Seduce My Ex

Seduce My Ex
Episode 3


__ADS_3

Sekarang Mila yang terperangkap pada bayangan wajah Altair, wajah dengan kedua


bola mata hitam itu terlihat semakin gelap karena di selimuti kabut gairah.


“Sudah selesai kah laporan yang saya minta tadi pagi, Nona Mila?” tanya


Altair membuyarkan lamunan Mila yang masih terngiang tatapan Altair


“Ah iya sudah pak, ini laporannya” Jawab Mila lalu bangkit dari


kursinya


Mila merasa ketakutan saat akan menghampiri meja atasannya tersebut


“Kau kenapa? “


“Kenapa apanya pak?”


“Badan mu gemetaran, apakah aku terlihat begitu menyeramkan hingga


kau ketakutan seperti ini?” Tanya Altair tepat sasaran


“Ahh..ti..tidak pak. Saya hanya merasa kelaparan, saya izin makan


siang ya pak” jawab Mila lalu segera berpaling dari hadapan Altair walau


atasannya itu belum memberinya izin.


‘Timingnya pas sekali! Oh thanks god!’ Sorak Mila gembira.


Beruntunglah Mila lolos dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan diserbu


Altair padanya


—oOo—


Setelah jam makan siang berakhir adalah saat-saat paling menyebalkan bagi Mila,


ya karena ia harus masuk dan bertemu kembali dengan Altair. Pria itu menatapnya


dengan penuh arti, seakan berkata bahwa aku harus memiliki mu, aku pasti akan


mendapatkan mu.


Ahh….membayangkannya saja membuat bulu kuduk Mila berdiri


Mila berusaha membunuh sisa waktu kerjanya hari ini dengan membaca, dan menaruh


laptopnya disertai tumpukan berkas-berkas di depan mejanya agar Altair tak dapat lagi


melirik ke arahnya. Altair rupanya mengetahui gerakan Mila sehingga ia sengaja


melintasi meja sekretarisnya


“Apa yang kau lakukan?” Altair tiba-tiba menutup layar laptop mengagetkan Mila


“apa yang Bapak Lakukan? Kenapa menutup laptopnya?”


“memang kenapa? Kamu saja sedang tidak mengerjakan laporan kan?”


“iya semua pekerjaan saya sudah selesai, saya ingin pulang tapi belum jam pulang.”


“kamu sakit?” Altair memeriksa kening Mila dengan tangannya, membuat pipi Mila


memerah karena sikapnyanya mengingatkan masa lalunya


“Tidak” Mila mendorong Altair lalu mengambil tas dan keluar dari ruangan itu.


Diluarlangit tampak cerah namun hati seorang gadis cantik yang sedang berjalan menuju


sebuah apartement dibilangan jakarta selatan ini begitu merundung.


“Lo lagi di apartement kan? Ke unit gue sekarang” teriaknya tanpa memperdulikan jawaban


di seberang telepon


“Kenapa sih Mil? Kok lo kesel gitu?” tanya Chellyne begitu Mila sudah sampai di unitnya


“Ah brengsek lo! Ide lo gila!”


“Ada kejadian apa memang dikantor?”


“tatapan Altair itu loh. Aaakhhh gilaaaaa, takut gue lyne”


“berarti misi kita sukses?”


“sukses apaan? Gue gak mau lagi lah nggoda dia pakai pakaian kaya gini”

__ADS_1


“wait..wait.. jangan Mil. Gue udah yakin 100% sekarang kalau dia beneran suka sama lo.


Dia pengin memiliki lo. Dan untuk ngebuka kedoknya, lo harus ikutin rencana selanjutnya”


“apaan lagi?”


—oOo—


Inilah Clarin Mila Kamila yang sekarang, gadis muda yang cantik, dengan pipi kemerahan


dan rambut tatanan salon panjang tergerai sepinggang seperti opal hitam.


Bentuk tubuhnya terlihat seperti marmer muse, mata indah yang misterius,


kakinya putih seperti porselen. Ia tampak terlihat elegant dengan


dress berwarna biru navy seatas lutut berbahan sutra yang berdesir tiap kali


digerakkan.


Ya penampilannya dulu bisa dibilang tidak baik. Dulu ia selalu menggunakan


pakaian konservatif yang cenderung kusam tapi nyaman digunakan, dan


selalu kesulitan mengenakan baju apa yang hendak ia pakai untuk ke pesta


ataupun sekedar hangout. Gaya andalannya sweater dengan rok selutut, rambut kuncir


kuda tanpa riasan di wajah, membuat Mila kala itu tampak seperti kutu buku


tidak menarik. Sedangkan kini ia berpakaian seksi dan penuh gaya.


“Bagaimana pun itu semua adalah masa lalu” Gumam Mila seraya


mengoleskan lipstick pada bibirnya yang indah.


Mila mendengus namun kemudian segera tersenyum kembali. Seulas


senyum tersungging di bibirnya membayangkan misi balas dendamnya pada Altair.


