
Sekarang Mila yang terperangkap pada bayangan wajah Altair, wajah dengan kedua
bola mata hitam itu terlihat semakin gelap karena di selimuti kabut gairah.
“Sudah selesai kah laporan yang saya minta tadi pagi, Nona Mila?” tanya
Altair membuyarkan lamunan Mila yang masih terngiang tatapan Altair
“Ah iya sudah pak, ini laporannya” Jawab Mila lalu bangkit dari
kursinya
Mila merasa ketakutan saat akan menghampiri meja atasannya tersebut
“Kau kenapa? “
“Kenapa apanya pak?”
“Badan mu gemetaran, apakah aku terlihat begitu menyeramkan hingga
kau ketakutan seperti ini?” Tanya Altair tepat sasaran
“Ahh..ti..tidak pak. Saya hanya merasa kelaparan, saya izin makan
siang ya pak” jawab Mila lalu segera berpaling dari hadapan Altair walau
atasannya itu belum memberinya izin.
‘Timingnya pas sekali! Oh thanks god!’ Sorak Mila gembira.
Beruntunglah Mila lolos dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan diserbu
Altair padanya
—oOo—
Setelah jam makan siang berakhir adalah saat-saat paling menyebalkan bagi Mila,
ya karena ia harus masuk dan bertemu kembali dengan Altair. Pria itu menatapnya
dengan penuh arti, seakan berkata bahwa aku harus memiliki mu, aku pasti akan
mendapatkan mu.
Ahh….membayangkannya saja membuat bulu kuduk Mila berdiri
Mila berusaha membunuh sisa waktu kerjanya hari ini dengan membaca, dan menaruh
laptopnya disertai tumpukan berkas-berkas di depan mejanya agar Altair tak dapat lagi
melirik ke arahnya. Altair rupanya mengetahui gerakan Mila sehingga ia sengaja
melintasi meja sekretarisnya
“Apa yang kau lakukan?” Altair tiba-tiba menutup layar laptop mengagetkan Mila
“apa yang Bapak Lakukan? Kenapa menutup laptopnya?”
“memang kenapa? Kamu saja sedang tidak mengerjakan laporan kan?”
“iya semua pekerjaan saya sudah selesai, saya ingin pulang tapi belum jam pulang.”
“kamu sakit?” Altair memeriksa kening Mila dengan tangannya, membuat pipi Mila
memerah karena sikapnyanya mengingatkan masa lalunya
“Tidak” Mila mendorong Altair lalu mengambil tas dan keluar dari ruangan itu.
Diluarlangit tampak cerah namun hati seorang gadis cantik yang sedang berjalan menuju
sebuah apartement dibilangan jakarta selatan ini begitu merundung.
“Lo lagi di apartement kan? Ke unit gue sekarang” teriaknya tanpa memperdulikan jawaban
di seberang telepon
“Kenapa sih Mil? Kok lo kesel gitu?” tanya Chellyne begitu Mila sudah sampai di unitnya
“Ah brengsek lo! Ide lo gila!”
“Ada kejadian apa memang dikantor?”
“tatapan Altair itu loh. Aaakhhh gilaaaaa, takut gue lyne”
“berarti misi kita sukses?”
“sukses apaan? Gue gak mau lagi lah nggoda dia pakai pakaian kaya gini”
__ADS_1
“wait..wait.. jangan Mil. Gue udah yakin 100% sekarang kalau dia beneran suka sama lo.
Dia pengin memiliki lo. Dan untuk ngebuka kedoknya, lo harus ikutin rencana selanjutnya”
“apaan lagi?”
—oOo—
Inilah Clarin Mila Kamila yang sekarang, gadis muda yang cantik, dengan pipi kemerahan
dan rambut tatanan salon panjang tergerai sepinggang seperti opal hitam.
Bentuk tubuhnya terlihat seperti marmer muse, mata indah yang misterius,
kakinya putih seperti porselen. Ia tampak terlihat elegant dengan
dress berwarna biru navy seatas lutut berbahan sutra yang berdesir tiap kali
digerakkan.
Ya penampilannya dulu bisa dibilang tidak baik. Dulu ia selalu menggunakan
pakaian konservatif yang cenderung kusam tapi nyaman digunakan, dan
selalu kesulitan mengenakan baju apa yang hendak ia pakai untuk ke pesta
ataupun sekedar hangout. Gaya andalannya sweater dengan rok selutut, rambut kuncir
kuda tanpa riasan di wajah, membuat Mila kala itu tampak seperti kutu buku
tidak menarik. Sedangkan kini ia berpakaian seksi dan penuh gaya.
“Bagaimana pun itu semua adalah masa lalu” Gumam Mila seraya
mengoleskan lipstick pada bibirnya yang indah.
Mila mendengus namun kemudian segera tersenyum kembali. Seulas
senyum tersungging di bibirnya membayangkan misi balas dendamnya pada Altair.
