Seduce My Ex

Seduce My Ex
Episode 13


__ADS_3

"Dika, apa aku terlihat gendut?"


Angel melihat tubuhnya di cermin dari ujung kaki hingga rambut. Gaun hitam yang transparant di bagian atasnya dengan high heels yang senada.


'Ini bagus hanya saja terlalu ketat hingga menonjolkan bebrapa bagian tubuhku'


"Aku rasa kau harus memakai ini" Dika menyodorkan sebuah belt berwarna hitam


Angel mengambilnya lalu segera memasangkan pada pinggangnya. namun perutnya sedikit sesak


"Wow perfect!" Drga mengagetkan Angel dan Dika yang tengah bersandar di daun pintu kamar Angel


Dirga berjalan mendekat lalu menepuk pundak Dika yang berdiri dibelakang Angel


"Aku rasa kau lebih cocok menjadi fashion designer daripada menjadi dokter"


Dika memutar bola mataya "I'm just helping this girl" lalu Dika menghilang dari belakang Angel


Dirga mendekat dan memeluk pinggang Angel "I don't believe, there's an angel in front of me!" Bisik Dirga sebelum menghirup aroma leher Angel dan membuat Angel terpejam


"Oh C'mon guys, Its not time to ****!"


Mereka bersamaan menoleh ke arah pintu. Altair menyilangkan tangannya. Dirga melepaskan pelukannya lalu mengangkat kedua tangannya ke udara seperti penjahat yang tertangkap police


"Okay. Okay. No sex for now!"


Dirga menggenggam tangan Angel berjalan keluar


Terlihat Gilang sedang bersandar di pintu mobil menunggu kami "Hurry Up!"


Melihat teman-temannya datang, Gilang bergegas masuk ke dalam mobil


Gedung ini indah dan luas. Ada tulisan 'AAF Holding' dibagian atasnya


"Ini rancanganmu, ga?" Tanya Angel


Dirga memegang tangan Angel "Ya, seperti itu"


Altair mengcapkan beberapa patah kata sebelum menggunting tali merah sebagai simbol peresmian gedung barunya.


Terdengar suara tepuk tangan meriah setelah tali terputus.


Setelah Altair menyampaikan beberapa patah kata sebagai pidato pembukanya, mereka membawa Angel menyelinap lewat pintu belakang untuk pulang.


Dika tidak jadi pergi ke club. sebagai gantinya Altair membeli beberapa botol champagne untuk dibawa pulang


"Malam ini kita berpesta" Ucap Altair membuyarkan lamunan


Altair menuangkan minuman. Mereka pun bersulang untuk gedung baru Altair


 


                                                                               —oOo—


 


Mata Mila hanya menyaksikan keramaian kota Jakarta dan kendaraan yang berlalu lalang saat ini dari balik kaca taxi yang Mila tumpangi. Ponsel Mila bergetar dalam tas. AH, rupanya pesan dari Chellyne


Mila tersenyum kecut membacanya.


Tak lama kemudian ponselnya kembali berdering. Astaga siapa lagi ini?!


Altair? What? Ia pasti mencariku.


Mila tolak panggilannya dan kemudian mematikan ponselnya.


"Nona Mila berada di apartement nya,Tuan!" Ucap seorang pria dengan pakaian serba hitam kepada atasannya


Pria itu tengah berdiri dengan seorang koleganya di depan gedung apartement yang Mila diami.


"Oke, awasi dia! Ikuti kemanapun dia pergi dan laporkan semuanya pada saya!"


"Siap, Tuan!"


—oOo—

__ADS_1


 


"Apa kau yakin ini clubnya?" Tanya Dika pada Gilang seraya mengamati keadaan sekitar di club mewah ini


"Entahlah sudah lama aku tidak pergi ke club. Tapi ini alamat yang diberikan oleh Altair"


"Yasudah kita coba cari Angel" Dika menyarakan yang dibalas oleh anggukan dari Gilang


Selepas acara peresmian gedung baru Altair, Angel tiba-tiba menghilang. Ia tak pernah lagi merespon chat atau telepon dari Dika maupun Dirga


Gilang memasuki Club tersebut, diikuti oleh Dika.


Gilang terpesona melihat perempuan-perempuan cantik yang berada di dalam Club.


"Ohh..Shit! AKu rindu *******-******* cantik" Celetuk Gilang yang sedetik kemudian dihantam kepalanya oleh Dika


"Bisakah kau kontrol dulu ***** kotormu itu untuk sekarang?! Fokus pada tujuan awal kita kemari!" Seru Dika


"Baiklah dokter"


Gilang berjalan menghampiri bartender yang sedang menampilkan aksi meracik minuman yang biasa ia lihat di media sosial, kemudian duduk di kursi yang tersedia diikuti Dika


"Selamat datang, Tuan-tuan Muda. Minuman apa yang ingin kalian pesan?" Sapa bartender tersebut ramah


Ketika Dika hendak berbicara terdengar suara wanita menyelanya.


"Buatkan minuman kesukaanku, Nick sayang. Kau pasti tidak lupa kan dengan minuman kesukaanku itu?!"


Bartender yang bernama Nick itu tersenyum "Tentu saja tidak, Nona Rin! Aku tidak akan melupakannya!"


