
Mila tiba di kantor cukup pagi, langkahnya
terhenti saat akan membuka pintu ruang kerja Altair dan dirinya. Entah kenapa Mila
jadi teringat ucapan Chika. Perlahan wanita bersurai gold brown itu membuka
pintu, takut jika ia membuka pintu terlalu lebar aroma di dalam ruangan akan
berlari pergi dan menghilang. Dengan celah yang cukup Mila masuk ke dalam
ruangan dan menutup pintu cepat.
Mila mengambil nafas dalam, samar tercium
aroma Avtershave yang mulai familiar.
Aroma khas milik Altair. Bergedik menyadari aroma pria itu mendominasi ruangan
seolah menyelimutinya, disaat bersamaan Mila merasa mesum dan ngeri.
Cepat-cepat Mila mengeluarkan parfum Channel favoritenya dan menyemprotkannya
ke seluruh sudut yang terasa memiliki aroma pria itu, membuat Altair mengeryitkan hidung saat memasuki ruang kerjanya karena aroma feminim yang menyebar. Mila duduk dengan tenang dan bersikap tak peduli atas ketidaknyamanan atasannya.
“Kau memecahkan botol parfum mu atau
berusaha menutupi aroma sperma sebenernya?!” Ucap Altair sambil melangkah ke mejanya
*F*ck*! Ingin rasanya Mila melempar botol
parfum itu ke meja Altair sekarang
‘Iya aroma sperma! Sperma mu itu yang
ditanam di banyak lubang! Bajingan! Brengsek! Playboy! Mati saja kau!’ rutuk Mila
dalam hati. Jika sekarang Chellyne, sahabat Mila sejak kecil mengetahui Mila
memaki seseorang, pasti wanita itu sudah meneteskan air mata karena bangga.
“Ah, tidak Pak. Saya tidak bermaksud.
Hanya saja saat saya memasuki ruangan, aromanya terasa pengap.” Mila berusaha
tak memaki atasannya itu dan menyungging sedikit senyuman tipis
“Jika kau melakukan sex dikantor pun tak masalah, selama tak di ruangan ku dan
mengganggu kinerja mu” Jawab Altair acuh.
Dan Mila benar-benar berusaha untuk tidak
melempari atasannya itu dengan buku laporan yang ada dimejanya.
Sejak kejadian itu Mila tak lagi
menyemprotkan ruangan dengan parfumnya, dia membeli dua buah pengharum ruangan
semprot otomatis dan meletakkannya disudut dekat Altair dan satu lagi di sudut
mejanya sendiri sebagai penangkal lain. Altair tidak berkata apapun mengenai
dua pengharum baru diruangannya, tapi dari matanya terlihat jika dia geli
dengan tingkah menggemaskan assisten barunya ini.
-oOo-
Rutinitas Mila mulai terasa monoton,
bangun pagi berangkat kerja, pulang kerja menonton televisi lalu tidur, terus
seperti itu sampai hari libur yang dilakukan Mila adalah menghabiskan waktunya
menonton drama korea, menghabiskan tissue terkadang dan sejumlah cemilan.
Chellyne yang datang tiap akhir pekan untuk melihat keadaan tetangga dan teman
masa kecilnya, kadang mengajak Mila pergi atau sekedar menonton bersama.
Diantara rutinitasnya ini ada satu hal
yang mengusik si surai golden brown. Akhir-akhir ini ia merasa atasannya
terkadang menatapnya terlalu lama, membuat Mila gelisah apa pria itu sadar
kalau ia adalah juniornya di Kampus yang sama. Tatapan Altair membuat Mila
tak nyaman, tanpa menoleh pun Mila merasa ia sedang diamati, diteliti, dan
sekali-kali mata mereka bertemu dan ada sesuatu yang asing dan misterius
berkilat dibola mata Altair membuat Mila merasa tercekat beberapa detik sebelum
melepas kontak mata mereka.
“Menurut lo kenapa seorang pria menatap lo
__ADS_1
terlalu sering?” Tanya Mila pada Chellyne yang sedang berada disampingnya
menonton drama korea
“Dia naksir lo” Jawab Chellyne sambil
mengaduk-aduk es krim cup dipangkuannya. Serius menonton
“Atau apa dia tau gue itu juniornya ya?”
gumam Mila
“Siapa?”
“AL”
“Artificial Light?” tanya Chellyne tak fokus
“Bukan! Tapi Altair!”
“What? Si bajingan itu?!!” tanya Chellyne shock lalu menekan spasi untuk mempause film
yang sedang di putar dilaptop Mila
“Iya” jawab Mila kalem
“Kok bisa? Lo ketemu bajingan brengsek
keparat itu dimana?”
“Loh gue belum cerita ya kalau dia itu
atasan gue?” ujar Mila sambil menatap sahabatnya dengan polos
“Enggak!! Lo gak ada cerita apa-apa! Lalu
lo udah ‘apain’ aja tuh si bajingan? Lo tendang? Lo cekik? Atau lo kebiri?”
“Gila! Dia itu atasan gue!”
“Jadi belum lo apa-apain?”
“Belumlah! Gue aja pertama kali ketemu gue
tahan-tahan diri untuk gak nampar, tendang terus gue dorong itu orang ke luar
jendela. Apalagi ternyata dia gak ingat gue!” kesal Mila
“Hah?” Chellyne menatap Mila dari atas ke
juniornya dulu
“Lalu si bajingan itu melihat lo gimana?
Lo takut kalau dia tau itu lo?"
