
Suasana di ruang makan terasa hening. Mbak Ria, Ibu serta Nia makan dengan diam. Setelah makan siang selesai barulah ibu menceritakan apa dan kenapa Nia bisa datang ke rumah.
Ibu pov
“Ria, mreneo nduk ibu arep ngomong!”
(“Ria ke sini, ibu mau bicara!”)
Kataku memintanya datang menemuiku.
“Iya Bu, mengke rumiyen!”
(“Iya bu, sebentar!”), kata anak keduaku sembari menghampiriku.
“Ngene lo ya, adimu kui mau ceritane bali sekolah langsung rene tur ora pamit karo pakdhe lan budhemu. Ditakoni ibu mau jarene wegah bali rono, coba reh-rehin ndhuk, sopo ngerti gelem yen kowe sing ngomong!”,
(“Begini Ya, adik kamu itu tadi ceritanya pulang sekolah langsung ke sini juga tidak pamit sama Pakde dan Budemu. Ditanyain ibu tadi katanya tidak mau pulang ke rumah sana, coba kamu bilangin siapa tahu nanti mau jika kamu yang bilang!”) ujarku ke Ria.
“Injih Bu, coba nanti aku bilang ke Nia, tapi kalau tetep kekeh tidak mau gimana Bu?”, tanya Ria.
__ADS_1
“Yowis yen ora gelem yo mengko sore kon ngeterke masmu kulon kono neng Bulu karo pamit neng Budhemu.”
(“Ya sudah kalau tidak mau nanti sore suruh dianterin masmu ke Bulu untuk pamit ke Budhemu”)
Sahutku ke anak keduaku itu.
Ibu pov end
Setelah melakukan diskusi panjang akhirnya sore hari pun tiba. Ibu Nia, Nia dan sepupu laki-lakinya pun berangkat menuju ke Bulu. Satu jam perjalanan mereka sampai di Bulu. Sesampainya di sana mereka langsung menemui Emak dan Bapak angkat Nia.
“Yu, ki mau bocah ke bali neng mah kidul. Tak reh-reh kon bali mrene ora gelem malah njaluk kon mamitke bocahe. Jare rep bali neng mah kidul ae, jan-jane ke ono opo?”
(Kak, ini tadi anaknya pulang ke rumah selatan. Aku kasih tahu disuruh pulang ke sini tidak mau malah minta dipamitkan anaknya. Katanya minta pulang ke rumah sana saja. Sebenernya kenapa?), tanya Ibu Nia ke kakaknya.
Akhirnya setelah berbicara ini itu segala perabotan dan perlengkapan nia termasuk buku-buku dan baju seragam pun dirapihkan lalu dibawa ke rumah orang tua kandung Nia.
__ADS_1
Awal-awal kepulangan Nia ke rumah orang tua kandungny, Ayah angkat Nia merasa menyesal dan selalu menunggu Nia dijam pulang sekolah. Selalu mencari-cari Nia jika sudah waktu pulang tapi dia belum juga pulang. Beliau juga menyesal kenapa bersikap terlalu kasar juga mempercayai kata-kata kakak kandungnya yang menjelek-jelekan anak perempuan satu-satunya itu.
Sedangkan di lain tempat, Nia merasa begitu bahagia, bagaimana tidak. Perlakukan orang tua kandung Nia berbanding terbalik dengan orang tua angkat Nia. Di sini ia merasa diperhatikan, dan juga ia memiliki kakak-kakak yang begitu sabar dan sangat menyayanginya.
Di sini ia juga mendapat teman-teman baru serta sepupu-sepupu yang seumuran. Sekarang jika ia ingin bermain pun tak perlu takut untuk izin karena orang tuanya mengizinkan ia bermain tentunya dengan syarat dan ketentuan. Meskipun begitu Nia sangat bahagia bisa berkumpul dengan keluarga kandungnya.
**End season 1**
***Hai teman-teman. Karya Sekilas Aku end dichapter ini ya. Tenang nanti akan ada season 2 nya tentunya akan mengulik kisah Nia dan tetap masih bergenre remaja ya. Karena masih mengangkat kisah anak-anak sekolah***.
***Mohon maaf jika dalam penulisan karya ini masih banyak kekurangan. Kesinambungan per partnya masih rancu, serta banyak typo dan bahasanya masih kurang luwes, karena aku masih amatiran plus masih belajar nulis hehe***.
__ADS_1
***Juga thank you buat teman-teman yang masih setia membaca tulisan abal-abalku ini. Big Love for you guys*** ❤️❤️❤️\*\*\*.\*\*\*
\*\*\*Sekian Miss Chocho pamit see you next season\*\*\*\*\*\*\* 😘😘😘