
Hari kelima Altair di rawat di rumah sakit, keadaannya mulai membaik.
Mila melihat ke arah Altair, dan Altair hanya memaksakan senyumnya. Tak ingin membuat Mila semakin khawatir.
Begitupun saat ia harus memakan makanan rumah sakit yang sangat ia benci dengan lahap.
Mereka makan dalam diam. Hanya suara alat-alat medis., hentakan antara sendok dan piring, serta helaan nafas berat dari Mila yang mengisi ruangan.
Saat makanan sudah habis, Mila izin ke Dapur rumah sakit untuk mencuci peralatan makan.
Ia melihat seorang wanita cantik duduk di bangku taman dekat kamar Altair.
'Wah cantik sekali, siapa ya dia? Kalau dilihat dari gaya pakaiannya sih terlihat seperti model' gumam Mila
"Kau melihat apa, Nad?" Tanya Dinda yang bingung karena Mila berjalan tidak melihat ke depan
"Maaf Din, tadi aku terpesona ada wanita cantik duduk di bangku taman"
"Wanita mana? Tidak ada siapa-siapa disana" Dinda menunjuk ke arah yang dimaksud
"Ta..tadi ada kok Din" Mila terkejut melihat wanita itu tidak ada di bangku taman
"Mungkin sudah pergi. By the way, kamu di kamar nomor berapa? Siapa yang sakit, Nad?"
pertanyaan Dinda membuat Mila tak bergeming
"Om aku, dia sakit Demam Berdarah. Hari ini shift apa, Din?"
"Shift malam. Ini aku mau pulang, tapi sebelumnya mau visit satu kamar lagi. Kamu mau kemana bawa-bawa tempat makanan kotor gitu?"
"Aku mau ke dapur rumah sakit, mau cuci tempat makan sama minta air panas."
"Kalau gitu aku duluan ya, Nad."
"Iya, Din. Hati-hati ya"
Dinda dan Mila berpisah dilorong, Mila ke kanan dan Dinda lurus ke arah kamar 115.
"Selamat pagi. Saya tensi dulu ya. Kata Dokter Maura sudah boleh pulang ya?" Sapa Dinda ke Altair
"Iya, Sus. Akhirnya pulang juga"
"Tekanan darahnya 100/80. Normal ya. Trombositnya juga bagus sudah normal. Pulangnya tunggu Dokter Maura visit sekali lagi ya" Jelas Dinda lalu tak sengaja menjatuhkan gelang dimeja samping tiang infus
"Maaf terjatuh. Saya ambilkan ya"
"Oh itu punya Asisten saya, namanya Mila. Terima kasih ya, Sus" Jelas Altair menyadari Dinda seperti bertanya-tanya gelang itu.
__ADS_1
"Mila? Tapi sepertinya itu gelang yang sama seperti punya...." belum Dinda melanjutkan omongannya, Mila menarik tangan Dinda
"Ahh... Suster gelang seperti ini kan banyak. Oh iya bagaimana perkembangan Bos saya? Tensinya bagus kan, Sus?" Mila memotong pembicaraan Dinda
"Bos?" Dinda bingung
"Iya dia Mila, Asisten Pribadi saya. Mila yang mengurus saya selama ini, Sus."
"Mila? Ohh.. Ini Nona Mila. Asisten Pribadi? Bukan istri kamu?" Dinda menyelidik
"Sus boleh saya minta rekam medik, Bos saya?" Mila menarik Dinda keluar kamar ke ujung lorong yang sepi
"Nad, ini ada apa sih? Dia bilang nama lo Mila? Dan lo bilang tadi yang sakit om lo, tapi ternyata Altair. Gue gak ngerti ini semua. Apa yang sebenernya terjadi? Gue butuh penjelasan lo, sekarang!" Dinda kesal merasa dipermainkan oleh Mila
"Iya oke, gue jelasin. Sebelumnya Altair gak ngenalin gue, karena gue bukan Mila yang dulu. See, banyak perubahan sama gue yang sekarang. Kedua, gue Asisten Pribadinya Altair dan di kantor gue dipanggil Mila, dari nama belakang gue, Clarin Nadya Kamila. Ketiga, gue terpaksa bohong sama lo karena gue takut lo ngira yang macam-macam" Akhirnya Mila berterus terang
"Kenapa lo gak bilang kalau lo itu Nadya, lo mantan pacarnya waktu kuliah dulu?"
"Ngga, Din. Jangan sekarang. Ada sesuatu yang harus gue lakuin terlebih dahulu sebelum Altair tahu siapa gue."
"Buat apa, Nad? Lo mau balas dendam? Gak ada gunanya balas dendam. Coba lo jujur sama diri lo sendiri, sebenernya apa yang lo lakuin saat ini karena dendam atau lo masih suka sama dia?"
"Lo gak ngerti, Din"
"Yaudah lakuin aja apa yang lo mau. Gue ke ruangan dulu ya ambil rekam mediknya. Nanti gue balik lagi sama Dokter Maura"
---oOo---
Satu minggu sudah setelah kejadian dirumah sakit. Mila menjadi trending topic terpanas dikantornya, terlebih dilantai 9. Bagaikan seorang selebritis, sekarang seolah semua mengenal Mila.
