Sekilas Aku

Sekilas Aku
Chapter 2


__ADS_3

Seminggu kemudian……


Hari ini matahari bersinar begitu cerah. Waktu terasa berlalu begitu cepat. Perasaan baru kemarin aku dan teman – temanku dipanggil guruku untuk diberitahu akan mengikuti perlombaan. Dan hari ini adalah hari dimana perlombaan itu dilaksanakan. Aku sangat grogi pada saat mengikuti kegiatan tersebut. Terutama ketika dalam perlombaan tersebut aku disuruh menyanyi oleh panitia lomba, yaitu menyayikan lagu kebangsaan Negara kita, Indonesia Raya. Aku berfikir yang aneh – aneh saat akan menyayikan lagu itu. Apakah nanti suaraku fals, benar tidak ketukan notasinya dan lain sebagainya. Yah begitulah aku jika sedang grogi.


Akhirnya semua kegiatan perlombaan sudah aku lalui. Tiba saatnya pengumuman lomba. aku sangat gugup apakah aku akan berhasil dalam perlombaan ini atau akan gagal? Itulah pertanyaan yang muncul dalam pikiranku. Setelah hasil diumumkan, aku tak menyangka ternyata aku dan Dhiki berhasil memenangkan perlombaan ini dan akan mewakili kecamatanku ke tingkat kabupaten. Sedangkan untuk Winda dia juga masih beradu lagi di tingkat distrik.


Persiapan untuk mengikuti lomba tingkat kabupaten lebih banyak. Ada beberapa aspek yang harus diikuti, dari lomba tertulis hingga praktek. Untuk kegiatan yang tertulis, persiapanku sudah sangat matang, sekarang tinggal yang dipraktekkan. Yang pertama yaitu komputer. Aku masih asing dengan alat yang satu ini. Yah, Ini adalah salah satu perkembangan dunia teknologi yang belum familiar. Yang aku tahu hanyalah mesin ketik dengan sebuah gandaran panjang ataupun pendek. Karena aku masih terlalu awam, akhirnya aku dimintakan izin ke tempat kantor dinas pendidikan di kecamatan tempatku tinggal untuk berlatih yang namanya komputer beserta dengan guru pendamping.


Selain aspek keterampilan teknologi komputer ternyata ada aspek ekstrakurikuler juga yang akan dinilai dalam perlombaan. Dan pada saat itu aku mengikuti yang namanya ekstrakurikuler tari tradisional, sehingga aku memilih untuk menampilkan sebuah tarian tradisional jawa tengah yaitu tari Bondan Payung. Tarian ini menceritakan tentang seorang ibu yang merawat anaknya dengan hati – hati. Tarian ini biasanya ditarikan oleh seorang anak perempuan dengan menggendong boneka bayi yang digedong dan menggunakan payung. Untuk memperlancar tarianku ini, setiap sore selama 3 hari berturut – turut aku mengikuti latihan kilat menari.


Sedangkan Dhiki, ia memilih untuk menampilkan ekstrakurikuler musik. Yaitu menampilkan sebuah lagu yang diiringi dengan alat musik yang modern, orgent.


Akhirnya perlombaan ditingkat kabupaten telah tiba. Semua perlombaan berjalan dengan lancar tanpa halangan apapun berkat persiapan lomba kemarin. Dalam perlombaan ini mentalku sungguh sangat diuji. Bagaimana tidak, aku disuruh berpidato dan menari di depan ratusan orang, padahal aku adalah orang yang sangat pemalu dan mempunyai rasa percaya diri yang kurang. Walaupun begitu, semuanya terasa menyenangkan bagiku. Meskipun aku tidak menempati posisi teratas dalam perlombaan itu tetapi aku tetap puas dan senang karena memperoleh banyak pengalaman dan mendapat teman – teman baru.


