Seduce My Ex

Seduce My Ex
Episode 8


__ADS_3

"Kamu baru saja datang dan sekarang sudah mau pergi meninggalkan saya?"


Altair meraih tangan Mila dan membuat Mila menoleh


"Jangan manja. Saya hanya pergi ke depan rumah sakit, saya lupa beli sarapan untuk diri saya sendiri.


Lagipula bukankah 5 menit yang lalu Anda minta saya pulang?" Mila melepaskan tangan Altair


"Baiklah, saya minta maaf" Altair melepas tangan Mila


Mila terkekeh-kekeh melihat raut wajah Altair seperti anjing kecil yang dimarahi


Dilorong saat balik dari depan rumah sakit, Mila menabrak seseorang. Dari seragamnya terlihat seperti perawat.


"Dinda?" tanya Mila pada perawat tersebut


"Nadya? Bener Nadya ya? Apa kabar Nad?" Jawab Dinda, teman Mila semasa kuliah dulu.


Dinda adalah orang pertama yang Mila temui saat OBM -Orientasi Belajar Mahasiswa- dulu,


meski mereka tidak satu jurusan bahkan satu fakultas namun mereka tetap akrab.


Ya, Mila berada di Fakultas FMIPA --Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam-- sedangkan Dinda di FIK --Fakultas Ilmu Keperawatan.


Dicelah jadwal yang padat karena seringnya bentrok waktu kuliah namun mereka tetap


mengupayakan agar bisa makan siang bersama. Kadang dikantin di fakultas Mila, atau sebaliknya.


"Alhamdulillah Din, gue baik-baik aja. Lo kerja disini?"


"Iya Nad. Ya ampun lo beda banget sih sekarang. Lo ngapain disini? Siapa yang sakit?"


tanya balik Dinda bertubi-tubi seraya melihat Mila dari atas rambut hingga ujung kaki dan ia tak menemukan tanda satupun kalau Mila itu pasien


'ah sial! Gak mungkin kan gue bilang kalau gue lagi jagain Altair' Mila bingung harus menjawab apa


"Suster Dinda, tolong cairan infus ibu saya sudah habis" ucap seseorang menghampiri mereka tiba-tiba dengan nafas terengah-engah.


'Yes! Selamat!' Mila teriak dalam hati


"Ah baik Pak." Sahut Dinda pada Pria berbaju cokelat.


"Nad, gue kerja dulu ya. Semoga lekas sembuh ya keluarga lo"


"Oke Din. Thank you ya, Happy working" Mila memeluk Dinda lalu Dinda pergi menuju ruang


perawat mengambil infus.


"Mil?" Mila berdeham saat menyuapi Altair


"Kau percaya kalau ada pelangi setelah hujan?" tanya Altair


"Tidak"


"Sehabis hujan memang belum pasti akan ada pelangi. Tapi suatu saat bisa jadi


pelangi itu akan datang di waktu yang tidak bisa kita duga"


Altair tersenyum melihat Mila yang menyimak perkataannya tanpa berkedip


"Satu hal yang harus kau selalu ingat, jangan pernah menunggu kebahagiaan. Karena kebahagiaan itu bukan ditunggu tapi diciptakan. Sama halnya seperti pelangi sehabis hujan. Daripada menunggu yang tak pasti, lebih baik menciptakan pelangi kita sendiri" sambung Altair lagi


"kenapa ngomong kaya gitu?"

__ADS_1


"Gak ada apa-apa. Saya bosan dikamar tiduran, saya ingin keluar dan berjalan"


"Baiklah. Sini saya bantu duduk di kursi roda"


"Saya sudah sehat! Saya bisa berjalan menggunakan kaki saya sendiri!"


Altair kekeh dengan pendiriannya


"Ingat Bapak lemah saat ini!" Bentak Mila seraya membantu Altair berdiri dan


mendudukinya pada kursi roda.


Dengan sangat hati-hati Mila mendorong Altair dengan kursi roda, membawanya mengelilingi rumah sakit.


Kamar Dahlia punya fasilitas kelas VIP yang dilengkapi dengan sofa panjang, lemari es,


televisi, kamar mandi lengkap dengan shower dan water heater.


Serta ada toilet duduk dan jongkok, dan beberapa sarana yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan oleh orang sakit.


Altair dan Mila keluar dari kamar Dahlia nomer 115, lalu berjalan menyelusuri lorong-lorong menuju kursi taman kecil yang ada diruang Dahlia.


Sekilas mereka nampak tidak seperti sedang menginap dirumah sakit, terang saja ada sembilan kamar berjejer berhadapan dengan taman kecil nan asri.


Disebrang taman ada meja resepsionis dan ruang perawat, kantin, dan living room tempat bersantai untuk para pengunjung, keluarga pasien bahkan tak jarang pasien itu sendiri.


Altair tidak tertarik. Ya, semegah apapun rumah sakit tetaplah rumah sakit dan banyak cerita horor didalamnya dimana pun itu.


"Eh kenapa berhenti?" Mila terheran Altair tiba-tiba menghentikan kursi rodanya di lobby


lalu menunjuk ke arah luar rumah sakit.


Altair menunjuk ke arah kanan. Mila menoleh ke arah yang ditunjuk. Disana terdapat penjual kopi dan kacang rebus keliling.


