
Tetes embun pagi kali ini terlihat lebih banyak dari biasanya, hingga jalanan yang biasanya kering pun terdapat aliran kecil air hasil tetesan embun ah lebih tepatnya rintikan hujan pagi tadi. Seorang gadis dengan seragam putih biru yang melekat pas pada tubuhnya berlari tergesa-gesa memasuki ruang kelasnya setelah turun dari angkot yang ia tumpangi. Benar gadis itu adalah Nia. Hari ini ia bangun kesiangan dikarenakan asik bergelung dengan selimut ditemani dengan bantal dan guling kesayangannya ditambah cuaca pagi yang mendukung untuk lanjut berkelana di dunia mimpi. Ah... sungguh nikmat memang.
Nia pov
“Aduh! Telat nih!!! Keasikan tidur sih tadi, untung saja guru belum masuk kelas, masih aman, hehehe.”, batinku setelah sampai di ruang kelas.
Tentu saja tak lupa aku harus mengucap syukur dengan keberuntunganku hari ini. Terima kasih abang angkot yang datang cepat tak seperti biasa yang harus menunggu lama-lama. Terima kasih juga dengan kecepatan lari ku yang tak seberapa tapi menyelamatkanku untuk sampai di kelas dengan cepat.
Tak berapa lama Bu Wulan memasuki ruang kelas. Setelah mengucap salam dan berdoa pelajaran pun dimulai. Pelajaran kali ini adalah Bahasa Inggris. Asal kalian tahu ya, Bahasa Inggris adalah pelajaran kelemahanku. Jadi jangan heran kalau setiap ulangan aku langganan remedial. Tapi nggak sering-sering sih kadang-kadang saja. Lebih banyak nilainya ngepress alias pas-pasan batas minimum.
Skip***
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Saatnya murid-murid untuk pulang ke rumah. Jujur saja, aku rada malas untuk pulang. Semenjak Budhe Titin datang, entah kenapa aku sangat malas jika di rumah. Aku bukannya membencinya tapi dia terlihat tak menyukaiku sama sekali ditambah dia juga suka menyuruhku ini itu padahal aku masih mengerjakan tugas lain.
“Heh Nia, ngelamun aja. Awas nabrak loh!”, kata Nur dari belakang secara tiba-tiba.
“Ya ampun Nur! Bikin kaget aja! Aku nggak ngalamun tahu. Cuman capek doang kok!”, jawabku menyanggah pernyataan Nur barusan.
__ADS_1
“Alah, kalau nggak ngalamun masak aku panggil-panggil dari tadi nggak denger?”, jawab Nur lagi.
“Eh..., emang kamu manggil aku Nur?”, jawabku lagi karena memang aku tak merasa dipanggil.
“Lah, bener ta ngalamun. Mosok yen ora ngalamun ora krungu?”
“Nah, benerkan melamun, masak kalau nggak melamun nggak denger?”, kata Nur lagi.
“Yowis ngalah, iyo aku ngalamun. Emang ana apa ta kok ngundangi aku?”
“Ya sudah aku ngalah, iya aku melamun. Memang ada apa kok manggilin aku?”, jawabku akhirnya.
“Wah boleh deh ikutan, tapi nggak lama kan? Takut ntar dicariin orang rumah.”, jawabku. Akhirnya aku nggak jadi pulang sekarang deh. Sebentar pun tak masalah yang penting sudah mengulur waktu.
Nur, aku, dan teman-teman yang lain pun menuju ke perpustakaan. Iya perpustakaan di sekolahku memang dibuka lebih lama meskipun bel pulang telah berbunyi dikarenakan masih banyak anak-anak terutama mereka yang hobi membaca akan mampir ke perpustakaan untuk membaca buku-buku favorit mereka atau pun ada juga yang menumpang mengerjakan tugas seperti diriku dan teman-teman.
Sungguh beruntung sekali anak zaman sekarang ya. Jika ada tugas atau pun PR kita dengan mudah bisa mencari informasi atau referensi buku-buku di perpustakaan. Pada zaman emak dulu katanya boro-boro ada buku, pensil, atau pun pulpen. Sekolah aja cuman modal 2 alat tulis yaitu sabak dan grip. Sabak adalah papan batu kalau sekarang kita sebut buku sedangkan grip adalah pena atau kalau kita sekarang semacam pensil.
__ADS_1
Nah, bagaimana jika ulangan? Belajarnya gimana? Aku pernah menanyakan seperti itu sama emak. Kalau kata emak sih yasudah seingatnya aja. Karena memang hanya modal memori alias ingatan otak kita. Jadi jangan heran jika orang zaman dulu bisa dibilang memang cerdas secara sebenarnya.
Coba bayangkan kalau kita sekarang seperti itu, sudah dapat dipastikan mengeluh adalah hal yang tak terelakan. Sungguh ya teknologi memang benar-benar merubah zaman.
Selain perpustakaan dengan buku-buku yang ada, kalau kata kakak sepupuku yang sudah duduk di bangku SMA, sekarang juga ada yang namanya internet. Kita bisa mencari informasi di internet dengan mudah, jadi tak perlu susah-susah mencari buku dengan melihat judul-judulnya satu per satu. Tinggal tulis apa yang kita cari di komputer yang sudah terhubung dengan internet maka informasi yang kita cari akan muncul dengan sendirinya. Wah! Aku jadi penasaran loh! Bagaimana dengan kalian?
Author Pov
Setelah berkutat di perpustakaan selama kurang lebih satu jam, Nia dan teman-temannya memutuskan untuk pulang. Kebetulan tugas mereka juga sudah selesai.
“Nur, aku duluan ya, keburu sore entar dicariin sama emak sama bapak.”, pamit Nia kepada Nur.
“Iya, Nia. Aku mau mampir ke warung Mbak Ti dulu mau beli camilan. Sampai ketemu besok ya!”, balas Nur sambil berlalu menuju warung Mbak Ti yang terkenal dengan berbagai menu camilan dan es nya.
TBC
Halo teman-teman! Miss Chocho is back! Maunya hiatus dulu sampai TA kelar eh ternyata tangan gatel pengen update hehe... masih ada yang nungguin Nia kah? Bagi yang masih setia menunggu aku ucapkan terima kasih banyak. Oh iya sama teman-teman baru yang sudi mampir ke lapak abal-abalku ini makasih juga ya, aku usahakan di waktu senggangku buat mampir balik ke cerita kalian.
__ADS_1
Oke, sekian dari Miss Chocho. Happy reading and jangan lupa vomentnya ya... Thanks a lot! 😘😘😘