Seduce My Ex

Seduce My Ex
Episode 10


__ADS_3

Itu dia


Mila melihatnya


Dadanya kembali berdebar kencang melihat pemandangan dihadapannya.


"Nah gitu dong. Kan enak makan bareng gini dalam keadaan saya sehat. Masa maunya makan bareng saat lagi di opname" Altair memulai pembicaraan saat mereka sudah menemukan meja kosong


"Beruntunglah Anda menjadi atasan saya, kalau tidak. Saya takkan ada disini"


"Hahaha begitu rupanya" Altair tertawa mendengar jawaban dari Mila


Akhirnya mereka makan siang bersama. Dan seperti biasa dalam diam. Altair beberapa kali berceloteh hanya untuk mencairkan suasana. Tapi sungguh, Mila sangaat sedang tidak dalam mood yang bagus untuk bercanda.


Bayangkan saja, bagaimana kalau satu kantor menggosipkan Mila dengan Altair?


Walau bagaimanapun dia adalah Manager Quality Control di perusaahaan ini. Banyak orang juga mengatakan kalau Altair bukalanlah tipe orang ramah kepada karyawan. Hanya beberapa kali saja dia tersenyum kepada karyawannya. Apalagi wanita.


Disinilah Mila, di toilet lantai 9 sambil mencuci mukanya. Mila masih tidak mempercayainya makan siang hanya berdua dengan Altair di Kafe yang terletak di samping kantornya.


Mila masih tidak berani keluar karena takut ada seseorang yang melihatnya bersama Altair. Mila takut mendapat bullyan. Bukan berarti Mila lemah, ia hanya mencari aman saja.


Tapi walau bagaimana pun kalau Mila tidak menghadapi masalah, Mila takkan pernah bisa keluar dari masalah itu. Jadi Mila memutuskan untuk keluar dari toilet ini dan berlari ke ruangan


"Lo kenapa sih ngos-ngosan gitu? Abis ketemu setan?" Canda Melly sambil meminum kopinya dengan santai


"Bahkan ini lebih parah!" Seru Mila sambil merebut kopi Melly dan langsung meminumnya


"Sialan lo! Kalau mau, bikin sendiri sana! Ehh by the way tau gak, tadi gue denger katanya ada karyawan cewek yang makan siang berdua sama Pak Altair. Gila! Beruntung banget gak sih?" Celoteh Melly tiada akhir


"Gila! Cepet amat beritanya nyebar! Lo mau tau gak siapa cewek yang makan bareng Pak Altair? "


"Jangan bilang kalau dia itu...."


"Yup, gue"


"Serius lo? Lo tau kan Chika suka banget sama Pak Altair? Dan bagaimana kalau dia tau kalau itu ternyata lo?"


"Ya makanya lo jangan kasih tau dong"


"Ada uang tutup mulut kan? Haha" Jawab Melly merebut kembali kopi dari tangan Mila


Saat Mila mau memasuki ruangan, tiba-tiba Ronald menghampiri Mila dengan semangat.


"Hai Mil! Nanti pulang bareng aku, yuk!" Ucap Ronald berseru ramah


"Eh boleh boleh. Kebetulan nih ada tumpangan gratis haha"


Tiba-tiba ada suara bariton yang menyela percakapan Mila dan Ronald.


"Ronald, kamu sudah merekap data keuangan bulan ini kan?" Tanya Altair dengan aura wibawanya yang tinggi


"Lho Pak, bukannya rekapan data baru mulai ditarik besok?" Tanya Ronald bingung


"Oh ya, saya lupa memberi tahu hal ini kepada kamu. Ronald, bisa tolong rekap sekarang juga? Ada beberapa kepentingan mendadak. Tony akan mengambilnya segera" Perintah Altair tanpa mau dibantah


"Baik Pak, akan saya kerjakan sekarang" Jawab Ronald lirih


"Mil maaf karena data rekapannya banyak jadi kamu pulang sendiri ya. Gak apa-apa kan? Atau mau aku telepon taxi aja?" Tanya Ronald lembut pada Mila


Altair yang melihat hal itu merasa sangat muak. Menurutnya perlakuan Ronald pada Mila itu sudah sangat melampaui batas


"Mila akan pulang dengan saya. Kebetulan rumah kami searah" Altair berkata dengan tegas


Mila yang mendengar hal itu hanya bisa menggerutu dalam hati. Altair pasti sudah merencanakannya.

__ADS_1


'Rekap data hari ini' pasti ulah Altair. Pintar sekali dia memanfaatkan jabatannya. Jengkel Mila sambil terus menggerutu


"Oh oke kalau begitu saya balik ke meja saya ya, Pak Altair, Mila" Ronald pamit sambil berjalan meninggalkan Mila bersama Altair


"Silahkan" Altair menjawab dengan tenang.


Waktu menunjukkan pukul 17.40. Hari sudah petang. Sebagian karyawan bergegas pulang, dan sebagian lagi masih berada di kantor melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.


Terlihat Mila memasuki mobil yang diambil oleh Palet Service.


Saat sudah di dalam mobil, Altair terus tersenyum sambil sesekali bersenandung ria. 'Langkah pertama yang menyenangkan' Pikir Altair tersenyum hangat.