Gadis itu memang bukan orang suci, tapi ia akan berpura-pura suci
dihadapan lelaki itu. Lelaki yang pernah menyampakkannya. Senyum Mila makin
membuncah penuh percaya diri. Dengan langkahnya yang gemulai ia keluar dari
pintu lift menuju ruangan divisinya, melewati meja-meja yang membuat mereka
Mila mematut dirinya di cermin untuk terakhir kali sebelum
melangkah ke ruangan General Manager, mau tak mau ia memuja kecantikan dirinya
sendiri. Rambutnya yang ia warnai oleh salon ternama tergerai panjang dan berkilauan indah. Kulitnya yang sangat
halus seperti sutera hasil perawatan salon ternama tampak bercahaya dan lembut.
Hari ini ia bertekad membuat Altair memujanya. Dengan senyum lebar ia membuka pintu itu.
Tampak seorang lelaki yang sedang menatap luar jendela melirik ke
arah pintu terbuka
“Mila? Kau beneran Mila?” tanya Altair yang melihat Mila membuka
pintu
“Selamat Pagi, Pak. Iya saya Mila, siapa lagi memangnya?”
“Kau sangat berbeda hari ini”
“Bajunya gak match ya, pak? Atau gimana pak?”
“Tidak. Kau malah terlihat sangat cocok memakai dress seperti itu
daripada pakaian mu selama ini”
“Hanya hari ini?”
“Ya, beberapa hari kemarin juga” Ucap Altair mau tak mau harus mengakui
bahwa sekretarisnya ini memang menawan.
“kamu pakai baju seperti ini saja ya. Ini perintah dari saya.”
Sambungnya seraya terkekeh
“Okay, My handsome boss” goda Mila seraya mengernyitkan sebelah
__ADS_1
mata dan mengarahkan ibu jari kanannya
Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa sudah hampir tiga bulan Mila.
Hubungan Altair dengan Mila berlangsung dengan baik karena
mereka berinteraksi dengan intens hampir setiap hari.
Secara aktual, hanya Mila yang ditemui oleh Altair setiap harinya,
hanya Mila teman bicara dan berbaginya, dan hanya Mila satu-satunya orang yang
bisa Altair ajak berkomunikasi.
Menjadi asisten Altair sangat rumit dan Mila harus belajar banyak.
Mengerjakan pekerjaan di perusahaan international tentu saja berbeda dengan
mengerjakan penelitian di laboratorium. Tetapi Altair dengan sabar membantu dan
membimbingny sehingga Mila dapat dengan lancar mengerjakan semua pekerjaannya.
Dan perasaan Altair kian hari kian berkembang kepada Mila. Ya,
wanita itu sangat cantik bagaikan dewi yunani di kisah-kisah para dewa. Dengan
warna rambutnya yang indah, matanya yang dalam, dan bibir yang menggoda.
Penampilan fisik wanita ini pastilah mampu menaklukan pria manapun,
termasuk Altair. Altair sudah melihat dan bertemu dengan para wanita-wanita
cantik dihidupnya. Namun hanya Mila yang mampu mengisi relung hatinya.
Tetapi fisik bukanlah yang utama, sikap Mila yang lembut dan ceria
lah yang membuatnya terpesona. Altair merasa nyaman bersama Mila, dan mulai
merindukan wanita itu ketika mereka tidak bersama. Oleh karenanya
saat weekend pun Altair sengaja memberinya kerjaan tambahan dan
datang ke kantor hanya demi bisa melihat wajahnya.
‘Apakah aku mulai menyukai Mila?’ batin Altair dengan pipi memerah.
‘Oh astaga, aku tidak boleh menumbuhkan perasaan itu. Aku tak boleh
menggunakan perasaan pada wanita manapun’ dengan tegas Altair berusaha
mematikan perasaan cinta yang mulai tumbuh itu.
“Pak, siang nanti kita ada meeting pembahasan laporan quality
control bulanan. Dan sore hari nya meeting dengan GM Divisi Sales”
jelas Mila yang tiba-tiba sudah berada di samping Altair
“Pak, apa Bapak mendengar saya?”
“Ah..maaf Mila. Saya sedang tidak enak badan. Bisa kau gantikan saya?”
“Iya pak, bisa. Bapak pulang saja, biar saya yang menghandle semuanya.”
“Terima kasih, Nona Mila” ucap Altair seraya mengusap rambut Mila membuat
Mila tersentak kaget
“Kalau begitu saya pulang ya. Jika ada yang kamu tidak ketahui, kau
bisa diskusikan dengan Toni” ujar Altair meninggalkan Mila yang mematung di
mejanya.
‘Perasaan apa ini? Dia tidak mengetahui siapa aku sebenarnya kan?’ Mila
terus bergumam memikirkan sikap Altair yang sudah makin berani terang-terangan
melirik dan sekarang mengusap kepalanya.
Harusnya Mila merasa senang karena itu artinya Altair sudah masuk
dalam perangkap Mila. Namun entah mengapa rasa takut mulai menyelimutinya saat
ini. Ia ingin keluar dalam permainan ini tapi tak bisa. Ia harus memainkannya
hingga selesai.
__ADS_1
Sampai kapanpun Mila tak akan pernah melupakan kejadian itu.
Kejadian yang membuat Mila harus berjuang atas nilai-nilainya yang jatuh.