
“Kau tidak boleh melakukannya. Saya adalah sekretaris Anda!!”
“Tidak ada masalah bercinta dengan sekretaris sendiri kan?
Ayolah Mila, jangan naif!” Altair berdecak, matanya menyipit dingin
Tubuh Mila gemetar. Lelaki ini iblis. Iblis yang tidak punya jiwa.
Mila keliru sempat mengira bahwa lelaki ini mempunyai sedikit kebaikan dalam hatinya.
Mata Altair menelusuri tubuh indah di depannya, dia menyadari bahwa Mila sangat cantik. Dengan matanya yang lebar, dan kulitnya yang lembut menyentuh kulitnya.
Bahkan tubuh di depannya ini terasa begitu menggairahkan.
“Hentikan!!” Mila berteriak
Altair mendorong tubuh Mila ke atas ranjang, secepat kilat Mila bangun tetapi Altair sudah menindihnya.
Kedua tangannya mencengkram tangan Mila
dan mengangkatnya ke atas kepalanya, wajah mereka berdekatan.
Mila bisa melihat betapa tajamnya mata lelaki itu.
Altair mendekatkan bibirnya mencoba mengecup bibir Mila, tetapi Mila menggeleng-gelengkan kepalanya menjauh sehingga bibir Altair hanya menyentuh pipi dan rahangnya.
Dengan gemas Altair menurunkan tangannya, menggenggam kedua tangan Mila hanya dengan satu tangan.
Tangannya yang satunya mencengkram rahang Mila agar tidak bergerak, bibirnya lalu memagut bibir Mila membuat Mila mngerang dan menolak sekuat tenaga.
Altair lalu menekan tubuhnya dan memperdalam ciumannya sehingga berhasil membuka bibir Mila dan melumatnya makin dalam.
Disesapnya bibir bawah Mila dengan penuh gairah, seolah ingin mencicipi keseluruhan rasanya.
Mila merasakan bibir itu. Bibir yang sama dengan bibir Altair yang pernah melumat
bibirnya dengan lembut. Tetapi kali ini berbeda, ciuman Altair sangat kasar
seolah ingin menggilasnya.
Mila masih meronta, tetapi kemudian ia menyadari bahwa semakin ia meronta, semakin kasar Altair kepadanya. Lalu akhirnya Mila pun mencoba diam, tidak meronta, dan tidak melawan.
Jantungnya berdebar kencang, antara takut, dan menikmati ciuman ini.Bagaimanapun tubuh yang sedang menindihnya saat ini adalah tubuh pria yang pernah ia cintai.
Altair menyadari perubahan sikap Mila. Altair menghentikan ciumannya lalu menatap Mila. Nafas mereka masih terengah-engah karena ciuman ganas itu, dan bibir mereka masih begitu dekat.
“Jadi memutuskan untuk give up ya?” Altair tersenyum miring.
“Lakukan apa yang kau ingin lakukan. Aku tidak akan lagi menolak, karena aku tahu aku
tidak akan pernah menang melawanmu. Tapi satu hal yang pasti, kalaupun kau berhasil bercinta denganku, itu semua karena aku membayangkan wajah pria yang ku cintai” jelas Mila seraya menatap Altair dengan berani.
“kalau begitu aku tidak akan menahan diri lagi” Altair menggeram marah
Lelaki itu lalu membuka pakaian Mila dengan kasar, menariknya dari tubuhnya hingga Mila telanjang dada dibawahnya. Kemudian mengangkat rok Mila dan dia sendiri melepaskan celananya.
Kejantanannya sudah menegang dan keras, Altair begitu bergairah, dia membungkuk dan melumat bibir Mila lagi.
__ADS_1
Tangannya menyentuh payudara Mila, *** dan memainkan putingnya dengan ahli. Lelaki ini tidak pernah lagi mengenal kelembutan dalam bercinta, ia benar-benar bercinta dengan nafsunya.
Sementara itu Mila berusaha keras menjaga tubuhnya agar tubuhnya tetap diam, meskipun tak dapat ia pungkiri bahwa gairah itu sudah mengalir deras ditubuhnya.
Ketika Altair menurunkan kepalanya untuk melumat putingnya, sebuah erangan akhirnya terlepas dari bibir Mila.
“Kau meyukainya sayang?” Ujar Altair mengangkat kepalanya dan menatap dengan pandangan mengejek.
Dengan sengaja ia melumat lagi ** itu menggodanya dengan lidahnya lalu menghisapnya dengan kuat. Membuat Mila menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan erangannya.
Kejantanan Altair menyentuh perutnya, terasa keras dan siap. Lelaki itu menurunkan jarinya dan menurunkan G-string milik Mila, membuangnya di kaki ranjang.
Jemarinya menyentuhnya dan tersenyum
“kau mungkin bisa menolakku dengan kata-kata mu, tapi tubuhmu tidak bisa berbohong. Kau sudah basah, itu artinya kau menikmatinya”
“aku membayangkan dia” Mila menatap Altair dengan amarah
“well, siapapun dia tetap saja kau menikmati permainan ku.” Altair menarik pinggul Mila
ke atas dan menyusupkan kejantanannya ke dalam kewanitaan Mila. Mila mengerang
karena terkejut ketika merasakan kejantanan Altair tenggelam di dalam
vaginanya.