Jelas saja seorang wanita dan pria hanya berdua saja, meskipun itu dirumah sakit tetap saja semua mengira Mila mempunyai hubungan khusus dengan atasannya, Altair.
"Milllllll..." Sapa Chika saat baru saja Mila keluar dari lift
"Sumpah ya lo tega banget gak ngajak-ngajak gue! Lo mau nikung gue?" sambungnya
"Hah? Apa?"
"Lo berduaan aja kan sama Pak Altair. Aaaaaaa.... Itu pasti menyenangkan banget"
"Apa sih Chik, lo pikir ngerawat orang sakit itu enak? Ngga kali. Dia bau jigong, bau badan gak mandi, gak sikat gigi. Tapi kumur-kumur sih pakai mouthwash dan mukanya hanya dilap pakai tissue basah"
"tapi tetep ganteng kan?"
"I..iya sih mau gimana dasarnya ganteng mah gak mandi sebulan juga ganteng. Eh, itu kenapa sih pada ngeliatin gue mulu daritadi? Gue saltum? Atau bedak gue keputihan? Parfum gue nyengat? Atau ada lipstick di gigi gue?" Mila salah tingkah karena seisi lantai ini memandanganya dan berbisik-bisik.
"Ngga Mil, semua ngeliatin lo karena lo tuh lagi jadi trending topic seminggu gak masuk kerja dikasih izin sama Pak Altair ternyata karena ngrawat Pak Altair seorang diri."
__ADS_1
"Kalau kemaren Pak Altair sakit lagi gak sama gue, mungkin bukan gue yang ngerawat"
"Tapi bagus juga sih Mil, soalnya Pak Altair gak ada keluarganya disini. Gue yakin abis ini lo akan dipromosiin jabatan"
"Selamat Pagi" Tiba-tiba terdengar Suara bass yang khas menggema membuat semua orang berhenti berbicara
"Selamat Pagi Pak, bagaimana pak? Sudah sembuh Pak?" Tony mendekati suara itu lalu menjabat tangan
"Alhamdulillah, Ton. Kau sendiri bagaimana? Gudang baik-baik saja?" samar-samar Mila mendengar Altair dan Tony berbincang.
Mila membalikkan badan menjauh dari siapapun dan berharap Altair tidak melihatnya. Dadanya terasa sesak.
Rasa dingin menjalar ke seluruh tubuh.
'Jangan sampai dia liat gue' harap Mila lalu masuk ke dalam ruangan menyelinap diam-diam melangkah dengan cepat.
Diruangan berukuran 14mx2m yang hanya dihuni dua makhluk yang lagi-lagi dalam suasana kikuk udara seakan terasa begitu pengap meski pendingin ruangan sudah bersuhu 16ºc.
Seakan tidak pernah ada kejadian yang telah mereka lewati bersama. Seminggu dirumah sakit kembali berdekatan dengannya rupanya memulihkan kembali perasaan yang pernah ada menjadi benar-benar utuh.
Debar di dada Mila menguat. Mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Tak dapat dipungkiri perasaan Mila pada Altair cukup dalam. Tidak akan hilang dalam satu hari, dua hari atau sebulan.
Bahkan kesalahan paling fatal yang mungkin bagi sebagian wanita jika tak kuat ia akan bunuh diri, namun tidak dengan Mila. Mila tidak mau kehilangan Altair.
Seketika hatinya menjadi hangat. Ada desiran halus merayap ke seluruh tubuh. Rasa itu seakan kembali hadir.
Entah berapa lama Mila mematung, masih ragu untuk melihat. Setelah menormalkan detak jantung. Dadanya kembali berdebar kencang melihat pemandangan dihadapannya
"Kau ini kenapa?? Seperti ada yang aneh dengan dirimu??" Altair menyadari Mila sedari tadi gugup tampak gelisah
"tidak apa-apa, Pak" Mila menjawab dengan Mila yang gugup.
"Tidak perlu ada yang di sembunyikan, kau terlihat tidak seperti biasanya. Ada apa sebenarnya?"
"Saya merasa menjadi bahan pembicaraan di kantor ini pak, karena seminggu menemani bapak dirumah sakit" Jawab Mila
"memang kenapa dengan pembicaraan mereka? Kau risih?"
"Saya sih tidak, tapi tidak tahu dengan Bapak"
"Saya juga tidak peduli. Banyak diluar sana omongan tentang kita, kalau kau terlalu mendengarkan itu akan membuat mu Gila. Haters gonna be hate!"
"Yes, I Know. But kita ada di ndonesia, which is semua sikap ketimuran masih sangat amat dijaga bahkan masih ada beberapa hal yang dianggap tabu"
"Tadi kau bilang tidak peduli tapi dari cara bicara mu sangat terlihat kau memperdulikannya. Come on, Mil. Don't mind. Forget it! Ayo ikut sama saya, makan siang bareng saya"
"Dasar pria gila! Disaat gosip menyeruak seperti ini malah mengajak makan siang bersama!" Altair tertawa mendengarnya seraya berlalu dari hadapan Mila
__ADS_1
"I'll waiting you, Mil" ucap Altair sebelum benar-benar berlalu