Refleks, Dika dan Gilang menoleh pada wanita yang disebut Rin oleh Nick sang bartender. Wanita muda itu tampak glamour dengan pakaian mewahnya


Rin menyadari tatapan dari Diika dan Gilang pun lantas tersenyum


"Halo tampan, ada yang bisa aku bantu?"


"Kau sahabatnya Angel bukan?"


"Ah, ya tentu saja. Ada apa kalian menanyakannya?"


"Dia ada di apartement ku."


"Bisakah kau memberitahu kami dimana alamatmu?"


"Apa yang akan aku dapatkan jika memberikan alamat ku?"


"Si pirang ini akan membayarkan minuman kesukaan mu" Gilang menunjuk Dika yang langsung mendapatkan pelototan dari Dika


"Deal!" Jawab Rin


"Nick, berikan aku kertas dan pena!" sambung Rin lagi


Bartender itu segera mengambil secarik kertas dan sebuah pena. Angel menuliskan alamatnya dan memberikannya pada Gilag


Gilang dan Dika bergegas setelah membayar minuman Rin.


...


"Biar aku yang mengetuk pintunya!" Tawar Dirga sebelum mengetuk pintu


Tidak ada jawaban


Dirga mengetuk untuk kedua kalinya


Tetap tidak ada jawaban


Gilang menempelakan telinganya pada pintu  "Ada suara televisi. Aku yakin Angel ada di dalam"


Ia kembali mengetuk pintu apartemen sembari memanggil Angel. Namun tetap tidak ada suara apapun selain televisi


"Gue punya firasat buruk!" Jawab Altair


"Ga, lo bawa tablet kan? Cepat hack password apartement ini" Seru Altair dijawab anggukan oleh Dirga


"Done!" Dirga mengelap keringat yang bercucuran di dahinya. Gilang memutar kenop pintu apartement dan pintu terbuka

__ADS_1


"OH GOD ANGEL!"


"SIAPAPUN TOLONG PANGGILKAN AMBULANS!"


Para petugas ambulans sudah datang, mereka membawa Angel. Dika hanya terdiam mematung disebelah kasur Angel.


"Aku akan ikut di dalam ambulans. kalian bisa menyusul ke hospital tempat aku bekerja.


Terdengar suara sirine tanda ambulas sudah berjalan menuju rumah sakit


...


"Angel sudah melewati masa kritis. Kalian boleh melihatnya: Ucap Dika


Dirga beranjak dari tempat duduknya dengan antusias memasuki ruangan dimana Angel dirawat. Diikut oleh Gilang dan Altair


drrrttt drtttt drttt


Ponsel Altair bergetar


"Ya?"


"..."


"Baiklah saya kesana sekarang"


"Gue harus kembali ke kantor. Ada meeting hari ini. Gue balik lagi nanti!" Ucap Altair


"Ohh sekretaris baru mu yang cantik itu yang menyuruhmu kembali ke kantor? Tidak biasanya seorang Altair menurut saat di telepon sekretarisnya"


"Sekretaris kali ini beda" semua terkekeh mendengar ucapan Dirga


"Sialan! Bisa-bisanya disaat genting seperti ini"


Kelopak mata Angel terbuka perlahan. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Putih. Ia melihat terdapat infusan ditangan kanan nya dan tangan kiri nya di genggam oleh Dirga.


"Akhirnya kau sadar sayang! Aku mencemaskan mu!" Ucap Dirga pelan, ia meremas pelan tangan Angel


Angel melihat Dirga dan Dikia disamping kirinya, serta Gilang disamping kanannya


Angel memejamkan matanya. Kepalanya terasa pusing


"Apa yang terjadi denganku?" Tanya Angel dengan suara parau


Dirga mengusap lembut tangan ANgel "Kau meminum obat tidur terlalu banyak. Jangan bilang kau mencoba bunuh diri."


Seketika tangis Angel pecah "kenapa kalian menolongku?Kenapa kalian tidak membiarkan ku mati saja?!"


"Jangan bicara seperti itu, Angel! Kau berhak hidup bahagia"


Isakan tangis Angel semakin menjadi, bahkan ia mencoba mencabut selang infus yang menempel di tanannya


"AKU TIDAK MAU HIDUP! DUNIA INI KEJAM! AKU INGIN MATI SAJA!"


Gilang dan Dirga menahan tangan Angel. Angel meberontak


"********! Kalian ********! Lepaskan aku!" teriak Angel


Gilang menahan kaki Angel yang memberontak


"Gantiiin gue ga!" Seru Dika. Dirga mengangguk dan menahan tangan ANgel


"AKu benci kalian, ********! Harusnya kalian membiarkan aku mati!"


Dika mengambil suntikan dan mengisinya dengan sebuah cairan


"Tidak! Tidak! Apa yang akan kau lakukan padaku, ********!" Angel meberontak sekuat tenaga


Dika menyuntikan cairan tersebut pada tangan Angel. Pergerakan Angel pun melemah


"I'm so sorry, Angel. Kau harus beristirahat. Kau masih sakit! Jangan biarkan pikiran negatif menguasai dirimu!"


Angel melihat Dika ketika mengatakan kata-kata tersebut. Namun setelah itu pandangannya menjadi gelap


"Kita harus membiarkannya beristirahat!" Seru Dika

__ADS_1


__ADS_2