Siang terasa berkelabu, matahari sedari pagi bersembunyi dibalik awan tak mau menampakkan senyuman cerianya. Hiruk pikuk keramain orang – orang yang tengah berinteraksi saling tawar – menawar di pasar tetap berjalan tanpa halangan apapun. Begitu pun dengan rumah kediamanku yang tengah ramai dengan persiapan diadakannya yasinan memperingati 1000 hari meninggalnya kakekku. Aku juga tidak mau kalah. Aku membantu untuk membersihkan dan menata ruangan yang akan digunakan untuk yasinan dan juga tempat untuk menaruh sesajen. Sesajen yaitu semacam makanan, minuman, beserta kembang sekar yang dimasukkan ke dalam wadah dan diberi air, ada juga rokok, diletakkan di suatu meja dan diberi thinthir (lampu sentir/ lampu minyak seperti lilin) sebagai penerangan.


Keluargaku beragama Islam termasuk juga diriku, akan tetapi mereka masih menjunjung tinggi adat istiadat jawa yang masih terpengaruh ajaran hindu dan jawa kuno. Maka dari itu, meskipun ada yasinan masih juga tetap menyiapkan sesajen karena beranggapan bahwa apa yang kita buat hari ini para leluhur juga ikut mencicipi atau merasakan. Meskipun pada akhirnya apapun yang dibuat sebagai sesajen itu dimakan oleh kita sendiri. Biasanya sesajen tidak hanya dilakukan pada saat memperingati hari kematian saja, tetapi pada saat akan melakukan puasa Ramadhan dan pada saat Hari Raya juga.

__ADS_1


Selama persiapan untuk yasinan, keluargaku dibantu oleh para tetangga dan sanak saudara yang tinggal di dekat kami. Gotong royong serta guyup rukun di desa dan keluargaku tetap terjaga. Siapapun yang sedang punya hajat atau perlu bantuan pasti masyarakat termasuk anggota keluarga pun akan siap sedia membantu. Jadi kita tidak perlu khawatir atau bingung untuk meminta bantuan.


Kicauan burung menemani indahnya suasana pagi hari ini. Tak terasa sekarang aku sudah berada dipenghujung sekolah dasar. Hari ini adalah hari ujian akhir sekolah dasar. Aku sengaja bangun pagi untuk membantu Mak memasak lalu bersiap berangkat ke sekolah. Aku mulai menyiapkan beras yang akan aku masak. Karena perlu ditampi dahulu, aku pun menampi beras tersebut dengan pelan dan teratur agar berasnya tidak ikut terjatuh saat menampi. Ketika sedang asik memilah gabah yang ada dalam beras, aku merasa keanehan dalam diriku. Tubuhku terasa bergoyang – goyang secara tiba – tiba. Padahal aku merasa diam tidak bergerak sama sekali. Tak lama kemudian aku mendengar suara gemuruh ruang kamar kakakku yang seperti tengah digedor – gedor. Aku sangat kebingungan karena melihat kakak – kakakku beserta orang tuaku berlarian keluar rumah. Mereka meneriakiku untuk ikut berlari ke luar rumah.


“Nia, ayo gek mlayu metu mrene, cepetan Ndhuk!”⁵ kata mereka sembari berteriak dengan sangat kencang. Aku lalu ikut berlari menuju keluar rumah. Setelah aku berada di luar rumah, aku baru sadar ternyata tubuhku bergoyang – goyang dikarenakan sedang ada gempa bumi. Setelah beberapa saat gempa pun berhenti.


Kakakku berjalan memasuki rumah lalu menghidupkan tv yang berada di ruang keluarga. Ia menonton acara berita. Benar saja sesuai tebakanku ia tengah mencari tahu informasi mengenai gempa bumi yang baru saja terjadi. Ternyata itu berasal dari daerah Jogjakarta. Hal ini juga bebarengan dengan akan meletusnya gunung merapi. Aku kemudian melanjutkan kegiatanku memasak nasi. Setelah itu aku bersiap – siap untuk berangkat sekolah lalu mengerjakan Ujian Akhirku. Masa – masa sekolah dasar berakhir hari ini dan akan menentukan kemana lagi aku akan melanjutkan sekolah.


