
It was great at the very start
Hands on each other
Couldn't stand to be far apart
Closer the better – ♫♫
"Mil, handphone lo bunyi mulu tuh berisik banget, gue
jadi gak konsen nonton. Angkat sana!" Chellyne kesal karena handphone Mila
terus berdering
"Yee kamar-kamar gue, hape-hape gue. Kenapa jadi lo yang sewot"
Jawab Mila menjawab omongan Chellyne dengan memonyongkan bibirnya
"Halo..."
"Halo Mila, kemana saja Anda dari tadi baru mengangkat telepon saya?"
suara Pak Altair dari seberang telepon memekakan telinga Mila
"Besok temani saya dinas di Bandung ya, saya ada rapat dengan GM Quality Control di kantor cabang.
Siapkan dirimu. Saya tunggu besok di kantor" sambungnya
"Baik pak" Tanpa banyak bicara Mila menjawab lalu telepon segera diakhiri oleh si penelepon.
Meskipun dia bingung kenapa dia harus ikut serta menemani bosnya ini ke luar kota.
Karena menurut jadwal Altair yang ia pegang, tak ada meeting diluar kota.
'Dan kenapa juga gue harus ikut? Dasar cowok aneh' batin Mila
"Siapa yang telepon? Pacar lo?" Chellyne melihat perubahan raut wajah Mila
"pacar dari hongkong! Bos gue tuh"
"yaelah kan bukannya pernah pacaran?"
"Sial! Udah bukan weii!"
"tapi masih suka kan?" ledek Chellyne
"Gila! Gak nafsu gue walaupun gue mesti kejebak semalaman satu ruangan"
"Iya lo nya mungin gaknafsu, tapi dia? Emang lo tau?"
"udah ah ngaco! Udeh sana lo pulang, gue mesti packing"
"mau kemana lo sama Al? honeymoon?"
"otak lo ye, gak jauh-jauh dari sex" usir Mila seraya melempar bantal ke badan Chellyne
"nanti kasih tau gue ya berapa ronde" jawab Chellyne seraya terkekeh-kekeh berlari
keluar dari kamar Mila
"Cewek gila!!" teriak Mila lalu menutup pintu unitnya dengan tertawa
Mila mencoba mencari-cari buku schedule atasannya dan membaca halaman
terakhir. Ia menemukan jadwalnya memang benar besok ada meeting dengan GM QC
kantor cabang, tapi seharusnya Toni yang menemani Altair, bukan Mila.
Ia mengambil telepon genggamnya yang berada di atas tempat tidur,
lalu mencari nama Anthony dan menekan tombol dial
"Halo Mil, ada apa?" tanya Toni
"Halo selamat malam, Pak. Maaf jika saya mengganggu waktu istirahatnya,
saya mau tanya apakah benar saya yang menggantikan Bapak menemani
Pak Altair meeting di Bandung?"
"Iya benar, Mil. Kalau saya yang ikut, gak ada yang bisa menghandle keadaan dikantor.
Kenapa? Apa kamu keberatan? Jika keberatan biar Saya lapor pada Pak Altair"
"Tidak pak, hanya konfirmasi *schedule *saja."
"Kau tidak usah khawatir, kalian disana hanya satu hari kok"
__ADS_1
"Baik, Pak. Terima kasih informasinya"
—oOo—
Keesokan harinya, Mila sudah berada di lobby kantor menunggu Altair yang tak kunjung datang.
Dengan memakai kemeja putih lengan panjang, celana biru navy, dan heels berukuran 5cm dan
rambut yang ia biarkan tergerai membuat Mila tampak cantik meski sangat sederhana.
Gadis itu gelisah memperhatikan ke arah pintu lobby terus menurus sambil sesekali
melihat jam leather brown yang berukuran mungil yang ada ditangan kirinya.
Tiba-tiba mobil fortuner super white berhenti di depan pintu lobby lalu mengklakson.
Mila segera menghampirinya dan terdengar bunyi klik dari dalam mobil tanda pintu mobil tidak terkunci.
"Selamat pagi, Pak" sapa Mila dengan membuka pintu belakang tanpa melihat
siapa yang mengemudikan mobil itu
"Eh Anda ngapain duduk dibelakang"
"Loh memang kenapa?"
"Pindah ke depan. Memangnya Saya* driver* kamu, segala duduk dibelakang"
"iya pak iya" ujar Mila seraya menggerutu dan Mila langsung terkesima saat melihat sosok pria
disampingnya. Meski Altair hampir setiap saat mengenakan kemeja hitam namun
entah mengapa Altair tampak terlihat lebih gagah.
"kenapa Anda menatap saya seperti itu?" lamunan Mila terbuyarkan pertanyaan Altair
"apa saja jadwal kita hari ini, Pak?"
"nikmati saja apa yang ada, jalani. Tak perlu dijadwalkan"
Jarak antara Jakarta – Bandung hanya 150 km yang memakan waktu empat jam perjalanan.
Namun bagi Mila waktu berasa satu abad lamanya jika ia harus bersama pria ini.
Tak ada obrolan sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka. Hanya musik yang berasal
Mila tengah asik memainkan telepon genggamnya dan berseluncur didunia maya sedangkan
Altair mengendarai mobil ditengah kemacetan yang membuatnya suntuk.
