
"Fauzaaaaannn, I miss you soooo muchhh" Mila segera bangkit dari duduknya lalu memeluk pria asing itu
"I miss you, too. Do you have order?"
"Not yet. I'm still waiting you"
"Okay, Let's order" ujarnya seraya menepuk tangan memanggil waiter
"mau pesan apa mas?" datang seorang wanita memakai kemeja abu-abu dengan appron berwarna hitam di dadanya serta
"Saya mau Pad Thai dan Caffé Latte " Jawab Fauzan yang dicatat oleh waiter di secarik kertas dan bolpoint di tangannya
"Saya mau ho..."
"Hot Cappucino dan Sphagetti Carbonara " sambung Fauzan memotong pembicaraan Mila
"do you still remember?"
"Of course" Mila tersentak kaget tak menyangka bahwa Fauzan masih mengingat makanan kesukaan Mila meski mereka sudah tidak bertemu satu tahun lamanya.
"Oke saya ulang ya pesanannya, Pad Thai, Sphagetti Carbonara, Caffé Latte, dan Hot Cappucino. Ada lagi yang bisa dibantu?"
"No, its enough"
"Baik, terima kasih telah memesan. Silahkan menunggu" Ujar Waitress ramah lalu pergi dari hadapan mereka
"Do you know, I'm glad to see you again. I think you won't meet me" Mila membuka percakapan
"Apa sih Mil, jangan berpikiran negatif seperti itu. Bukan berarti kita tidak bertemu, aku tidak peduli dengan mu" jelasnya lalu mengacak-acak rambut Mila
"Are you sure?"
"Yes, certainly. Habis ini kita mau kemana?"
"ke Supermarket yuk, ada yang mau aku beli dulu"
"Okay"
Tak lama waiter itu datang membawa pesanan mereka. Mereka berbincang-bincang
dari hal yang serius sampai obrolan yang tidak penting.
Lalu setelah menghabiskan makanan dan membayarnya dikasir, mereka turun satu lantai menggunakan escalator menuju Toko Swalayan.
Sesampainya disana mereka langsung bergegas menuju bagian perlengkapan dapur
ternyata disaat bersamaan Altair juga sedang berada disana seorang diri.
Ia melihat Mila bergandengan tangan dengan Fauzan. Entah kenapa ada perasaan tidak suka menyelimuti hatinya saat melihat mereka yang tampak tertawa bahagia.
Altair pun langsung berputar badan dan bersembunyi diantara dinding. Tangannya mengepal dan terdapat kilatan api yang membara dalam bola matanya.
Merasa diperhatikan seseorang, Fauzan melihat ke arah belakang, melihat sosok pria asing yang familiar.
__ADS_1
"Liat apa sih?" tanya Mila menyadari Fauzan sedang memperhatikan sesuatu
"Aku seperti melihat seseorang yang aku kenal tapi nampaknya aku salah.
Sudahlah tidak penting kita membahas ini. Ayo kita lanjutkan berbelanja"
Mila mengangguk
—**oOo**—
Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan Mila selain rasa takut dan kegugupan yang menyesakkan dada.
Ketika mobil mereka menelusuri perumahan yang ada di kawasan Buah Batu dan menuju salah satu rumah dengan nuansa dark grey di Blok B1 itu rasa gugup dan takutnya makin memuncak. Fauzan, yang menyetir disebelahnya tampak tenang.
Fauzan rupanya sangat bersemangat karena ia segera melompat keluar dari mobil begitu mobil itu berhenti dan mau tidak mau Mila mengikutinya.
Mereka sampai dipintu dibawah kanopi dan pilar marmer yang indah, Mila mengedarkan pandangannya ke atas karena gugup begitu pintu terbuka tanpa diketuk.
Ketika dia masuk, didapatinya pemandangan indah terpampang jelas di depannya. Pemandangan yang sudah lama tak ia lihat
“Mila” Sapa Wanita paruh baya dengan lembut dan seorang pria dibelakangnya ikut menghampiri
Mila menganggukkan kepalanya, sedikit gugup ketika menyadari wanita itu menatapnya dengan sangat tajam, sangat meneliti.
“Apa kabar Nona Clarin Nadya Kamila? Bagaimana karir mu?” Tanya Pria itu tiba-tiba
Dengan muka pucat Mila segera menyahut,
“Hai Pa, Nadya baik-baik saja. Papa dan mama bagaimana?”
“Kami baik. Menginaplah malam ini. Akan papa minta pelayan membersihkan kamar mu. Selagi menunggu kau bisa menonton acara televisi untuk mengisi waktumu” Jelas Harri Zakaria Lasya, Pria paruh baya yang tak lain adalah Ayahanda Mila, berkata seraya matanya menunjukkan ke arah televisi plasma yang menempel di dinding yang sama sekali tidak Mila perhatikan karena perhatiannya terpusat pada sesuatu dibawah jam dinding classic karena mereka tidak memasang fotonya di literatur itu.