Memasuki masa SMP…


Sekolah Menegah Pertama (SMP) itulah tingkat pendidikanku saat ini. Zaman sudah mulai berubah. Saat ini teknologi sudah mulai canggih. Belum lama ini muncul yang namanya Hand Phone (HP) atau telepon genggam. Sebenarnya ini sudah agak lama, hanya saja anak – anak sekolah sekarang mulai banyak yang menggunakan alat komunikasi ini. Termasuk diriku. Aku yang dulunya tidak tertarik dengan benda ini sekarang malah sangat menginginkan benda yang satu ini. Ini bermula karena aku melihat kakakku yang baru pulang dari merantau di Kota membawa benda ini. Setelah aku fikir – fikir, aku merasa benda ini sangat berguna terutama untuk memudahkan komunikasi antara aku dan juga saudaraku yang lain. Tak terkecuali kakakku yang masih merantau itu. Ia hanya pulang sekali selama setahun. Jadi ini sangat membantu untuk mengetahui keadaan dan kabar dirinya ketika diperantauan.


Aku merasakan kehidupanku saat ini benar – benar mulai berubah drastis. Desaku yang dulunya sepi sekarang sudah mulai ramai. Sanak saudara ayahku yang dulunya tinggal dan menetap di kota, yaitu Jakarta juga memilih pulang kampung ke Jawa. Alasannnya adalah agar dekat dengan saudara – saudaranya. Dengan adanya saudara – saudaraku ini, aku yang dahulu orangnya tidak terlalu konsumtif terhadap suatu benda sekarang menjadi lebih konsumtif. Meskipun begitu terdapat sisi positifnya juga yaitu aku menjadi kenal dan tahu saudara – saudaraku yang belum pernah bertemu.


Saat ini aku sedang di sekolah. Jam menunujukkan pukul 09.00, ini berarti waktu untuk istirahat. Aku beranjak dari tempat dudukku untuk menuju ke perpustakaan sekolah. Kemarin saat sedang mengerjakan tugas di perpustakaan aku tertarik dengan sebuah buku. Aku tertarik untuk membacanya. Aku mulai terhanyut dalam bacaanku, hingga hampir lupa waktu. Karena buku yang aku baca belum kelar, aku memanfaatkan kartu perpustakaan untuk meminjamnya dan juga buku – buku lain yang ingin aku baca di waktu senggang.


Semenjak aku sering meminjam buku di perpustakaan sekolah, banyak waktu luang yang kugunakan untuk berdiam diri dan membaca buku, hingga aku seperti terisolir dari dunia luar. Karena aku jarang bermain dengan teman sebayaku termasuk dengan saudara – saudaraku. Ada sisi baik dan buruk sih dari kegiatanku ini, tetapi aku mengambil sisi positifnya, yaitu aku dapat mengurangi sifat konsumtifku yang biasa kambuh ketika aku sering bermain dengan saudaraku.

__ADS_1


TBC


Hai teman-teman aku balik lagi bawa lanjutan cerita. Oh iya kemarin lupa karena ada beberapa percakapan menggunakan bahasa daerahku yaitu bahasa Jawa, nah di bawah cuap-cuap ku ini aku kasih note artinya.


Oke selamat membaca teman-teman.


Jangan lupa tinggalkan jejak a.k.a like dan komennya ya, kritik dan saran tetep dinanti untuk perbaikan penulisan bagi author.


Makasih see you next chapter 😊😊


Arti kalimat :


¹“Ndhuk, alon –alon ya anggone nyebrang dalan karo ngeterke wedange, iku wedang panas,” : Ndhuk (panggilan orang jawa terhadap anak perempuan) \= Nak, hati – hati ya saat menyeberang jalan dan mengantar minuman.


²“Nggih Mak,” : Iya, Bu.


³“Ndhuk, lehmu nyirami sawi wis rampung apa urung?, Ayo gek mulih wis sore iki lo,” : Nak, kamu sudah selesai belum menyirami sawi?, Ayo cepat pulang sudah sore ini.

__ADS_1


*⁴“Sampun, Pak!, enggih : Sudah Pak!, Iya.


⁵“Nia, ayo gek mlayu metu mrene, cepetan Ndhuk!” : Nia, ayo cepat lari keluar rumah, cepetan Nak!*


__ADS_2