendang pria itu hingga babak belur.
“Hai Mila, mohon bantuannya.” Kata Altair seraya mengulurkan tangannya, Mila terpaksa berjabat tangan dengan pria itu.
“Iya Pak.” Jawab Mila canggung, ia masih
tidak bisa mempercayai apa yang ada dihadapannya sekarang. Ia bertemu kembali
dengan Altair, Seniornya semasa kuliah dan kini menjadi atasannya.
Mila kembali keruangannya
setelah melewati rapat yang membuat dia sesak. Dia tak percaya pria idiot itu
tak mengenalnya sama sekali, padahal menurutnya ia tak berubah banyak. Walau
berat badannya turun 10kg, dan dia melakukan perawatan maksimal hingga kulit
cokelat langsatnya menjadi putih merona, serta mewarnai rambutnya menjadi Dark
Brown. Apanya yang pria jenius, ia hanya pria buta!
“Mil, rapihkan semua
barang-barang kamu. Sekarang meja kamu didalam ya bareng Pak Altair.” Ujar
Toni menjelaskan.
“Harus banget di dalam
juga pak?” Enggan Mila dengan niat setengah-setengah merapihkan
barang-barangnya.
“Ya haruslah, kamu kan
assistennya.” Ujar Toni terkekeh-kekeh.
Dengan langkah gontai, Mila
membuka pintu ruangan General Manager itu
“Pak, saya boleh diluar
saja kan?” Tanya Mila pada Altair
“Kenapa? Saya tidak makan
gak makan orang, tapi gue makan hati!’ gumam Mila
“Kamu ngomong sesuatu?”
“Ah..nggak pak.” Elak Mila
“Kalau gitu cepat masuk
dan tutup pintunya lalu duduk. Itu meja mu.” Tunjuk Altair pada Mila ke meja
yang ada di sudut kiri ruangan.
-oOo-
Cukup lama keheningan itu
menyinggapi mereka karena fokus pada pekejaannya masing-masing hingga telepon
genggam milik Altair berdering.
“Hallo.” Suara Altair memecah keheningan karena menjawab panggilan tersebut.
“Tidak, aku tidak kesana
malam ini. Aku sedang tidak ingin mencari
masalah dengan Ian.”
“Sudahlah jangan
menggangguku, aku sedang bekerja.” Tutup Altair. Tak lama telepon genggam
Altair kembali berdering.
“Kenapa masih menghubungi
ku? Bukankah sudah ku bilang, urusan kita hanya kesepakatan semalam. Jangan
bertindak murahan! Aku sedang sibuk!”
Tiga panggilan terus
berlanjut hingga ia membanting telepon genggamnya kesal membuat Mila mengelus
__ADS_1
dada karena terkejut. ‘Dia yang mencari masalah dengan wanita-wanita itu tapi
kenapa juga dia yang membanting handphone nya. Dasar bodoh! Lebih baik buat ku saja!’ batin Mila kesal.
“Mila, jika kau sudah
selesai mengetik laporan itu letakkan saja diatas meja. Saya pulang cepat
hari ini.” Tak lama Altair beranjak dari kursinya lalu pergi dari ruangan.
‘Dia bilang pada semua
wanita itu kalau dia sibuk tapi dia malah pulang cepat dan meninggalkan semua
pekerjaan ini padaku. Dasar Bajingan! Brengsek!’ Mila menggerutu dalam hati.
-oOo-
Sepulang dari kantor,
Chika dan Mila berencana makan malam bersama di sebuah cafe tak jauh dari
perkantoran mereka.
“Bagaimana Mil? Pasti
sangat menyenangkan ya satu ruangan dengan Pak Altair?” tanya Chika membuka
percakapan setelah selesai memesan makanan di kasir dan menemukan tempat duduk
yang pas
“Biasa saja.”
“Kau beruntung sekali
selama delapan jam sehari menatap wajah tampan Pak Altair.” Ujar Chika
menggenggam kedua tangannya dengan mata yang berinar-binar seperti anjing
kecil.
“Aku hanya menatap
laporanku sepanjang jam kerja, Really!” Jawab Mila menghancurkan fantasi Chika.
“Kau jangan merusak fantasiku,
setidaknya kau bisa menghirup aroma tubuhnya yang tersebar diseluruh ruangan
itu.”
“Ayolah Chika, jangan
bertindak mesum!”
“Ini kenyataan, tidakkah
kau menyiumnya?”
“Chika lebih baik kau
konsultasi dengan psikiatris sebelum semakin parah.” Kata Mila seraya menepuk
Bahu Chika.
“Aku butuh dokter cinta.” Jawab
Chika yang dijawab Mila dengan ekspresi absurd, entah dia harus bertindak
seperti apa dengan teman barunya ini. Untunglah tak lama makanan yang mereka
pesan telah datang, jika tidak. Tidak ada yang dapat menghentikan ucapan Chika
dan fantasinya itu.
‘Kalau aku lebih lama satu
ruangan dengan Maximus Black dan para
fans-fansnya ini bisa-bisa aku yang lebih butuh psikiater’ Mila menghela nafas
prihatin dengan nasibnya ke depan.
“Tapi aku sedikit sedih
tidak bisa bersaing dengan para perempuan yang berada di sekeliling Pak Altair.
Jadi Mila, kau harus mulai terbiasa jika saat jam makan siang maupun jam pulang
kerja ada perempuan dengan pakaian kekurangan bahan memasuki ruangan mu dan
berbeda-beda tiap harinya.” Mendengar ucapan Chika ekspresi Mila mulai berubah,
__ADS_1
dingin dan tak terbaca. ‘Pria bajingan itu. Selain
memiliki gelar brengsek sekarang dia menambah gelar playboy!’ Umpat Mila.