“Iya, gue emang kesel Al gak inget siapa
gue. Tapi baguslah setidaknya gue bisa berpura-pura nggak mengenalnya sebelum
ini dan bertingkah layaknya atasan-bawahan biasa”
“Hmm gue rasa sih ya si bajingan itu juga
belum tau lo itu siapa. Lo nyaris beda sih dari lo waktu zaman kuliah. Mungkin
Al ngeliatin lo terus karena ada hal lain”
“Apa? Naksir gitu sama gue?”
“Naksir? Nggak juga sih, gue rasa dia masih
cuma baru ada ketertarikan sama lo. Bagaimanapun lo yang sekarang kan gak kaya dulu. Bukan lagi si Nerd Mila. Lo itu sekarang bisa jadi cewek yang gonta-ganti partner sex layaknya ganti baju”
“Mulut lo, Lyne!” Chellyne hanya tertawa terbahak-bahak
melihat wajah Mila yang memerah
“Saran gue, lebih baik lo perhatiin
bener-bener apa si Al itu terlalu sering ngelirik lo. Kalau iya, coba deh lo ambil gerakan senatural mungkin ngibasin rambut dengan menggunakan kemeja Vneck rendah lalu menunduk mengambil pulpen yang sengaja lo jatuhin dengan pinggul melengkung sempurna yang bisa menggodanya, dan lihat apa reaksinya bukan bagian selatannya. Kalau orangnya berpengalaman mah segitu gak bakal menstimulasi sih”
“Gilaaaa!!!” maki Mila sambil melempar keripik kentang ditangannya ke Chellyne
“serius gue” Ucap Chellyne lalu berlari
keluar dari apartement Mila
“Chellyne bangke! Dasar lo cewek jalang
tanpa filter!”
“I KNOW THAT!” teriak Chellyne sebelum menutup pintu apartementnya sendiri
-oOo-
Dengan tekad dan perasaan kurang yakin
__ADS_1
yang membayangi Mila memasuki ruang kerja. Seperti biasa, Altair belum hadir. Mila
menghirup aroma ruangan yang entah kenapa menjadi bagian kesehariannya memulai
harinya. Mencium aroma pengharum ruangan membuat Mila merasa lebih baik memulai
kerjanya.
Mila duduk di kursinya, mengambil cermin
dan merapihkan penampilannya. Hari ini dia mengikuti saran Chellyne. Walaupun
otaknya itu dipenuhi dengan saran dan ide-ide gila, namun entah kenapa saran
sahabatnya itu selalu benar.
Mila memakai kemeja putih kancing dengan Vneck rendah tanpa harus membuka dua kancing teratas. Untuk bawahannya ia
memakai rok hitam ketat diatas lutut. Penampilan Mila lebih terlihat seperti
sekretaris seksi yang berusaha tampil formal, dengan rambut golden brown yang digulung ke atas menyisakan anak rambut yang membingkai wajah cantiknya.
Tak lama setelah Mila merapihkan make
up-nya yang terlihat natural- kecuali bibirnya yang memang sengaja ia beri
warna merah- atasannya masuk ke ruangan. Tanpa melirik apakah sekretarisnya
sudah datang, Altair melangkah dan duduk dikursinya.
“Selamat pagi, Pak” Sapa Mila sopan
membuat arah pandangan Altair menatap gadis itu
“Pagi” Jawab Altair. Matanya tak langsung
di alihkan dari Mila. Pria itu memperhatikan wajah sekretarisnya yang hari ini
menggodanya dengan warna merah yang terpoles indah di bibir mungil itu.
Harus Altair akui bibir Mila adalah salah
satu bibir wanita yang paling indah yang ada di kehidupannya. Dan wanita-wanita
itu hanya segelintiran yang ada. Bentuk dan lengkungan bibir yang sempurna itu
pernah ada di sudut kenangan Altair, tapi bibir itu tak semenarik bibir yang
terpoles warna merah di depannya kini.
“Ada apa, Pak?” tanya Mila yang menyadari
perubahan ekspresi Altair
“Ah tidak, lanjutkan saja kerjaan mu.
Siang ini saya minta hardcopy-nya
sudah ada dimeja saya”
“Baik, Pak”
-oOo-
Diantara kesibukannya mengerjakan laporan
yang Altair minta, Mila mengingat misi yang diusulkan Chellyne dan akan ia
lakukan hari ini karena sudah memakai kemeja V Neck rendah. Mila pura-pura tak
sengaja menggulirkan bolpoint yang ada di mejanya saat akan menggeser berkas
laporan ke depan mejanya hingga terjatuh.
“Upss” ujar Mila agar Altair meliriknya.
Saat ia rasa Altair melihat ke arahnya, Mila
berdiri dari duduknya lalu mengambil bolpoint itu dengan sedikit membungkukan
badan sehingga sedikit belahan dadanya terlihat serta badannya ia lengkungkan dengan sudut yang pas seperti yang Chellyne contohkan.
Tak lama Mila samar mendengar tarikan
nafas kasar dari arah depannya. Mila pun mengangkat kepalanya dan menatap kedua
mata Altair. Ekspresi yang dilihat Mila ada di wajah Altair membuat Mila gugup
dengan cepat ia meluruskan badannya dan melangkah ke bangkunya. Mila menundukan
wajahnya berusaha fokus pada pekerjaaannya, ia merutuki ide gila Chellyne.
Sekarang Mila yang terperangkap pada
bayangan wajah Altair, wajah dengan kedua bola mata hitam itu terlihat semakin
gelap karena di selimuti kabut gairah.
__ADS_1