Ini bukan pertama kalinya ** Mila dihujam oleh * lelaki, namun ia dapat
membodohi Altair dengan mengatakan bahwa dia yang memerawaninya karena memang ** milik Mila masih terasa rapat dan susah untuk di masuki.
Meskipun memang tidak ada darah disana, tapi bagi orang biologi seperti Altair pasti
Altair menggerakan tubuhnya dengan ritme yang cukup cepat dan keras. Mila mengerang
dan menggertakan giginya menahan gerakan kasar Altair yang entah kenapa tetap membawa hawa panas tubuh Altair masuk menyebar ke seluruh tubuh Mila.
Altair menegakkan punggungnya dan memegang pinggul Mila agar dapat seirama dengan gerakannya. Altair menggertakan gigi menahan orgasmenya yang hampir datang
menunggu.
Dan ketika Mila mendesah menuju puncak kenikmatannya, barulah Altair memacu dirinya mencapai *** yang sudah ditunggunya.
Dia menggeram, menekan dirinya dalam-dalam dan meledakkan dirinya di dalam tubuh Mila.
Setelah itu, Altair membaringkan tubuhnya setengah **** tubuh Mila yang masih
terlentang. Nafas mereka terengah-engah. Mila enggan menatap Altair yang memeluknya dari belakang.
Cairan putih itu mengalir keluar dari dalam ** Mila membasahi sprei.
Air matanya jatuh mengalir.
Wanita macam apakah dirinya ini? Apakah dia wanita murahan bisa mencapai ***
dari playboy bajingan keparat seperti Altair? Ataukah ia hanya terlena dengan tubuh pria yang pernah ia cintai ini?
“Mila..” suara itu memanggilnya lembut membuat Mila menggertakan giginya marah.
__ADS_1
Permainan apa lagi yang dimainkan Altair? Tidakkah cukup wanita-wanita disekelilingnya itu memuaskannya?
—**oOo**—
“Kita pulang jam berapa, Pak?” Mila mengerutkan keningnya memulai pembicaraan. Ia sudah bersiap untuk pulang. Sebenarnya Mila masih merasa canggung karena semalam ia telah bercinta dengan lelaki yang ada dihadapannya sekarang.
“jam dua belas” Jelas Altair. Mereka sedang breakfast di restaurant hotel
Mila gelisah. Itu berarti ia akan tertahan di tempat ini lima jam lagi bersama pria
iblis ini, belum nanti saat di mobil.
‘Hufttttt….’ Mila menghela nafas panjang
“Ngomong-ngomong, I’m a lady killer”
Mila hampir tersedak saat memimum kopinya ketika Altair akhirnya mengakui di depan
dirinya. Sebenarnya Mila sudah tahu sejak lama namun Mila terkejut kenapa bisa tiba-tiba Altair mengakuinya.
“Hei jangan memandang saya seperti itu. Saya tidak sejahat itu. Saya masih bisa
mengontrol. Tapi yang tadi malam sangat diluar kendali. Apologize” Ungkap
Altair. Mila termangu dan mengingat semuanya.
“Lagipula kenapa kau menolak bercinta? Apakah kau benar-benar masih virgin?
Jadi aku yang berhasil mendapatkan virgin mu itu?” Altair menatapnya dengan menyelidik
“Biarpun kedengarannya liar, harusnya kau tahu bahwa itu semua sudah menjadi hal yang lumrah. So, stop being a naïve!” lanjut Altair namun Mila tetap diam saja tidak terpancing dengan pertanyaan-pertanyaan Altair.
Altair menatap Mila yang mengabaikan pertanyaan-pertanyaannya. Gadis itu langsung bersikap defensif ketika Altair menyatakan bahwa dirinya seorang Lady
Killer.
Dia menyesal mengatakannya, seharusnya tadi dia diam saja dan bersikap layaknya atasan-bawahan, mungkin saat ini suasana tak sekikuk ini.
“Bagaimana rasanya tadi malam?” Altair tidak mau menyerah.
Tetapi Mila hanya menatapnya tajam dari atas cangkir kopinya, menyesapnya lalu meletakkan kembali cangkirnya seraya menatap mata Altair.
Mata mereka saling bertautan untuk beberapa detik tampak kilatan api terpancar dari dalam mata mereka.
“Saya sudah selesai makan. Saya akan kembali ke kamar dan kita bertemu lagi di
lobby hotel jam 12 ya. Terima Kasih” dan kemudian gadis itu melangkah pergi dan meninggalkan Altair menuju pintu lift.
Mila masih mengingat jelas percintaannya dengan lelaki itu. Mila menghela nafas,
berusaha menghilangkan ingatan itu.
“Mau kemana kamu?” tanya Altair mencegah pintu lift Mila. Mila mencoba menekan tombol tutup namun sayang Altair berhasil masuk
“Kenapa Anda mengikuti saya? Tidak puaskah permainan Anda semalam, Tuan Altair?” ucapan Mila seakan menohok tenggorokan Altair sehingga ia tidak dapat berbicara
“Sebaiknya kamu ingat dengan siapa Anda berbicara!”
__ADS_1
“Oh ya? Jadi saya harus bersikap sopan dengan Anda setelah apa yang Anda perbuat?!”