
Mata mereka saling bertautan untuk beberapa detik tampak kilatan api terpancar dari dalam mata mereka.
“Saya sudah selesai makan. Saya akan kembali ke kamar dan kita bertemu lagi di
lobby hotel jam 12 ya. Terima Kasih” dan kemudian gadis itu melangkah pergi dan meninggalkan Altair menuju pintu lift.
Mila masih mengingat jelas percintaannya dengan lelaki itu. Mila menghela nafas,
berusaha menghilangkan ingatan itu.
“Mau kemana kamu?” tanya Altair mencegah pintu lift Mila. Mila mencoba menekan tombol tutup namun sayang Altair berhasil masuk
“Kenapa Anda mengikuti saya? Tidak puaskah permainan Anda semalam, Tuan Altair?” ucapan Mila seakan menohok tenggorokan Altair sehingga ia tidak dapat berbicara
“Sebaiknya kamu ingat dengan siapa Anda berbicara!”
“Oh ya? Jadi saya harus bersikap sopan dengan Anda setelah apa yang Anda perbuat?!”
"Kamu.." Ucapan Altair terhenti karna lift terbuka dan orang-orang masuk ke dalamnya.
Mila mengambil kesempatan dengan mundur ke pojok lift.
Altair menunjuk ke arahnya seakan berkata 'Awas kau', namun Mila acuhkan dengan memalingkan mukanya.
Lagi. Selama diperjalanan mereka kembali tak berbicara satu patah pun. Saat Altair masih bersikap normal, Mila enggan tuk memulai pembicaraan, apalagi wejak Altair berperilaku diluar batas kewajaran sebagai seorang atasan.
Memang di zaman yang modern ini sudah merupakan hal yang lumrah melakukan hubungan pra-nikah. Ya istilah yang sering digunakan adalah work hard play hard.
Maka wajar jika banyak terjadi skandal perselingkuhan antara Manager dan sekretarisnya, terutama dikota-kota besar. Tapi bagi Mila hal itu sangatlah menjijikkan!
Sepanjang jalan Mila memikirkan bagaimana ia harus bersikap menghadapi atasannya yang mulai liar dan sangat menginginkan tubuhnya.
'Ahh....andai saja dulu saat interview aku tahu
Altair yang menjadi atasanku, takkan ku ambil kerjaan ini' gumam Mila dengan
diiringi sebutir air mata yang jatuh.
'Kepalang tanggung! Akan ku buat Al menyesali semua perbuatannya selama ini!' Kembali Mila membulatkan tekadnya dan menguatkan dirinya.
Dari pantulan kaca mobil Mila mulai tersenyum seraya menatap ke atas langit. Awan-awan berkumpul membentuk gumpalan-gumpalan hitam seakan berkerumun ria membentuk integrasi yang sesekali disertai beberapa kilatan menandakan langit mulai gusar.
Terdengar gemuruh kemudian, perlahan ia mulai merasakan hentakan air hujan menyentuh permukaan kaca mobil.
Altair pun segera menyalakan wiper untuk menyapu air hujan yang mulai menghalangi penglihatannya.
Suara hujan diluar memecahkan kesunyian. Rintik yang menemani Altair dan Mila yang sedari tadi diam seakan mengusir kesepian yang menghinggapi diantara keduanya, angin telah menghembuskan segala hal buruk yang terjadi pada Mila.
Hujan datang disaat ada hal sedih. Namun bagi Mila, orang yang beranggapan seperti itu sangatlah keliru, pasti tidak tahu keindahan yang ada pada hujan.
Apalagi pelangi yang muncul saat hujan berhenti. Mila sangat menyukai hujan, karena begitu hujan turun, cinta datang.
__ADS_1
Ketika angin berhembus membawa hawa dingin, cinta menghangatkan. Ketika hujan mengguyur, cinta akan melindungi.
Aroma petrichor yang menguar dan partikel-partikel air yang turun seakan membawa Mila kembali pada ingatannya di masa lalu.
"Al" ucapnya kemudian dengan mata yang masih tertutup dan sebulir air mata kembali menetes membasahi pipinya.
Altair yang mendengar namanya disebut lantas menoleh ke arah gadis yang berada dikirinya.
Mila membuka kedua matanya dengan masih terfokus pada hujan yang masih berlangsung diluar kaca mobil tanpa sadar bahwa Al mendengar gumaman yang memanggil namanya.
Altair masih bertanya-tanya apakah tadi pendengarannya salah atau memang benar Mila menyebut namanya? Tapi kenapa tiba-tiba Mila memanggilnya dengan nama Al? Selama ini dia selalu memanggil dengan sebutan Bapak.
Karena lamunannya itu Altair kehilangan fokusnya dalam berkendara dan mengakibatkan sedikit trouble
"Hei! Kau ini kalau ingin mati, mati saja sendiri! Jangan ajak-ajak saya! Berikan kemudinya jika kau tidak becus menyetir" Altair pun menuruti perintah Mila untuk meminggirkan mobilnya dan bertukar posisi dengan Mila.