Gadis itu memang bukan orang suci, tapi ia akan berpura-pura suci


dihadapan lelaki itu. Lelaki yang pernah menyampakkannya. Senyum Mila makin


membuncah penuh percaya diri. Dengan langkahnya yang gemulai ia keluar dari


pintu lift menuju ruangan divisinya, melewati meja-meja yang membuat mereka


Mila mematut dirinya di cermin untuk terakhir kali sebelum


melangkah ke ruangan General Manager, mau tak mau ia memuja kecantikan dirinya


sendiri. Rambutnya yang ia warnai oleh salon ternama tergerai panjang dan berkilauan indah. Kulitnya yang sangat


halus seperti sutera hasil perawatan salon ternama tampak bercahaya dan lembut.


Hari ini ia bertekad membuat Altair memujanya. Dengan senyum lebar ia membuka pintu itu.


Tampak seorang lelaki yang sedang menatap luar jendela melirik ke


arah pintu terbuka


“Mila? Kau beneran Mila?” tanya Altair yang melihat Mila membuka


pintu


“Selamat Pagi, Pak. Iya saya Mila, siapa lagi memangnya?”


“Kau sangat berbeda hari ini”


“Bajunya gak match ya, pak? Atau gimana pak?”


“Tidak. Kau malah terlihat sangat cocok memakai dress seperti itu


daripada pakaian mu selama ini”


“Hanya hari ini?”


“Ya, beberapa hari kemarin juga” Ucap Altair mau tak mau harus mengakui


bahwa sekretarisnya ini memang menawan.


“kamu pakai baju seperti ini saja ya. Ini perintah dari saya.”


Sambungnya seraya terkekeh


“Okay, My handsome boss” goda Mila seraya mengernyitkan sebelah

__ADS_1


mata dan mengarahkan ibu jari kanannya


Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa sudah hampir tiga bulan Mila.


Hubungan Altair dengan Mila berlangsung dengan baik karena


mereka berinteraksi dengan intens hampir setiap hari.


Secara aktual, hanya Mila yang ditemui oleh Altair setiap harinya,


hanya Mila teman bicara dan berbaginya, dan hanya Mila satu-satunya orang yang


bisa Altair ajak berkomunikasi.


Menjadi asisten Altair sangat rumit dan Mila harus belajar banyak.


Mengerjakan pekerjaan di perusahaan international tentu saja berbeda dengan


mengerjakan penelitian di laboratorium. Tetapi Altair dengan sabar membantu dan


membimbingny sehingga Mila dapat dengan lancar mengerjakan semua pekerjaannya.


Dan perasaan Altair kian hari kian berkembang kepada Mila. Ya,


wanita itu sangat cantik bagaikan dewi yunani di kisah-kisah para dewa. Dengan


warna rambutnya yang indah, matanya yang dalam, dan bibir yang menggoda.


Penampilan fisik wanita ini pastilah mampu menaklukan pria manapun,


termasuk Altair. Altair sudah melihat dan bertemu dengan para wanita-wanita


cantik dihidupnya. Namun hanya Mila yang mampu mengisi relung hatinya.


Tetapi fisik bukanlah yang utama, sikap Mila yang lembut dan ceria


lah yang membuatnya terpesona. Altair merasa nyaman bersama Mila, dan mulai


merindukan wanita itu ketika mereka tidak bersama. Oleh karenanya


saat weekend pun Altair sengaja memberinya kerjaan tambahan dan


datang ke kantor hanya demi bisa melihat wajahnya.


‘Apakah aku mulai menyukai Mila?’ batin Altair dengan pipi memerah.


‘Oh astaga, aku tidak boleh menumbuhkan perasaan itu. Aku tak boleh


menggunakan perasaan pada wanita manapun’ dengan tegas Altair berusaha


mematikan perasaan cinta yang mulai tumbuh itu.


“Pak, siang nanti kita ada meeting pembahasan laporan quality


control bulanan. Dan sore hari nya meeting dengan GM Divisi Sales”


jelas Mila yang tiba-tiba sudah berada di samping Altair


“Pak, apa Bapak mendengar saya?”


“Ah..maaf Mila. Saya sedang tidak enak badan. Bisa kau gantikan saya?”


“Iya pak, bisa. Bapak pulang saja, biar saya yang menghandle semuanya.”


“Terima kasih, Nona Mila” ucap Altair seraya mengusap rambut Mila membuat


Mila tersentak kaget


“Kalau begitu saya pulang ya. Jika ada yang kamu tidak ketahui, kau


bisa diskusikan dengan Toni” ujar Altair meninggalkan Mila yang mematung di


mejanya.


‘Perasaan apa ini? Dia tidak mengetahui siapa aku sebenarnya kan?’ Mila


terus bergumam memikirkan sikap Altair yang sudah makin berani terang-terangan


melirik dan sekarang mengusap kepalanya.


Harusnya Mila merasa senang karena itu artinya Altair sudah masuk


dalam perangkap Mila. Namun entah mengapa rasa takut mulai menyelimutinya saat


ini. Ia ingin keluar dalam permainan ini tapi tak bisa. Ia harus memainkannya


hingga selesai.

__ADS_1


Sampai kapanpun Mila tak akan pernah melupakan kejadian itu.


Kejadian yang membuat Mila harus berjuang atas nilai-nilainya yang jatuh.


__ADS_2