Sekilas Aku

Sekilas Aku
Chapter 5


__ADS_3

Hari ini hari Minggu. Seperti biasa, hari Minggu waktunya untuk beres-beres di rumah. Dari pagi Nia sudah bangun untuk menyapu, mencuci piring dan mencuci baju. Selesai mencuci baju dia pun lanjut membantu ibunya memasak. Tak lama ayah Nia pun memanggil.


“Nia, wis gek ndang ayo mangkat nyang sawah. Selak awan!”


Nia, sudah cepetan ayo berangkat ke sawah keburu siang!


“Nggih, Pak!”


Iya, Pak!


Nia pun segera berpamit ke ibunya untuk ikut ayahnya ke sawah.


Sampai di sawah ia bertugas untuk menyiangi rumput di padi. Kalau di tempat Nia namanya matun pari. Dahulu kalau menyiangi padi dilakukan secara manual yaitu dengan mencabutinya secara langsung dengan tangan kosong. Sekarang para petani sudah tidak perlu bersusah-payah untuk menyiangi padi karena sudah ada alatnya yang lebih efisien sehingga lebih hemat waktu dan tenaga. Oh iya sawah yang di kelola orang tua Nia ada 2 tempat. Keduanya terpisah oleh sebuah sungai. Sawah yang ditanami padi ada di sebelah timur sungai, sedangkan yang berisi tumbuhan palawija serta sayur-sayuran ada di sebelah barat sungai.


Selesai menyiangi padi Nia pun menuju ke sawah sebelah barat dengan menyeberangi sungai secara langsung. Tenang arus airnya nggak deres kok, kecuali kalau lagi banjir ya .😆


Sampai di sawah kulon (barat), Nia disuruh untuk membantu memetik cengkeh. Kebetulan pohonnya masih kecil, kalau ayah Nia yang memanjat takut pohonnya akan potek atau rubuh. Jadi mau nggak mau Nia yang memanjat.


Nia pov


“Aduh biyung! Iki wite cengkeh ki cilik ngelentur sisan, ditambah ngesore perengan kali, piye ngko yen tibo? wedi aku, tapi yen ra tak penek malah diseneni, duh Gusti, mugo aman.”


“Aduh ibu! Ini pohon cengkehnya kecil mana lentur lagi ditambah bawah udah pinggiran sungai, gimana entar kalau jatuh? Takut aku, tapi kalau enggak manjat malah dimarahi, ya Tuhan semoga aman.”, batinku setelah disuruh ayah memanjat pohon itu dan memetik cengkehnya.


Saat sedang asik memetik tiba-tiba angin berhembus kencang dan tak berapa lama rintik hujan pun turun. Aku dengan panik segera loncat dari pohon untuk turun. Sungguh refleks yang luar biasa!, untungnya nggak salah milih tempat pendaratan, coba kalau malah ke arah sungai duh ngeri ngebayanginnya. Sampai di bawah aku pun lari ke gubuk untuk berteduh. Ayahku pun juga sudah ada di dalam gubuk. Kami pun hanya terdiam sambil menikmati udara yang dingin serta menatap rintikan air hujan yang turun.


__ADS_1



Hujan telah reda. Nia dan juga ayahnya juga sudah pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Nia langsung menuju ke kamar mandu untuk bersih-bersih setelah kehujanan. Selesai mandi dia langsung menuju ke ruang tengah karena pekerjaan tengah menantinya. Ya, sekarang tugas Nia adalah memisahkan biji cengkeh dari rantingnya. Ini adalah kegiatan yang wajib dilakukan setelah memanen cengkeh. Karena masing-masing bagian dari cengkeh dapat dijual dan memiliki fungsi. Contohnya buah cengkeh sendiri selain sebagai penyedap masakan juga merupakan salah satu bahan untuk membuat rokok. Akarnya bisa diolah untuk dijadikan obat dan daunnya bisa digunakan sebagai bahan antibacterian untuk mencegah jerawat. (*Sumber dari google*)



“Nia, ndhuk rene mangan sek, wis mateng ki segone!”


“*Nia, nduk sini makan dulu, sudah matang nih nasinya*!”, panggil Ibu ke Nia.



“Nggih mak, riyen.”


“*Iya Mak, sebentar*.”, jawab Nia




Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Nia baru ingat bahwa dia belum mengerjakan PR matematika miliknya. Ia pun izin ke ayahnya lalu beranjak menuju kamarnya untuk mengerjakan PR. Saat tengah asik mengerjakan PR, Nia dikagetkan dengan dering nada telepon dari HP miliknya. Ia pun mengecek HP itu, ternyata ada sms dari Nur, menanyakan soal PR matematika itu.


Karena susah jika menjelaskan lewat SMS akhirnya mereka memutuskan untuk menjelaskan esok hari di sekolah sebelum pelajaran di mulai.


Setelahnya, Nia segera menyelesaikan PR tersebut dan beranjak untuk tidur agar besok tidak bangun kesiangan.


__ADS_1


Keesokan harinya jam 6.45 pagi Nia sudah sampai di sekolah. Maklum hari Senin masuk lebih awal yaitu jam 07.00 karena harus melaksanakan upacara bendera terlebih dahulu.



“Nur mana sih? Lama banget, keburu masuk nih, alamat deh nyontek nih akhirnya tuh anak!”, gerutu Nia karena Nur yang janjian untuk diajari sebelum bel masuk malah belum datang.



“Niaaa!!!! Maaf aku dateng telat, tadi angkot yang aku naiki bannya bocor, jadi harus nunggu abangnya ganti ban dulu! Udah yok pinjem bukunya, aku nyontek aja ya PRnya hehe!”, dengan terburu-buru sambil nyengir Nur menarik Nia untuk segera mengeluarkan buku tugas matematikanya.



“Huh, benerkan ujung-ujungnya nyontek, kebiasaan! Nih, cepetan kerjain, 5 menit lagi bel tuh!”, dengan agak sebal Nia memberikan bukunya untuk dicontek Nur.



“Yaelah tenang santai, nyalin tulisan mah cepet 2 nomor ini, santai dong mbak! Entar aku traktir deh oke! Jangan cemberut lah!”, rayu Nur sambil menulis jawaban di bukunya.


Tak berapa lama tepat setelah Nur selesai menyalin jawaban, bel pun berbunyi. Murid-murid segera menuju ke lapangan untuk mengikuti upacara bendera.



Memasuki amanat pembina upacara, Kepala sekolah selaku pembina upacara mengumumkan bahwa Ujian Semester 1 akan dimulai minggu depan, setelah itu akan diadakan *class meeting*. Selama *class meeting* akan diadakan perlombaan antar kelas. Untuk perlombaan non-akademik beregu akan diadakan dengan melakukan gabungan kelas, yaitu kelas 7 digabung dengan kelas 9 ataupun dengan kelas 8. Semua siswa terlihat antusias untuk mengikuti perlombaan yang ada. Meskipun begitu, mereka tak lupa untuk memfokuskan diri menghadapi Ujian Semester.



**TBC**

__ADS_1


***Hai, Miss Chocho hadir kembali. As always jangan lupa like dan vommentnya ya teman-teman***^\_^


__ADS_2