"Ngga boleh! Bapak masih sakit" Tawa Mila tertahan melihat wajah cemberut Altair.


Bibirnya mencabik kesal persis anak kecil yang ngambek tidak dibelikan balon oleh ibunya


Altair mendorong kursi rodanya sendiri menuju taman rumah sakit. Kini mereka duduk bersampingan.


Tentu saja Mila duduk dikursi taman, sedangkan Altair dikursi rodanya. Sebenarnya Altair ingin duduk disamping Mila tapi Mila melarang karena Altair masih terlalu lemah


Altair duduk seraya memperhatikan lorong panjang yang ada di depannya saat ini.


Sebuah papan nama menggantung di langit-langit lorong yang bertuliskan 'koridor 9' dan beberapa petunjuk arah.


Rumah sakit ini terbilang cukup luas, maka wajar jika disetiap lorong terdapat penunjuk arah.


Koridor 9 adalah sebuah lorong yang memanjang disamping ruang Dahlia dan berakhir pada


sebuah area gelap jauh disebelah timur.


"Ruang Mawar" ucap Altair membaca papan penunjuk arah


Matanya memandang jauh pada ruang mawar diujung lorong yang gelap. Tidak ada seorang pun yang melintas disana. Altair hanya bisa melihat bayangan kamar berjejer.


Suara berisik tukang kebun yang merapihkan pohon ditaman memekakkan telinga membuat Altair menoleh ke arah kiri lalu tatapan Altair kembali ke depan


"Saya tidak punya siapa-siapa, oleh karena itu wajar kalau tidak ada yang peduli dengan saya. Mereka hanya menginginkan uang saya, tidak seperti ...." Ucapan Altair terhenti saat gemuruh petir mendengungkan telinga seantero rumah sakit.


Mila reflek bangkit dan segera bergegas membawa Altair kembali ke kamarnya


"Jau tau jika kau tak menghentikannya lima detik lagi mungkin aku akan berakhir saat ini.

__ADS_1


Kau pikir kau sedang mengikuti lomba balap kursi roda?" Altair menggerutu karena jantungnya serasa mau copot didorong seperti itu oleh Mila


"Maaf pak. Ada yang sakit? Ada yang terluka?" Mila meringis dan Altair menggelengkan kepalanya. Gelengan yang bisa membuat Mila bernafas lega


Ia membantu Altair kembali ke kasurnya namun Altair menolak


"sebaiknya kau pergi sekarang bawakan aku spring bed. Kasur disini sangatlah tidak nyaman. Dan lagi ada aura-aura bekas mayat"


"Makhluk ini kenapa sih kalau bicara sembarangan banget mulutnya! Nanti kalau didengar para suster disini baru tahu akibatnya!"


"Bagus dong biar mereka ganti semuanya. Dengar ya Mil, pasti udah ada orang yang sudah mati pernah tidur disini"


Mila menghela nafas panjang lalu mengusap wajahnya


"berapa kali saya bilang ini kasurnya sudah diganti Tuan Altair!! Kasurnya, selimutnya, spreinya, semua sudah diganti. Kalau Bapak ngomong gitu nanti malah beneran digangguin arwahnya loh"


"Mila, mulut kamu itu minta saya lakban ya?" Altair akhirnya mau dibantu tidur dikasurnya,


rupanya ia ketakutan mendengar penjelasan Mila.


Disisi lain tawa Mila pecah menyadari ketakutan Altair.


—**oOo**—


Malam kembali menghampiri, Mila berjalan ke arah meja menyiapkan makan malam untuk Altair. Setelah semuanya sudah siap, gadis itu mendekat ke ranjang


"makan sendiri ya"


"suapin" jawab Altair dengan nada manja


"Loh bukannya tadi ada yang ngotot mau jalan aja katanya udah sehat malah sampai


minta minum kopi segala tapi disuruh makan sendiri ngga mau"


"saya sakit lagi karena tadi kamu bawa kursi rodanya ugal-ugalan"


"Alasan!" Decak Mila sambil menyendokkan bubur ke mulut Altair


"Bubur lagi? Ngga ada yang lain? Bosen tau"


"makanya cepat sembuh biar bisa makan indomie goreng lagi. Enak tau, Bapak nggak kangen apa?" Goda Mila tertawa melihat ekspresi Altair


"Kamu tau dari mana kalau saya pecinta indomie goreng?" tanya Altair yang lagi-lagi membuat Mila bingung harus menjawab apa.


Lelaki itu sangat cinta pada indomie goreng. Sekalipun ia tak pernah menolak kelezatan


makanan instant yang satu itu meski ia sudah makan kalau disuguhkan indomie goreng ia akan melahapnya.


Tak peduli akan ceramahan Mila yang melarangnya makan itu dan mengatakan itu tidak sehat.


"Mmm.. i..itu, bukankah semua orang menyukainya? Jadi ku pikir Bapak juga"


"Oh aku tahu, jangan-jangan kau salah satu anggota AFC"


"AFC? "


"Altair Fans Club" Jawab Altair bangga


"Harusnya AVG" Ujar Mila


"Apaan AVG?"


"Altair Victim Group" Jawab Mila seraya tertawa melihat ekspresi Altair yang kesal

__ADS_1


__ADS_2