Sekilas Aku

Sekilas Aku
Chapter 3


__ADS_3

Padha gulangen ing kalbu,


Biasakanlah kalian mengasah kalbu/hati,


Ing sasmita amrih lantip.


agar (pikiranmu) tajam menangkap isyarat.


Aja pijer mangan nendra


Jangan hanya selalu makan dan tidur,


Kaprawiran den kaesthi.


Upayakan sikap kepahlawanan.


Pesunan sariranira,


Latihlah dirimu dengan,


Sudanen dhahar lan guling.


Kurangi makan dan minum.


(Tembang Macapat Kinanthi)


Nia POV

__ADS_1


Hari ini di kelas sedang pelajaran muatan lokal. Muatan lokal (mulok) adalah pelajaran tambahan yang wajib diikutsertakan dalam kurikulum pembelajaran di sekolah. Biasanya mulok berisi tentang pelajaran yang berhubungan dengan budaya atau sumber daya masing-masing daerah. Nah, sekarang kelasku sedang belajar tembang Jawa (lagu Jawa). Tembang jawa ada beberapa macam seperti tembang gedhe dan tembang macapat. Saat ini aku sedang mempelajari salah satu tembang macapat yaitu tembang Kinanthi. Tembang kinanthi ini berisi tentang petuah bagi para pelajar atau murid agar lebih memperdalam ketajaman hati agar kita bisa bersikap secara bijaksana serta peka terhadap keadaan di sekitar kita. Jangan hanya mengutakaman nafsu. Salah satu cara untuk melatih hati adalah dengan menahan atau mengurangi makan dan minum. Aku dan teman-teman bergantian menembangkan (menyanyikan) tembang Kinanthi tersebut. Setelah itu kami pun diberi tugas untuk menghafalkannya karena minggu depan akan dilakukan penilaian.


Teettt...teeettt...teeetttt...


Bel istirahat pun berbunyi. Pelajaran pun berakhir. Setelah guru mengucapkan salam dan meninggalkan kelas, anak-anak di kelas mulai berbondong-bondong ke luar untuk menuju kantin. Tentunya untuk mengisi perut mereka yang sudah mulai keroncongan.


“Nia, udah belom? Ke kantin yuk! Udah laper banget nih!", ajak Nur teman sebangku ku.


“Ayok, kebetulan cacing-cacing di perutku juga sudah mulai demo!”


Akhirnya aku dan Nur pun menuju ke kantin. Sebelum sampai di kantin, kami pun melihat-lihat bangku untuk duduk. Ternyata semua bangku telah penuh.


“Yah, Nur bangkunya udah pada penuh tuh, beli roti aja yuk bawa balik ke kelas.”, ajak ku ke Nur.


“Iya deh, dari pada nungguin ntar keburu masuk.”


“Woi, podho ngopo kui penekan nek wit, awas nek tibo! La dalah podo nyolong pelem malahan! Awas tak omongke neng gurune kui mengko!”, (Hei, pada ngapain itu manjat-manjat pohon, awas kalau jatuh! Ya ampun ternyata pada mencuri mangga! Awas ya aku laporin ke guru nanti!)


kata Bapak-bapak dari trotoar.


Dengan terburu-buru anak-anak yang tengah memanjat pohon langsung berebut turun. Saking terburu-burunya sampai ada yang terpeleset dan langsung terjun ke bawah. Anak-anak lain yang hanya melihat di depan kelas pun tertawa dengan serempak.


Astaga teman-temanku sungguh memalukan. Nyuri mangga masih di lingkungan sekolah ampun tepok jidat ini mah. Eh gegara mereka aku jadi inget waktu sd juga pernah nyolong alias nyuri buah cokelat hehe, tapi bedanya aku ambil cokelatnya dulu terus aku makan bareng-bareng sama teman-teman. Nah selesai kita makan baru deh teriak-teriak ke ibu pemilik cokelat kalau kita minta cokelat, padahal cokelatnya sudah kami habiskan hihihi.


Nia POV end


—~——skip~——~~~—

__ADS_1


Author POV


Jam sudah menunjukkan pukul 13.00. Menandakan bahwa kegiatan belajar-mengajar di sekolah telah usai. Murid-murid berhamburan ke luar kelas untuk segera menuju rumah mereka masing-masing. Tak terkecuali dengan Nia. Dia pun sesegera mungkin menuju ke gerbang depan sekolah untuk menunggu angkot yang sudah menjadi langganan dia untuk pulang. Wajah yang tadi nampak ceria sekarang menjadi sedikit mendung. Yah selalu seperti itu jika kegiatan sekolah telah usai dan berpisah dengan teman-temannya ia akan menjadi gadis pemurung dan pendiam. Entah apa yang terjadi dengan anak itu. Teman-temannya tak ada yang mengetahui tentang hal ini. Hanya satu temen dekatnya yang benar-benar paham akan dirinya. Namun, sekarang ia telah pergi, pindah ke luar kota untuk ikut bersama dengan orang tuanya yang dipindah tugaskan dari pekerjaannya.


“Eh Nia! Ngelamun aja, sini cepetan naik, abangnya udah mau jalan nih, ntar ketinggalan lagi!”, Ken pun bersuara dari dalam angkot sehingga menyadarkan Nia dari lamunannya. Masih ingatkan kalian dengan Ken? Yap, dia adalah salah satu teman Nia saat SD. Kebetulan sekarang mereka berada di SMP yang sama juga.


“Iya Ken! Kirain tadi belum pada naik!, kok pada gak keliatan sih naiknya? Kalian pada ngilang yak, pake jurus jinnie oh jinnie?”, sahut Nia dengan candaannya.


“Yaelan neng, tuh mata ke mana aja? Orang pada segede gini masa kaga kelihatan pas kita naik, Perlu dikasih kaca mata kuda tuh anak!”, Abi pun tak mau ketinggalan untuk menyahuti Nia.


“Wis ta, gek munggaho nya, ben gek mangkat supire, selak panas ki lo!,”kata si bijak Leni.


(Sudahlah, cepetan naik Nia, biar abang supirnya cepet jalan, keburu panas nih)


Akhirnya, setelah semua sudah naik ,angkot pun segera jalan mengantarkan mereka sampai ke tujuan masing-masing.


TBC


Hai-hai!!


Aku dateng lagi bawa chapter 3, gimana ceritanya? Garing ya? Maaf nih chapter 3 pendek soalnya nulis di sela-sela waktu senggang 😁


Tetep kritik dan sarannya ya teman-teman selalu aku tunggu dengan tangan terbuka. Aku bener-bener masih newbie buat nulis jadi jika ada typo dan masih banyak kekurangan harap dimaklum yah, tentunya aku bakalan tetep buat perbaiki ke depannya.


Terima kasih juga yang sudah mampir. Jangan lupa like dan vomentnya ya.😊😊😊


Salam hangat dari Ms chocho si penyuka kopi mocca dan susu cokelat. 🤗🤗😆

__ADS_1


__ADS_2