"Kenapa tangan Anda sangat dingin?" tanya Mila yang tidak sengaja menyentuh tangan Altair karena ingin memegang persneling lalu akhirnya melihat ke arah atasannya mau tak mau. Wajah Altair pucat pasi dan suhu badannya panas tinggi
"Sepertinya kau demam, kita ke rumah sakit saja ya"
Mila segera menyetir mobil dengan kecepatan 100 km/jam, dia panik tadi Altair baik-baik saja tapi kenapa mendadak demam tinggi.
Beruntung jalanan lenggang sehingga mereka hanya butuh waktu 15 menit untuk tiba dirumah sakit.
—**oOo**—
sedari tadi fokus pada layar ponselnya karena bel tanda ada pasien yang memanggil berbunyi. 'Siapa yang memanggil perawat jam satu dini hari seperti ini? Tidak ada kerjaan' gumam Dinda dalam hati
"Biar saya yang ngecek, sus" Kata Dinda secepatnya pada suster Anggi. Dia ingin menunjukkan kesigapan dalam bertugas walau dia masih terbilang baru.
Suster Anggi mengangguk. Dinda bergegas menuju kamar 115. Dia masuk ke kamar VIP yang hanya di isi satu orang itu.
Dia tidak ingat siapa nama pasiennya tapi kamar itu sedang menjadi bahan perbincangan para dokter dan suster disini.
Pasien yang berada di kamar 115 sangat tampan, penunggu pasiennya yang katanya calon istrinya juga sangat cantik. Penasaran seperti apa, Dinda pun antusias dan kebetulan ada kesempatan
"Suster tolong tutup jendelanya ya" Ujar sang pasien
"Baik Pak" Jawab Dinda lalu menutup jendela dengan Gorden.
"Sudah saya tutup ya, Pak" Sambung Dinda lalu menghampiri Altair sekalian memeriksa infusan yang ada ditangan kanannya
"Altair?" Sapa Dinda yang tak kalah terkejutnya dengan Altair
"Maaf ya Sus, apa suster mengenal saya?" Tanya Altair terheran-heran
"Iyalah, kamu Altair Alvaro Fauzan kan? Anak Biologi FMIPA?" jelasnya yang tambah membuat Altair bingung
__ADS_1
"Iya benar. Tapi saya tidak mengenal Anda. Anda siapa ya? Anak Bio juga?"
"Ohh bukan. Saya bukan anak Bio. Saya alumni FIK dan saya beda angkatan. Nama Saya Dinda Aulia Putri"
"Kalau kamu bukan satu jurusan lalu kenapa bisa mengenal saya ya?"
"Iya karena teman saya pernah dekat dengan Anda, namanya Nadya. Ingat kan pasti?"
"Nadya? Saya tidak pernah kenal dengan perempuan bernama Nadya"
"Mungkin kamu sudah lupa, itu juga kejadiannya udah lama. ya sudah jangan dipikirkan ya. Sekarang sudah malam, lebih baik kamu tidur" perintah Dinda yang sudah selesai memeriksa infusan Altair.
Dinda terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri. "Cari apa, sus?" Altair menyadari Dinda mencari sesuatu
"Oh ngga, Saya cuma heran kok kamu sendirian ya? Gak ada yang jagain?"
"Ada tapi dia sedang pulang dulu. Nanti pagi juga dia datang"
"Baiklah kalau begitu. Selamat istirahat ya, Tuan Altair" ucap Dinda lalu meninggalkan kamar
—**oOo**—
Mila datang tepat pukul lima pagi saat langit masih setengah gelap, dingin, dan beraroma basah.
Ia membawa sekoper besar serta dua plastik besar penuh dengan snack dan minuman.
"Selamat pagi, Tuan Altair" Mila membangunkan Altair yang baru saja terjaga
"Mana handphone saya? Pasti kamu membaca semua pesan-pesan saya."
"Baru juga ketemu yang pertama ditanya handphone, orang macam apa kau" Mila menggerutu seraya merogoh tas kecilnya mengambil handphone Altair.
"Ini handphone Anda Yang Mulia" Sambung Mila lalu menyerahkannya
"Kemarin siapa saja yang telepon?" tanya Altair. Mila terheran seperti Altair sangat tahu bahwa handphone nya akan selalu ramai dengan wanita-wanita yang menghubunginya
"korban ke berapa saja mereka?"
"apa maksud ucapanmu?"
"Dari sekian banyak wanita memang tak ada yang kau benar-benar suka? Dan ya seharusnya kalau mereka memang menyukai mu lalu mengapa tidak ada seorang pun dari mereka yang menjaga mu? Ya setidaknya sekedar menjenguk. Tidak ada kan? Harusnya kau instropeksi apa yang membuat mereka tidak peduli padamu? Mereka hanya ingin bersenang-senang padamu sehingga mereka tidak ingin merepotkan diri dengan mengurusmu!"
"sudahlah kau pulang saja. Tinggalkan saya sendiri disini."
"Kenapa sih kau ini tidak pernah mau menerima saran dan pendapat dari orang?!"
ucap Mila dengan Mila sedikit meninggi
__ADS_1