Sekilas Aku

Sekilas Aku
Chapter 1


__ADS_3

Pagi ini udara begitu segar. Kulangkahkan kakiku menyusuri ruas jalan setapak menuju ke sekolahku. Sebelumnya perkenalkan namaku adalah Nia. Aku tinggal di sebuah desa yang sangat asri dan nyaman. Aku berasal dari keluarga biasa. Ayahku seorang petani sedangkan ibuku biasanya berjualan nasi pada hari pasaran (hari dimana di pasar sedang berjualan ). Kebetulan hari ini tidak hari pasaran jadi aku bisa berangkat ke sekolah lebih awal. Biasanya jika sedang hari pasaran aku membantu ibuku dulu untuk menjajakan dagangan minuman ke pasar. Seperti kemarin, saat itu aku sedang berusaha menyeberang jalan menuju pasar dengan membawa dua gelas teh panas dikedua tanganku. “Ndhuk, alon – alon ya anggone nyebrang dalan karo ngeterke wedange, iku wedang panas,”¹ kata ibuku ketika aku mulai membantunya mengantar minuman – minuman pesanan pelanggan. Begitulah yang bisa kulakukan untuk membantu ibuku.


“Nggih Mak,”² jawabku pada beliau.


Sekarang aku duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Oh iya, aku adalah keturunan dari suku jawa. Jadi bahasa keseharianku adalah bahasa jawa. Dalam bahasa jawa ada tingkatan bahasa yang dipakai. Jika kita berbicara kepada orang yang lebih tua kita harus menggunakan bahasa yang lebih sopan yaitu bahasa krama inggil. Sedangkan untuk teman sebaya atau yang lebih muda kita menggunakan bahasa biasa atau disebut dengan bahasa ngoko. Meskipun di keluargaku diajarkan agar aku selalu berlaku sopan santun dan menggunakan bahasa yang tepat terhadap orang yang lebih tua, aku masih sangat kesulitan menggunakan bahasa jawa secara baik dan benar terutama untuk krama inggil. Ini dikarenakan aku sering berbicara nonformal kepada teman – temanku dengan menggunakan bahasa ngoko dan juga aku sangat malas untuk mempelajarinya. Sebenarnya sebagai orang jawa aku sadar bahwa aku harus belajar bahasa daerah sendiri agar aku bisa mengajarkan bahasa itu ke generai selanjutnya di masa yang akan datang dan agar bahasa daerah sendiri dapat dilestarikan, agar tidak menjadi seseorang sebagaimana dalam istilah jawanya disebut ”wong jawa ora jawani” yaitu orang jawa yang tidak tahu tentang adat – istiadat daerah sendiri. Akan tetapi sifat malasku ternyata lebih dominan dari pada keinginan yang mulia itu.


“Nia, tunggu aku !,” terdengar suara teriakan dari arah belakangku. Ternyata itu adalah suara temanku Ken. Dengan tergesa – gesa dia berlari mengejarku yang sudah meninggalkan dia agak jauh.


“Hei, Ken! Ku kira kau sudah berangkat tadi,” jawabku padanya.


“Hah… ini baru jam berapa Nia? sudah pasti aku belum berangkat, kamu yang kepagian berangkat, he he he,” jawab Ken.

__ADS_1


“Oh, maaf Ken, hari ini ibuku tidak jualan jadi aku bisa berangkat pagi,” jawabku lagi.


Tak terasa selama berbincang – bincang kini kami sudah sampai di sekolah. Kami lalu menuju ke dalam kelas. Di kelas pelajaran pertama adalah SSD yaitu Seni Suara Daerah. Ibu Ratmini sebagai guru muatan lokal mengajariku beserta teman – teman untuk bernyanyi lagu – lagu daerah. Beliau juga mengajari kami untuk menembang macapat. Tembang Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa.


Jam istirahat berbunyi. Wali kelasku, Ibu Wiji memanggil dua temanku dan aku sendiri untuk menuju ke ruang guru. Kami pun bergegas mengikuti beliau dari belakang.


“Dhiki, Nia, dan Winda, kalian ibu panggil ke sini karena kalian bertiga dipilih dari pihak sekolah untuk mewakili sekolah kita mengikuti perlombaan di tingkat kecamatan pada Hardiknas yang akan datang. Untuk Dhiki dan Nia kalian mengikuti lomba siswa teladan, sedangkan untuk Winda kamu khusus mengikuti seni lukis. Maka dari itu persiapkanlah diri kalian dengan sebaik – baiknya,” jelas Bu Wiji kepada kami.


Waktu menunjukkan jam pulang sekolah. Aku bergegas untuk pulang. Hari ini aku akan membantu ayahku di sawah. Ini adalah rutinitasku sehari – hari setelah pulang sekolah. Aku memanggil ayahku dengan sebutan Bapak atau Pak, sedangkan ibuku dengan sebutan Mak. Benar sekali sesampainya di rumah bapak sudah menugguku untuk di ajak pergi ke sawah. Aku lalu bergegas ganti pakaian dan bersiap – siap untuk pergi ke sawah. Kebetulan saat ini sedang musim tanam padi. Pagi tadi sebenarnya Bapak sudah membajak sawah yang akan ditanami padi. Tetapi pekerjaan beliau belum selesai sehingga dilanjutkan siang hari.


Cara membajak sawah yang bapak lakukan masih menggunakan cara tradisional yaitu menggunakan sapi sebagai penarik alat bajaknya. Meskipun saat ini sudah mulai muncul alat bajak modern yaitu traktor, akan tetapi di desaku masih belum banyak alat tersebut sehingga harus mengantri untuk menggunakannya. Untuk itu bapak memilih menggunakan alat tradisional saja.

__ADS_1


Di sawah aku mendapat tugas dari bapakku untuk menyiram tanaman palawija yang beliau tanam di ladang yang berada di sebelah sawah yang akan ditanami padi. Tadinya untuk menyirami tanaman – tanaman itu aku harus mengambil air dari sungai dengan menggunakan ember, sekarang bapak menggunakan selang pralon untuk mengairinya. Jadi aku lebih mudah untuk menyiran tanaman – tanaman tersebut.


“Ndhuk, lehmu nyirami sawi wis rampung apa urung?, Ayo gek mulih wis sore iki lo,” ³Tanya bapak kepadaku.


“Sampun, Pak!, enggih,”⁴ jawabku pada beliau. Kami kemudian bergegas untuk pulang.


TBC


Lanjut next ya, gimana? Tinggal satu chapter lagi sih, ya namanya short story. Nanti kalau sudah ada ide lagi aku bakalan bikin cerita baru lagi.


See you on next chapter.

__ADS_1


Salam from Ms. Chocho


__ADS_2