Terdengar samar suara dengkuran tidur. Altair lantas menengok ke arah kanannya dan ia
mendapati Mila sudah terlelap di kursinya
Gadis yang ceria, energik, dan ramah pada siapapun. Gadis yang mampu membuat Altair
melirik kearahnya. Altair begitu tergoda ingin menyentuh pipi merah muda itu hingga membuat Mila
terbangun
"Mila bangunlah, kita sudah mau sampai. Nanti saja kau lanjutkan tidurmu dikamar" Altair setengah
berteriak membangunkan Mila yang masih mencoba berusaha membuka matanya yang
terasa berat
Akhirnya mereka tiba di kota tujuan mereka, kota lautan Api.
Ya, dikota inilah Mila berasal dan menghabiskan masa kecilnya.
Kini semua itu tinggalah kenangan indah. Tak terasa Mila menitikkan air mata
Setelah memarkirkan mobilnya, mereka pun turun dan bergegas menuju meja resepsionis
"Untuk dua* room* ya, Pak" kata Resepsionis saat Altair check in terdengar jelas membuat lega Mila.
"Ya benar"
"Baik, ini kuncinya ya, Pak. Terima kasih, selamat beristirahat" resepsionis cantik itu memberikan
kedua kunci kamar
"Ayo masuk ke lift. Kamar kita di lantai 5. Ini kartu room kamu. Beristirahatlah, persiapkan
materi untuk besok. Hari ini kau bebas mau pergi kemanapun sesuka mu"
Altair menghampiri Mila yang duduk menunggunya di sofa lobby hotel seraya
__ADS_1
menyerahkan kartu room Mila
'Liburan di hari kerja? Wohooooo that's cool!' Mila langsung sumringah
mendengar ucapan bosnya itu saat pintu lift terbuka dilantai 5.
'509..' Mila membaca nomer room dikartu nya dan menyamakan dengan
pintu yang ada dihadapannya saat ini.
Kamar yang sangat nyaman, dengan pemandangan yang indah, dan interior yang elegant.
Namun hari ini ia tak bisa menikmati kamarnya, ia ingin mengunjungi kedua orang
tua nya yang menetap di sini.
Hubungan Mila dan kedua orang tuanya sempat merenggang sejak kejadian lalu dan
perlahan demi perlahan Mila berusaha mendekat kembali ke orang tua nya.
"Pak, saya mohon izin keluar sebentar ya" Ucap Mila sopan ditelepon
"Pergilah! Saya ini atasan Anda, bukan ibu Anda. Jadi jangan meminta izin seperti anak kecil"
"Maaf kan saya, Pak. Saya hanya izin takutnya bapak mencari saya tidak ada dikamar. Baiklah kalau begitu
saya pergi sekarang" jelasnya lalu menutup telepon
—oOo—
Paris Van Java ....
Siapa yang tak tau sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di Bandung dengan
konsep cerdas *Resort Lifestyle Place *, ini memadukan tempat wisata belanja, kuliner dan
hiburan dalam suatu kawasan mall yang sangat luar biasa indah dan nyaman di kota kembang.
Dirancang dengan nuansa *open air *yang alami serta pemandangan hias yang
berterbangan. Faktor lain yang menjadi daya tarik adalah konsep bangunan yang
kental dengan desain eropa.
Mal yang terbagi menjadi resort level, glamour level, sky level, serta concourse level dengan salah satu departement store terbaik di Indonesia, di lantai teratas. Fasilitas lainnya yang cukup menjadi
daya tarik adalah pasar swalayan, toko buku, serta bioskop.
Selain itu, di Paris Van Java Mall juga berjejer kafe-kafe yang menggugah selera
"Hai, long time no see ya" sapa pria berkaos biru dengan celana pendek menghampiri meja
Mila di Black Canyon Coffee yang terletak di Under Ground Floor
"Fauzaaaaannn, I miss you soooo muchhh" Mila segera bangkit dari duduknya lalu memeluk pria asing itu
"I miss you, too. Do you have order?"
"Not yet. I'm still waiting you"
"Okay, Let's order" ujarnya seraya menepuk tangan memanggil waiter
"mau pesan apa mas?" datang seorang wanita memakai kemeja abu-abu dengan appron berwarna hitam
di dadanya serta
"Saya mau Pad Thai dan Caffé Latte " Jawab Fauzan yang dicatat oleh waiter di secarik kertas dan
bolpoint di tangannya
"Saya mau ho..."
"Hot Cappucino dan Sphagetti Carbonara " sambung Fauzan memotong pembicaraan Mila
"do you still remember?"
"Of course" Mila tersentak kaget tak menyangka bahwa Fauzan masih mengingat makanan kesukaan Mila
meski mereka sudah tidak bertemu dua tahun lamanya.
"Oke saya ulang ya pesanannya, Pad Thai, Sphagetti Carbonara, Caffé Latte, dan Hot Cappucino.
Ada lagi yang bisa dibantu?"
"No, its enough"
"Baik, terima kasih telah memesan. Silahkan menunggu"
__ADS_1