"Saya tau ini pasti ulah Anda kan?"


"Kalau iya kenapa? Ada masalah?"


"Tak seharusnya Anda menggunakan jabatan Anda itu untuk keperluan pribadi. Dan lagipula memang tidak cukup tadi siang kita sudah lunch bareng?"


"Kenapa masih memanggil dengan 'Saya-Anda?' formal sekali"


"Bukankah sudah seharusnya saya memanggil begitu? Itu karna rasa hormat saya sebagai assisten pribadi Anda"


"Baiklah tapi kalau diluar kantor jangan memanggil saya seperti itu. Apalagi kalau sedang dijalan"


"Jadi saya harus panggil Anda dengan sebutan apa? Tuan Altair?"


''Eh ini kan bukan jalan ke arah apartement saya?" Lanjut Mila bingung


"Benar kok ini jalan ke apartement mu"


"Kamu ngga tau jalan ya?" Altair menyindir


"Jalan ke sana apanya? Aku kan tinggal di daerah ini"


mengekspresikan diri dengan baik. Tapi kali ini Mila benar-benar takut. Mila tidak bisa sembarangan berbicara.


'kalau aku mengatakan sesuatu yang memancing emosinya bagaimana? Aku hanya berdua dengannya dan pintu mobilnya pun terkunci. Altair juga yang menyetir mobilnya. Kalau aku minta turunin disini apa Altair mau berhenti? Kalau kecelakaan? Kalau aku diculik? Kalau benar-benar terjadi hal terburuk yang aku bayangkan? Hal yang bisa aku lakukan sekarang tersenyum sambil bersikap manis dan memohon kepada Altair. Sangat menyedihkan.'


'Huft' Mila menghela nafas panjang


"Hei kau jangan memikirkan yang tidak-tidak. Saya benar-benar akan mengantarmu pulang ke apartement mu. Tapi kita hanya berputar sebentar"


"Kemana?"


"Kau ini berisik sekali. Sudah diam saja dan duduk yang tenang"


\-\-\-**oOo**\-\-\-


"Masih jauh?"


"Sudah mau sampai kok"


'Aduh mau pergi kemana sih?' Mila semakin berdebar


"Hei katanya sudah mau sampai"


"Beneran sudah sampai" Ujar Altair mematikan mesin mobilya


"Ayo kita turun"


"Waahhhhh... Luar Biasa!! Cantik sekali! Ternyata masih ada tempat seindah ini ya di Jakarta?!"


"Kau hebat sekali Pak Altair bisa tahu tempat begi...."


deg... Perasaan apa ini. Kenapa Altair terlihat sangat tampan malam ini. Muka Mila seketika memerah

__ADS_1


"Walau jauh setimpalkah?"


"Iya.. Datang kesini rasanya lega. Terima kasih sudah membawaku ke sini. Aku akan sering datangi"


"Makanya jangan negatif thinking aja kerjaannya"


"Uh.. Uwaaaaakhhh!! Aapa ini dikepala ku. Tolong!!!" Mila terkejut ada serangga dikepalanya dan....


"Hei awassss!!!" Altair berhasil menangkap Mila yang hampir terjatuh ke jurang. Dengan posisi memegangi tubuh Mila sedekat ini wajah Altair dan Mila memerah


"Kau ini kenapa ceroboh sekali sih? Hati-hati dong! Telat sedikit saja tadi kau bisa mati tau!"


"M..maaf"


"Sudahlah ayo turun!"


'Oh Tuhan. Rasanya seperti ada benderang dihati ini. Tapi kenapa bisa? Padahal kami sudah melakukan lebih, entah kenapa perasaan ini masih berdebar jika jarak bergitu dekat seperti tadi' Mila berseru dalam hati


Ia tak tahu bahwa Altair merasakan hal yang sama. Altair sangat bingung dengan perasaannya yang selama ini tidak pernah ia alami pada wanita manapun.


'Kenapa hanya dengan dia, aku bisa merasa seperti ini? Uhh!!'


Lagi-lagi mereka canggung


 


                                         **oOo**


 


“Saya ingin bertemu dengan Altair Alvaro” suara wanita yang sangat lantang kepada resepsionis di lantai 9


“Apakah Anda sudah membuat janji dengan Pak Manager?”


“Saya tidak punya janji. Dia tak membalas pesan atau mengangkat telepon saya”


“Mohon maaf, jika Anda tidak ada janji dengan Pak Manager. Anda tidak boleh masuk. Pak Manager tidak suka bertemu mendadak. Silahkan membuat janji terlebih dahulu”


“Persetan dengan Janji” Ujar Wanita itu lalu berusaha menerobos masuk.


 


Tok


Tok


Tok


 


“Tuan Altair”


“Altair Alvaro!”


“Altair!”


Mila mendengar suara berisik diluar pintu.


Seorang wanita pirang memakai mini dress masuk ke dalam ruangan Altair


“Altair, where are you?” Gadis itu terus saja menyebut nama Altair


“Altair isn’t here! He’s at meeting room” Jawab Mila


Gadis itu menggeram pelan “Who are you, *****?”

__ADS_1


__ADS_2