“Baiklah Nadya akan menginap satu malam, besok pagi Nadya harus kembali ke hotel untuk meeting setelah itu balik lagi ke Jakarta.”
“Well, kenapa kalian begitu kaku? Ayolah
ma, pa. Nadya adalah bagian dari keluarga ini. Lupakan semua yang sudah terjadi. Yang lalu biarlah berlalu. Biar itu menjadi pelajaran kita semua” jelas Fauzan mencoba mencairkan suasana
“Ini dari anak bungsu kalian” Sambung Fauzan menyerahkan shopping bag yang berisikan bahan pangan dan cemilan
“Nadya sayangku, kemarilah” Ucap Puri Indah Mawardi, Ibunda Mila memeluk erat putrinya yang telah lama pergi
“Mama, Nadya kangen mama” Mila memeluk ibunya dengan terisak mengenang
—**oOo**—
Sang mentari sudah tepat berada tepat di atas kepala saat sebuah sedan lancer hitam berhenti di depan lobby hotel dan seorang gadis turun dari mobil tersebut.
“Thank you dua hari ini, zan” Ucap Mila pada Fauzan
“Your welcome, sista. Sering-sering ya pulang ke rumah. Tapi liburan jadi kita bisa habiskan lebih lama lagi waktu bersama”
“Iya deh, next month aku ambil cuti”
__ADS_1
“Okay, good luck for you presentation” Fauzan mengakhiri pertemuan seraya mengacak-acak rambut adiknya tersebut yang dilihat Altair dari dalam. Lalu mobil itu menghilang dari pandangan Mila.
Mila terkejut melihat jam ditangannya karena waktu telah menunjukkan pukul 12.55
‘Omaygat! Meeting sudah mau mulai, tapi berkasnya ada dikamar’ Mila panik setengah mati menyadari sisa waktunya tak banyak
“Mencari ini?” Altair mengagetkan Mila yang menunggu pintu lift terbuka dengan gelisah
“Ah iya benar. Bagaimana Bapak bisa mendapatkannya?” Tanya Mila bingung
"Darimana saja kau jam segini baru kembali?" Altair bertanya setengah berteriak
"Itu bukan urusan anda, Sir." Ujar Mila seraya mengambil berkas dari tangan Altair
"Sayangnya ini sudah menjadi urusan Saya, karena kau melakukan ketidakprofesionalan" ujar Altair dingin. Mila tak membalasnya. Mereka memasuki meeting room dengan canggung.
Waktu menunjukkan pukul 18.00 meeting telah berlalu, Altair memberi waktu check out esok hari.
Mila masih punya banyak waktu namun ia sangat kelelahan sehingga ia memesan makan malam pada layanan telepon untuk dibawakan ke kamarnya.
Tiba-tiba terdengar bunyi klik dari luar. Mila pikir itu adalah Bellboy yang mengantarkan makanannya nyatanya yang masuk adalah Altair.
Mila melompat mundur dari pintu menatap waspada ke sana. Takut musuh besarnya, Altair akan masuk ke kamar ini. Dan benar Altair memang masuk.
Dengan pakaian hitam-hitamnya yang khas, lelaki itu menatap Mila dengan intens dan kemudian mengunci pintunya.
Dia hanya berdua dikamar ini bersama dengan Altair dan dengan bodohnya ia mempercayai lelaki ini tidak akan melakukan apa-apa kepadanya.
Seharusnya dia curiga, Altair seorang bajingan dan selalu punya maksud dibalik tindakannya.
Altair lelaki normal. Berada di kamar yang temaram dengan seorang wanita cantik dan sexy tentu saja membangkitkan gairahnya.
Mila melihat mata itu. Mata lelaki yang mulai dirayapi oleh nafsu.
“Kenapa Bapak menatap saya seperti itu?” Tanya Mila seraya mundur selangkah, menyadari tekad yang sangat kuat di mata Altair
Altair tidak menjawab. Lelaki itu malahan melepas kancing jasnya dan kemudian membuang jas itu ke lantai. Dasinya menyusul kemudian. Lalu perlahan membuka kancing kemejanya.
“Apa yang akan Bapak lakukan?” Mila menatap panik ketika Altair melemparkan
kemejanya ke sofa yang ada di depan tempat tidurnya, memamerkan tubuh indahnya
yang sempurna.
Otot-otot itu begitu pas dan keras di lengannya. Bisepsnya membentuk lengkungan yang indah. Begitupun otot dada dan perutnya yang kencang. Semua ototnya keras dan maskulin, tidak ada sedikit lemak pun yang menghinggapinya.
Altair melangkah maju dan Mila melangkah mundur. Altair melangkah lagi satu langkah
dan dengan irama yang sama Mila refleks mundur selangkah juga.
“Tuan Altair, apa yang akan Anda lakukan?!” Mila setengah berteriak menyadari dia sudah mentok dengan dinding dan tidak bisa mundur lagi.
“Let’s make love tonight” Altair tidak tersenyum namun tatapan matanya menyatakan bahwa ia akan melakukan kenekatan
__ADS_1