
Nia Pov
“Nia! Nia! Cepetan ke sini, bantuin nyusun dagangan!”, terdengar suara teriakan dari Budhe Tin saat aku baru sampai rumah setelah pulang sekolah.
“Iya Budhe, sebentar Nia ganti baju dulu.”, jawabku kepada Budhe Tin
“Cepetan ya! Jangan lama-lama!”, sahut budhe Tin lagi.
“Iya, Budhe.”, jawabku lalu bergegas untuk berganti pakaian.
Yah, begitulah setiap hari jika aku pulang sekolah semenjak ada Budhe Tin. Baru juga masuk rumah sudah diteriakin untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menanti dari warung yang dia buka.
Benar sekali, setelah Budhe Tin tinggal satu rumah denganku, dia kemudian membuka warung sembako. Setiap hari akulah yang selalu mengecek stok barang-barang dan juga kadang-kadang menjaga warungnya. Kadang-kadang aku kena tegor Bapak karena lupa tak membantu Bapak ke sawah. Seperti kemarin saat aku disuruh budhe Tin menjaga warung yang aku kira beliau ada urusan penting hingga aku tak datang ke sawah, eh tak taunya ia malah tidur di kamar. Bukannya aku tak mau menjaga, tapi kalau Bapak sampai marah, tamatlah aku.
Selesai berganti pakaian aku langsung menuju ke warung untuk segera menyusun dagangan yang baru dibeli. Selang tiga puluh menit dagangan telah selesai aku susun.
Lalu aku pamit ke Budhe Tin untuk makan dan segera membantu Bapak ke sawah.
__ADS_1
“Budhe Titin, ini sudah selesai nyusunnya ya, Nia mau siap-siap ke sawah nyusul Bapak.”, pamitku kepada Budhe Tin.
“Iya!”, jawab Budhe.
Aku pun segera makan dan bergegas menyusul ayah ke sawah.
Selesai makan siang aku bergegas menuju ke sawah. Saat ini sedang musim jagung. Jadi sawah penuh dengan tanaman jagung. Meskipun begitu tetap ada pekerjaan yang harus dilakukan yaitu memberi pupuk pada jagung agar jagung dapat tumbuh subur dan menghasilkan buah jagung yang berkualitas.
Biasanya jika memupuk jagung yang digunakan adalah pupuk urea dan pupuk ZA. Aku kurang paham yang jelas kalau pupuk urea warnanya putih dan halus hampir mirip garam halus, sedangkan pupuk ZA warnanya abu-abu dan agak kasar.
Inilah keseharianku, sekolah pulang sekolah lalu ke sawah. Untuk bermain pun aku tak ada waktu. Kadang-kadang jika aku sudah benar-benar ingin bermain bersama teman-teman aku terpaksa berbohong dengan alasan mengerjakan tugas dari sekolah.
Kenapa aku berbohong? Karena jika aku berkata jujur ingin bermain dapat dipastikan jawabannya adalah tidak boleh. Karena Bapakku masih berpegang prinsip bahwa anak - anak itu jangan dibiarkan bermain karena nanti mereka jadi tidak tahu pekerjaan. Itulah kenapa aku selalu diajarkan untuk bekerja sejak kecil.
Malam telah datang. Setelah seharian di sawah badan pun terasa sangat lelah. Jam masih menunjukkan angka delapan. Tetapi mata sudah sangat berat ingin segera terpejam. Namun, apalah daya. Aku masih harus mengerjakan PR dari sekolah. Dengan berat hati aku pun mulai mengambil buku dan alat tulis lainnya. Dengan terantuk-antuk ku paksakan diri mengerjakan PR ku. Hingga tanpa sadar aku pun tertidur di meja ditemani dengan buku-buku yang masih berserakan.
*****____******
__ADS_1
Pagi menjelang. Seperti biasa, rutinitas pagi adalah bangun. Menegerjakan sholat lalu menyapu, mencuci piring dan bersiap-siap ke sekolah. Tapi pagi kali ini berbeda. Terdengar suara ribut-ribut di ruang tamu. Dengan sedikit rasa ingin tahu aku berjalan menuju ke ruang tamu.
Ternyata suara ribut itu berasal dari Bapak dan mas Dadit. Sudah menjadi pemandangan biasa jika Bapak dan mas Dadit ribut. Alasannya! Tentu karena mas Dadit yang pulang pagi ditambah dengan terciumnya aroma alkohol dari badannya.
Hei! Memang aku tak terlalu paham soal minuman keras. Tetapi bau alkohol yang menyengat menandakan bahwa ia telah mengkonsumsinya. Memang kakak ku bisa dibilang salah pergaulan. Meskipun begitu dia tak pernah berbuat aneh-aneh serta tak sampai mabuk. Tapi tetap saja hal itu adalah sesuatu yang tak baik. (Jangan sampai dicontoh ya teman-teman)
Perdebatan Bapak dan Mas Dadit akhirnya berakhir setelah emak melerai mereka. Ayah langsung berangkat ke sawah dan mas Dadit menuju ke kamarnya. Sedangkan aku? Aku pun melanjutkan kegiatanku sebelum nanti berangkat sekolah.
TBC
Halo teman-teman, Miss Chocho comeback. Gimana ceritanya? Makin gak jelas ya?
Aku mau jujur nih, sebenarnya aku belum pernah bikin cerita yang panjang sampai berepisode2. Lebih sering bikin cerpen. Jadi suka ilang ide kalau di tengah. Jadi mungkin cerita ini akan segera aku finishing dalam beberapa chapter lagi.
Nah, kebetulan aku nulis disela-sela waktu yang cuman ada sedikit celahnya. Jadi harap dimaklum ya jika jarang up dan belum bisa kasih feed back buat kalian. Eitss, tenang, bagi ceritanya yang belum ada jejak dariku ditunggu ya. Cerita kalian sudah masuk dalam list bacaanku kok. So tunggu kedatangan Miss Chocho di lapak kalian.
See you next chapter 😘😘
__ADS_1